Belajar dari Australia, Indonesia Perlu Serius Cegah Penyebaran Wabah Penyakit Menular
📅 Minggu, 10 Nov 2024, 14:40 WIB | Oleh: Tim Penulis2. Meningkatkan sistem pengawasan genomik
Saat ini, teknologi yang dimiliki oleh Biomedical and Genome Science Initiative (BGSi) Kemenkes berperan penting memperkuat kapasitas Indonesia dalam mencegah dan mengendalikan wabah penyakit lewat sistem pengawasan genomik. BGSi mengintegrasikan platform pengawasan genomik ke dalam layanan kesehatan guna memajukan kapasitas diagnostik penyakit yang lebih presisi.
Salah satu prioritas utama BGSi adalah pengendalian penyakit menular, termasuk tuberkulosis dan penyakit lainnya. Ini dilakukan melalui pengawasan genomik dengan pendekatan berbasis patogen dan genom patogen target.
Selain itu, BGSi juga berfokus pada peningkatan tes diagnostik dan pengobatan penyakit tidak menular, seperti kanker, diabetes, dan stroke–salah satu penyebab utama kematian di Indonesia. Melalui pengembangan teknologi pengawasan genomik mutakhir, BGSi juga memperkuat kemampuan diagnostik penyakit langka.
Sebaiknya Anda baca juga:
Dengan mengintegrasikan data genomik ke dalam sistem pengawasan kesehatan, BGSi tidak hanya membantu pendeteksian dini penyakit menular, tetapi juga menyediakan data yang bisa meningkatkan respons pemerintah dalam menangani ancaman wabah yang akan muncul.
3. Memperbanyak penelitian
Langkah pencegahan wabah penyakit juga dilakukan lewat bidang penelitian. Tim peneliti dari Lembaga Penyakit Tropis (LPT) Universitas Airlangga (UNAIR) misalnya, meriset evolusi dan pola transmisi Human immunodeficiency virus (HIV) galur CRF01_AE–strain paling umum di Indonesia. Hal ini bertujuan untuk menangani peningkatan kasus HIV/AIDS di tanah air.
Sebaiknya Anda baca juga:
Hasil penelitian ini turut membantu pengembangan Indonesia Database For Genomic Information (INDAGI)–sebuah pangkalan data real-time untuk memantau mutasi dan pola penyebaran HIV–yang keberadaannya juga bertujuan untuk meningkatkan kesadaran dan upaya pencegahan penyakit di masyarakat.
Dalam penelitian tersebut, disertakan pula hasil analisis yang merekomendasikan pentingnya pengujian resistansi obat terapi HIV, antiretroviral dalam pengendalian penyakit tersebut. Hasil penelitian ini akan diserahkan kepada Kemenkes sebagai kontribusi UNAIR dalam kebijakan kesehatan.
Yang perlu dilakukan selanjutnya
Persiapan Indonesia dalam menghadapi ancaman wabah di masa mendatang jauh lebih baik karena adanya upaya penguatan pengawasan penyakit, kolaborasi lintas sektor, dan penelitian berbasis genom yang lebih luas. Namun, langkah-langkah pencegahan ini harus diterapkan di lapangan secara cepat dan efektif, guna memutus rantai penyebaran penyakit dan mencegah masuknya varian baru.
Dalam kasus flu burung misalnya, pemerintah perlu segera menggandeng ilmuwan untuk melakukan penelitian berkelanjutan terhadap virus yang menjangkiti unggas dan burung migrasi. Ini bertujuan untuk mengidentifikasi area yang berisiko tinggi tersebar virus dan mengembangkan strategi penanganannya (mitigasi).
Analisis genetik pada H5N1 juga perlu dilakukan untuk lebih memahami mutasi dan pola penyebaran virus. Hal ini akan mendukung pengembangan vaksin yang lebih efektif dalam melawan varian baru flu burung.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!