Thailand Desak Myanmar Bebaskan Nelayan yang Ditahan
📅 Selasa, 03 Des 2024, 02:59 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: AFP/Royal Thai Navy's Third Naval Area Command
BANGKOK - Thailand pada Senin (2/12) memanggil duta besar Myanmar dan menuntut pembebasan empat nelayan Thailand yang ditahan setelah Angkatan Laut Myanmar menembaki kapal Thailand di dekat perbatasan mereka, yang mengakibatkan tewasnya seorang nelayan dan dua lainnya terluka, kata seorang pejabat Thailand.
Thailand dan Myanmar memiliki beberapa wilayah sengketa di perbatasan darat mereka yang panjang serta di perbatasan maritim mereka di Laut Andaman, di lepas pantai selatan Myanmar dan barat daya Thailand.
Sebelumnya dilaporkan bahwa sebuah kapal Angkatan Laut Myanmar pada Sabtu (30/11) dini hari menembaki tiga kapal nelayan Thailand dan seorang nelayan tenggelam ketika dia melompat ke laut dalam kekacauan tersebut dan dua lainnya terluka, kata juru bicara Angkatan Laut Thailand, Laksamana Madya Pasukri Wilairak, kepada para wartawan.
“Angkatan Laut Myanmar menyita salah satu kapal, Sor Charoenchai 8, dan awaknya, sementara dua lainnya berhasil melarikan diri,” ucap Wilairak.
“Mereka menembak tanpa pandang bulu,” kata Sripetch Buttat, 44 tahun, nakhoda salah satu kapal Thailand, Mahalap Thanawat 4, kepada saluran televisi Thailand. Dalam insiden ini Sripetch mengalami luka di bagian kepala yang tampaknya akibat peluru yang menyerempetnya.
Sebaiknya Anda baca juga:
Selain Sripetch, korban luka lainnya adalah salah satu krunya yang terkena sengatan listrik. Sedangkan pria yang tewas karena tenggelam akibat melompat ke laut adalah ABK dari kapal Thailand kedua yang berhasil lolos dari bentrokan, kata juru bicara angkatan laut.
Wakil Perdana Menteri Thailand Phumtham Wechayachai, yang juga menjabat sebagai menteri pertahanan, mengatakan bahwa duta besar Myanmar telah dipanggil untuk berdiskusi dan Thailand mengupayakan agar empat awak kapal Thailand dapat segera dikembalikan dari kapal yang disita.
“Saat ini, kami sedang berusaha mengkoordinasikan pemulangan empat warga negara Thailand. Mereka harus mengembalikannya kepada kami,” kata Phumtham, seraya menambahkan bahwa Myanmar dapat berurusan dengan awak kapal Myanmar yang berada di kapal Thailand yang disita.
Sebaiknya Anda baca juga:
Phumtham menjelaskan bahwa masih belum jelas apakah kapal-kapal Thailand tersebut benar-benar masuk ke perairan Myanmar ketika Angkatan Laut Myanmar menembaki mereka.
“Pada titik ini, masih belum jelas apakah kami benar-benar melanggar batas atau tidak, dan kapal-kapal yang dimaksud adalah kapal nelayan, bukan kapal bersenjata,” ucap Phumtham seraya menyatakan bahwa tanggapan oleh Angkatan Laut Myanmar dinilai sangat berlebihan.
Sementara itu para pejabat di Komando Armada Angkatan Laut Ketiga Thailand melaporkan bahwa rekan-rekan mereka di Myanmar mengatakan bahwa kapal-kapal Thailand telah masuk hingga 9 kilometer ke dalam perairan Myanmar. “Para awak kapal yang ditahan kini mendekam di Pulau Zadetkyi, Myanmar,” kata mereka.
Bukan yang Pertama
Ini bukanlah insiden pertama di wilayah yang disengketakan dalam beberapa tahun terakhir. Pada tahun 2020, Myanmar menahan sebuah kapal nelayan Thailand yang membawa 20 turis Thailand dan Tiongkok, dengan alasan kapal tersebut memasuki perairan Myanmar secara ilegal. Myanmar menahan para turis tersebut selama satu bulan sebelum akhirnya mereka dibebaskan setelah negosiasi.
Phumtham mengatakan bahwa kedua negara harus menyelesaikan perselisihan mereka melalui jalur diplomatik.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!