Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Indonesia Akan Tanggapi Insiden Laut Tiongkok Selatan Secara Proporsional

📅 Jumat, 01 Nov 2024, 00:05 WIB | Oleh:
Indonesia Akan Tanggapi Insiden Laut Tiongkok Selatan Secara Proporsional Doc: istimewa
Ket. Sebuah kapal penjaga pantai Tiongkok berlayar di perairan Natuna Utara, Indonesia, di Laut Tiongkok Selatan pada 25 Oktober 2024.

JAKARTA - Posisi Indonesia di Laut Tiongkok Selatan tetap tidak berubah dan akan menanggapi dengan tepat insiden kapal penjaga pantai Tiongkok yang mengganggu survei yang dilakukan oleh kapal Pertamina, baru-baru ini.

Dikutip dari The Straits Times, Indonesia mengatakan minggu lalu telah mengusir kapal penjaga pantai Tiongkok sebanyak tiga kali hanya dalam beberapa hari setelah kehadirannya di perairan lebih dari 1.500 kilometer dari daratan Tiongkok tersebut.

Beijing telah mengklaim kedaulatan atas hampir seluruh Laut Tiongkok Selatan, yang ditegaskannya melalui armada kapal penjaga pantai, beberapa di antaranya dituduh oleh negara-negara tetangganya melakukan perilaku agresif dan mencoba mengganggu kegiatan energi dan perikanan.

"Terkait Laut Tiongkok Selatan, tidak ada yang berubah dari pemerintah Indonesia. Kami akan melakukan apa yang seharusnya," kata Juru bicara Kementerian Luar Negeri, Roy Soemirat, Kamis (31/10), dalam jumpa pers, saat ditanya apakah penolakan kapal Tiongkok itu merupakan tanda bahwa Presiden baru Prabowo Subianto akan lebih tegas dalam membela kedaulatan Indonesia.

"Kami sedang mencari konfirmasi dan bertukar informasi. Dinamika di lapangan akan melibatkan banyak pihak," katanya.

Sementara kapal penjaga pantai Tiongkok telah terlihat berkali-kali berkeliaran di zona ekonomi eksklusif (ZEE) Indonesia, insiden terbaru terjadi hanya beberapa hari setelah Prabowo menjabat.

Kementerian Luar Negeri Tiongkok minggu lalu mengatakan penjaga pantainya melakukan lintas rutin "di perairan di bawah yurisdiksi Tiongkok" dan bersedia bekerja sama dengan Indonesia untuk menangani insiden dengan tepat.

Tiongkok biasanya mengatakan penjaga pantainya beroperasi secara sah dan profesional untuk mencegah pelanggaran di perairannya.

Pengadilan Arbitrase Permanen di Den Haag pada tahun 2016 mengatakan klaim kedaulatan Tiongkok tidak memiliki dasar berdasarkan hukum internasional, sebuah keputusan yang tidak diakui Beijing.

Sementara Beijing sering berselisih dengan Filipina di Laut Tiongkok Selatan dan berselisih dengan Vietnam dan Malaysia, perselisihan dengan Indonesia jarang terjadi.

Pada tahun 2021, kapal-kapal dari Indonesia dan Tiongkok saling membayangi selama berbulan-bulan di dekat anjungan minyak selam yang tengah melakukan penilaian sumur di Laut Natuna. Tiongkok saat itu mendesak Indonesia untuk menghentikan pengeboran di wilayahnya.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
jakartafair2026

Luar Negeri
60 Persen Lebih Warga Inggr...
Ada Event Lari Lintas Alam, Jalur Pendakian Gunung Gede Pangrango Ditutup Seminggu

Ada Event Lari Lintas Alam, Jalur Pendakian Gunung Gede Pangrango Ditutup Seminggu

23 Jun 2026
Pilihan Pembaca
# 8
Menanti laporan MSCI, 23 Juni 2026
📅 Selasa, 23-Jun-2026
# 8
Menanti laporan MSCI, 23 Juni 2026
📅 Selasa, 23-Jun-2026
Menanti laporan MSCI, 23 Juni 2026
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.