Daya Saing RI Sangat Lemah dalam Perdagangan Dunia
📅 Sabtu, 23 Nov 2024, 01:15 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Doc: Sumber: World Trade Organization
JAKARTA– Ekspor Indonesia dalam beberapa waktu terakhir masih menunjukkan pertumbuhan meskipun tumbuhnya semakin melambat. Badan Pusat Statistik mencatat nilai ekspor Indonesia pada Oktober 2024 mencapai 24,41 miliar dollar Amerika Serikat (AS) atau naik 10,69 persen dibanding ekspor September 2024. Jika dibanding dengan Oktober 2023, nilai ekspor naik sebesar 10,25 persen.
Secara kumulatif, nilai ekspor Indonesia tahun berjalan atau periode Januari hingga Oktober 2024 mencapai 217,24 miliar dollar AS atau naik 1,33 persen dibanding periode yang sama tahun 2023. Sejalan dengan total ekspor, nilai ekspor nonmigas yang mencapai 204,21 miliar dollar AS atau juga naik 1,48 persen.
Meskipun tumbuh, namun dibanding dengan nilai ekspor negara-negara lain, khususnya negara-negara eksportir terbesar di dunia, posisi Indonesia sangat tertinggal. Berdasarkan data Organisasi Perdagangan Dunia atau World Trade Organization (WTO) tahun 2023, Indonesia berada di peringkat 28 dengan nilai ekspor sebesar 259 miliar dollar AS.
Dengan nilai ekspor itu, pangsa pasar global produk ekspor Indonesia hanya 1,1 persen, tertinggal dibanding negara-negara Asia Tenggara lainnya seperti Singapura di peringkat 15 dengan nilai ekspor 476 miliar dollar AS dengan pangsa pasar 2 persen.
RI juga kalah dari Vietnam, Malaysia, dan Thailand yang masing-masing bertengger di peringkat 23,26 dan 27 dengan pangsa pasar ekspor berturut-turut 1,5 dan 1,3 serta 1,2 persen.
Sebaiknya Anda baca juga:
Guru Besar bidang Ilmu Akuntansi Forensik Sektor Publik dari Universitas Negeri Surabaya (Unesa) sekaligus Ketua Asosiasi Dosen Akuntansi Sektor Publik (APSAE), Dian Anita Nuswantara, yang diminta pendapatnya, mengatakan daya saing Indonesi dalam perdagangan global sangat lemah sehingga berada di urutan bawah. Sebab itu, pemerintah bersama segenap stakeholders harus melakukan perbaikan daya saing.
“Salah satu problem negara dengan populasi penduduk yang sangat besar adalah lapangan kerja. Sebenarnya ekspor dapat menjadi jalan keluar sebagai solusi penciptaan lapangan kerja. Ekspor juga menarik bagi investor. Dengan ekspor yang tinggi, investment opportunity set-nya juga tinggi. Efeknya, lapangan kerja,” papar Dian.
Menurut Dian, ekspor butuh regulasi yang mendukung. Regulasi yang mendukung daya saing dan menciptakan iklim berusaha yang sehat,termasuk memberikan kepastian hukum, menurunkan tingkat inefisiensi, dan ekonomi biaya tinggi.
Sebaiknya Anda baca juga:
“Regulasi saja tidak cukup. Sementara dari sisi manusia, masyarakat terdidik perguruan tinggi kita baru sekitar 10 persen atau bahkan kurang dari itu. Sementara lulusan SMA dan SMK/MA juga kurang dari 30 persen populasi. Itulah penyebab daya saing kita lemah dibandingkan tetangga karena IPM-nya juga rendah,” ungkap Dian.
Dalam kesempatan lain, Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios), Bhima Yudisthira, mengatakan kinerja ekspor Indonesia lebih rendah dari Vietnam karena dari segi struktur ekspor Indonesia masih didominasi olahan primer komoditas.Sementara Vietnam sebagian besar ekspornya adalah barang elektronik, kendaraan termasuk EV (electric vehicle) hingga komponen energi terbarukan.
“Kalaupun Vietnam punya komoditas perikanan, mereka ekspor sudah di packaging dengan baik dan diolah sehingga nilai ekspornya tinggi,” kata Bhima.
Faktor lain, jelas Bhima, adalah biaya bisnis yang lebih mahal. ICOR (Incremental Capital Output Ratio) Vietnam 4,6 sementara Indonesia diatas 6.Artinya dibutuhkan investasi yang lebih besar di Indonesia untuk mendapat output yang sama dengan di Vietnam.
“Belum lagi jika menilik persepsi korupsi Indonesia skornya juga lebih rendah dibanding negara Asean lain,” kata Bhima.
Tantangan lainnya adalah regulasi yang suka gonta ganti,ikut menambah kebingungan pelaku usaha.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!