Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Kebun Teh Cisaruni, Jejak Keemasan Perkebunan Belanda di “Swiss van Java”

📅 Sabtu, 09 Nov 2024, 06:10 WIB | Oleh:

Teh yang dihasilkan antara lain adalah teh hitam orthodox yang terkenal di pasar dunia. Saat Jepang berkuasa di NKRI, kebun ini sempat tidak terurus dan ditanami kentang, jagung serta sayur-mayur. Setelah kemerdekaan Indonesia, kebun Cisaruni ditata kembali oleh pemerintah Indonesia. Kebun ini sempat dibumihanguskan oleh pribumi saat Belanda kembali memasuki wilayah Indonesia tahun 1947.

Pada 27 Desember 1957 pemerintah Indonesia kembali mengambil alih perkebunan Cisaruni, kali ini dari perusahaan Belanda, Fawatering und Loeber. Setelah pengambilalihan tersebut, perkebunan Cisaruni digabung dengan perkebunan Giriawas. Sampai saat ini kebun Cisaruni masih dipelihara dengan baik, memproduksi teh orthodoks dan teh hijau yang diekspor ke Jepang.

Menurut catatan sejarah, dalam sekali melakukan ekspor biasanya Perkebunan Teh Cisaruni akan mengirimkan 12 ton teh hitam ke Batavia untuk dikirim ke luar negeri seperti Malaysia dan Jerman. Selain tanaman teh yang subur, perkebunan ini memiliki pemandangan alam yang indah.

Area Fasilitas

Untuk mengenangnya jasa KF Holle, di sini berdiri tugu dengan relief wajah dirinya di wilayah strategis di dekat depan kantor perkebunan. Di tugu ini tertulis Hij sprak het Soedanees als een Soendanees yang artinya “Dia berbicara bahasa sunda seperti orang sunda.”

Tugu ini sebagai sebuah penghargaan yang diberikan oleh masyarakat Garut kepada Holle atas jasanya dalam membangun perkebunan teh dan memberdayakan masyarakat di sana, dengan memberi pendidikan dan pengetahuan cara bercocok tanam dengan lebih baik.

Saat ini Perkebunan Teh Giriawas menjadi salah satu objek wisata yang dikunjungi para pelancong yang mengunjungi Kabupaten Garut. Selain area perkebunan teh, terdapat pula Area fasilitas bermain dan istirahat yang dapat dimanfaatkan oleh para wisatawan.

Hamparan pohon teh yang hijau dan luas menciptakan sebuah pesona keindahan alam yang menenangkan. Selain itu terdapat juga air terjun yang diberi nama Curug Darwin yang letaknya masih di dalam area Perkebunan Teh Giriawas.

Harga tiket masuk ke Perkebunan Teh Giriawas sangat terjangkau, bahkan gratis, hanya perlu membayar biaya parkir 2.000 untuk sepeda motor hingga 5.000 untuk kendaraan roda empat. Kebijakan ini membuatnya menjadi tempat liburan yang ramah kantong. hay/I-1

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Ekonomi
BI: Cadangan Devisa Indones...
Ekonomi
Lewat Kreativitas, Festival...
Nasional
Wamenekraf Dorong Inovasi J...
Daerah
KAI: Penumpang KA Ciremai S...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
BMKG Catat Tsunami Tertinggi Terjadi di Talengan-Sangihe, Sulut

BMKG Catat Tsunami Tertinggi Terjadi di Talengan-Sangihe, Sulut

08 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.