Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Kebun Teh Cisaruni, Jejak Keemasan Perkebunan Belanda di “Swiss van Java”

📅 Sabtu, 09 Nov 2024, 06:10 WIB | Oleh:
Kebun Teh Cisaruni, Jejak Keemasan Perkebunan Belanda di “Swiss van Java” Doc: ANTARA/Candra Yanuarsyah/agr

Garut dikenal dengan sebagai wilayah yang dijadikan sebagai pusat perkebunan pada zaman Hindia Belanda. Kala itu teh, kina, dan kopi menjadi komoditas andalan yang dihasilkan dari bumi Priangan timur ini.

1731075921_ff61112998f762abed25.jpg

Pemerintah kolonial Belanda menjadikan Garut sebagai pusat perkebunan berkat adanya kebijakan Preanger Reorganisatie (Reorganisasi Priangan) pada tahun 1871. Salah satu tujuan dari keluarnya reorganisasi tersebut untuk memelihara keamanan dan kesehatan.

Tetapi di saat yang bersamaan dengan kebijakan itu pemerintahan Belanda di Garut mulai menerapkan liberalisasi di bidang ekonomi. Dengan peluang keuntungan yang besar, banyak perusahaan swasta menanam investasi di bidang perkebunan karena kemudahan dalam penanaman modal.

Investasi yang ditanamkan oleh perusahaan swasta Belanda pada 1880-an kebanyakan di bidang perkebunan. Ketika perkebunan teh mulai menghasilkan salah satu tantangannya adalah bagaimana cara membawa hasil bumi dalam jumlah besar ini untuk diekspor dengan alat transportasi yang efektif dan efisien.

Oleh karenanya, pemerintah kolonial Belanda juga membangun infrastruktur jalan raya dan jalur kereta. Pembangunan dari Garut hingga Cikajang dimulai pada tahun 1889 oleh perusahaan Staatsspoorwegen. Jalur yang sayangnya saat ini dalam kondisi nonaktif ini membentang dari utara ke selatan sejauh 28 kilometer.

Namun adanya jalur transportasi berupa rel kereta dari Cibatu-Garut-Cikajang sejuah 47 kilometer menjadikan Garut sebagai tujuan wisata baru kala itu. Pemandangan berbagai gunung seperti Cikuray, Papandayan, Guntur, Sagara, Huraman, Sadahurip, Putrid dan Wayang menjadikannya dijuluki Swiss van Java.

Dengan banyaknya orang-orang Eropa yang ke Garut dengan menggunakan kereta, maka pada akhirnya dibangunlah hotel-hotel untuk menampung wisatawan yang datang untuk berwisata bermunculan. Fasilitas ini disebut dengan Berghotel atau hotel-hotel pegunungan, sesuatu yang baru bagi orang Belanda yang negaranya memiliki wilayah cenderung datar.

Pembangunan hotel di Garut dimulai dari 1890 hingga 1942 dalam dua periode. Periode pertama itu erat kaitannya dengan perbukitan dan kegiatan pariwisata domestik. Periode kedua erat kaitannya dengan munculnya hotel modern karena wisatawan semakin membludak.

Dengan udara yang sejuk dan cenderung dingin di malam hari, Garut saat itu menjadi wilayah pemulihan orang Eropa yang baru sampai di Hindia Belanda. Pemulihan ini juga dilakukan untuk penyembuhan dari penyakit yang datang akibat perbedaan cuaca dengan membangun sanatorium.

Salah satu yang menarik pada zaman itu adalah Perkebunan Teh Giriawas atau dikenal juga sebagai Perkebunan Teh Cisaruni yang terletak di Desa Giriawas, Kecamatan Cikajang. Perkebunan teh Cisaruni atau Giriawas, sebenarnya merupakan gabungan 2 kebun teh dengan nama masing-masing yang terpisah, sehingga ada dua penyebutan tersebut.

Berada di lereng Gunung Papandayan dan Gunung Cikuray perkebunan ini berada pada ketinggian antara 1230 hingga 1640 meter di atas permukaan laut (mdpl). Destinasi ini menawarkan pemandangan yang sangat indah sejauh mata memandang dengan udara yang sejuk. Dengan luas 5.039 hektare, lokasi ini cocok untuk dijadikan tempat melepas kepenatan di akhir pekan.

Para pengunjung bisa berfoto-foto di area kebun teh yang hijau. Menjelajahi perkebunan teh yang memiliki ketinggian berbeda adalah tantangan sekaligus kenikmatan. Dari atas ketinggian ini dapat melihat pemandangan gunung di arah timur laut dan Gunung Papandayan di barat laut.

Perkebunan Teh Cisaruni tidak lepas dari sosok bernama Karel Frederick (KF) Holle. Pada tahun 1829 ia mendirikan perkebunan yang sekarang dimiliki oleh PTPN VIII. Awalnya lahan yang ada diperuntukkan untuk tanaman kopi dan tebu, dan kina. Ternyata tanaman-tanaman tersebut tidak sesuai dengan iklim di lokasi itu sehingga diganti dengan tanaman teh.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Ekonomi
BI: Cadangan Devisa Indones...
Ekonomi
Lewat Kreativitas, Festival...
Nasional
Wamenekraf Dorong Inovasi J...
Daerah
KAI: Penumpang KA Ciremai S...
Daerah
KAI: Pelanggan KA Makassar-...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
BMKG Catat Tsunami Tertinggi Terjadi di Talengan-Sangihe, Sulut

BMKG Catat Tsunami Tertinggi Terjadi di Talengan-Sangihe, Sulut

08 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.