Ekonomi Bisa Tumbuh 8 Persen jika Reformasi Struktural Dilaksanakan
📅 Sabtu, 02 Nov 2024, 00:04 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Doc: Sumber: IMF
WASHINGTON - Dana Moneter Internasional atau International Monetary Fund (IMF), pekan lalu, mengatakan pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia hanya 5 persen untuk tahun ini dan 5,1 persen untuk tahun depan. Dalam laporan Prospek Ekonomi Regional Departemen Asia dan Pasifik, IMF mengatakan fragmentasi perdagangan, khususnya perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok akan berdampak serius bagi Indonesia.
"Risiko penurunan nilai tukar mata uang dan pasar keuangan tinggi," kata Wakil Direktur, Departemen Asia dan Pasifik IMF, Thomas Helbling. Menurut Helbling, Indonesia telah menikmati dan diproyeksikan akan terus menikmati pertumbuhan yang kuat dan pesat sekitar 5 persen. Dalam hal angka-angka tertentu, tahun ini saja diperkirakan akan mencapai 5 persen dan tahun depan bisa 5,1 persen dengan memperhitungkan risiko eksternal.
"Saya pikir risiko tersebut sangat mirip untuk Indonesia seperti halnya untuk negara-negara lain di kawasan Asia Pasifik. Kekhawatiran penting adalah meningkatnya fragmentasi perdagangan. Yang mungkin sedikit berbeda untuk Indonesia adalah hal ini akan lebih banyak terjadi melalui jalur pasar komoditas daripada hanya melalui jalur manufaktur seperti di negara lain," katanya. "Namun, fragmentasi perdagangan merupakan risiko besar.
Dan untuk kawasan pasar berkembang lainnya di Asia Pasifik atau di tempat lain, kemungkinan pergeseran ekspektasi kebijakan moneter, peningkatan volatilitas pasar keuangan juga menimbulkan beberapa risiko penurunan," ungkap Helbling. Sementara itu, Krishna Srinivasan, Direktur Departemen Asia dan Pasifik IMF, menuturkan dengan memburuknya neraca fiskal selama pandemi, utang publik meningkat rata-rata di negara-negara Kepulauan Pasifik.
Namun, di sebagian besar negara, utang kini telah stabil atau menurun relatif terhadap ukuran ekonomi. Dengan demikian, tujuh dari 12 negara di Kepulauan Pasifik dianggap berisiko tinggi mengalami kesulitan utang dan hanya sekitar 5 yang dianggap berisiko sedang mengalami kesulitan utang. Jadi, ini terkait dengan fakta bahwa perlu ada konsolidasi fiskal yang mendukung pertumbuhan untuk menurunkan utang di negara-negara ini.
Sebaiknya Anda baca juga:
Secara detail, Krishna menyoroti prospek ekonomi Tiongkok yang aktivitasnya telah melambat sejak kuartal pertama. "Akibatnya, kami telah menurunkan pertumbuhan menjadi 4,8 persen pada tahun 2024 dibandingkan dengan 5 persen dalam pembaruan WEO bulan Juli. Secara khusus, sektor properti terus memburuk dan membebani investasi, sementara konsumsi swasta juga melemah di tengah rendahnya keyakinan konsumen," katanya.
Permintaan Tiongkok yang lemah memicu tekanan disinflasi yang berkelanjutan seperti yang ditunjukkan di sisi kanan inflasi inti turun menjadi 0,1 persen tahun-ke-tahun pada bulan September. Beberapa perkembangan telah terjadi sejak lembaga tersebut menyelesaikan perkiraan Tiongkok.
Data kuartal III-2024 sedikit lebih lemah dari yang diharapkan. Pada saat yang sama, otoritas mengumumkan langkah-langkah fiskal dan perumahan tambahan yang dapat memberikan beberapa potensi kenaikan pada proyeksi pertumbuhan, terutama pada tahun 2025 ketika langkah-langkah kebijakan kemungkinan akan berlaku.
Sebaiknya Anda baca juga:
"Lingkungan eksternal tetap sulit. Jika kita kembali ke kawasan yang lebih luas, lingkungan tempat para pembuat kebijakan Asia akan lebih sulit bertindak karena risiko terhadap prospek kini condong ke arah negatif. Misalnya, ada tanda-tanda awal bahwa permintaan global dapat melemah, termasuk dari Amerika Serikat, yang akan menjadi berita buruk bagi kawasan yang bergantung pada ekspor seperti Asia. Lemahnya permintaan domestik Tiongkok juga terus membebani kawasan yang lebih luas," katanya.

Tidak Realistis
Menanggapi proyeksi IMF itu, pengamat ekonomi dari STIE YKP Yogyakarta, Aditya Hera Nurmoko, mengatakan IMF hanya memperkirakan ekonomi Indonesia tahun depan tumbuh 5,1 persen. Proyeksi tersebut selisihnya sangat jauh dengan banyak perkiraan terutama dari pendukung pemerintah yang mencanangkan pertumbuhan 7-8 persen beberapa tahun mendatang.
Meskipun oleh beberapa kalangan dinilai tidak realistis, namun target pertumbuhan 7-8 persen bisa saja dicapai dengan tujuh langkah reformasi struktural yang harus diterapkan, antara lain mengurangi kebergantungan pada pangan dan energi yang diimpor, mereformasi kebijakan fiskal dengan moratorium utang terutama obligasi rekap BLBI yang membebani APBN, serta memberi kepastian hukum kepada para investor.
"Kalau target pertumbuhan ekonomi harus dipacu ke level 7-8 persen, artinya sama dengan "terbang" dari yang realistis di level 5 persen. Kalau mau "terbang" harus punya sayap atau reformasi hukum. Kalau reformasi hukum tidak dilaksanakan maka mustahil bisa menarik investor yang bisa mewujudkan target yang ambisius itu," kata Aditya. Dari catatan IMF, kata Aditya, juga menunjukkan kalau ekonomi Indonesia masih sangat bergantung pada ekspor komoditas, sementara manufaktur terus melambat.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!