Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Nasionalisme dalam Sepakbola Menurut Teori Filsafat Permainan

📅 Minggu, 22 Des 2024, 10:27 WIB | Oleh: Tim Penulis

Artinya, sepak bola adalah simulasi nasionalisme yang softcore (ringan) sementara perang adalah simulasi hardcore (keras) dari nasionalisme.

Nasionalisme ringan ini sering disebut juga nasionalisme banal. Namun, karena istilah “banal” bermakna negatif kepura-puraan dan dangkal, istilah everyday nationalism (nasionalisme sehari-hari) terasa lebih pas untuk menggambarkan ruang simulasi ringan—seperti sepak bola—dalam merawat harapan dan rasa memiliki sebagai bangsa. Meskipun ringan, ruang simulasi ini tetap bermanfaat untuk merawat nasionalisme.

Ritual merawat nasionalisme

Unsur ritual berkaitan erat dengan permainan sehingga muncul istilah ritual permainan (playful ritual) atau permainan ritual _(ritualized play).

Di dalam pertandingan sepak bola, terutama tim nasional (timnas), ritual tersebut mewujud dalam bentuk lagu kebangsaan, kostum, atribut, maupun simbol-simbol negara yang lain.

Sepak bola menjadi ritual untuk membangkitkan relasi yang lebih intens dengan simbol-simbol tersebut.

Merawat nasionalisme tidak cukup hanya mengandalkan kalkulasi rasional, tetapi juga membutuhkan momen sentimental. Sepak bola menawarkan momen sentimental untuk mensimulasikan harapan dan sentimen ikatan kolektif sebagai sebuah bangsa. Rasa haru, kebanggaan dan tetesan air mata ketika mendengarkan lagu kebangsaan adalah momen sentimental yang terjadi di lapangan pertandingan.

Artinya, sepak bola tidak sebatas permainan di atas lapangan hijau semata. Melainkan sebuah permainan yang mengandung konteks kultural lebih luas. Timnas tak ubahnya ruang simulasi untuk menyatukan etnis, agama, dan pilihan politik di dalam satu ikatan kolektif. Sehingga, kemenangan timnnas dapat membangkitkan rasa kebanggaan dan memperkuat ikatan kolektif sebagai bangsa, bahkan ketika bangsa tersebut sedang mengalami keterpurukan atau krisis.

Tak heran, meski hanya menawarkan nasionalisme ringan, sepak bola tetap dirayakan sedemikian rupa. Pertandingan timnas selalu menjadi topik yang trending dalam perbincangan masyarakat dari berbagai kalangan. Ini tak hanya membuktikan bahwa sepak bola adalah salah satu fenomena nasionalisme sehari-hari, tapi juga menegaskan peran sepak bola sebagai ruang simulasi dari narasi-narasi besar, termasuk nasionalisme.The Conversation

Martinus Ariya Seta, Dosen, Universitas Sanata Dharma

Artikel ini terbit pertama kali di The Conversation. Baca artikel sumber.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
gaia musik festival

Nasional
BMKG Keluarkan Peringatan D...
Megapolitan
Polisi Gelar Rekayasa Lalin...

Piala AFF 2026: Laga Penentu Grup A, Vietnam Tak Punya Pilihan Selain Menang atas Indonesia

Piala AFF 2026: Laga Penentu Grup A, Vietnam Tak Punya Pilihan Selain Menang atas Indonesia

03 Aug 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.