Bilingualisme Membuat Konektivitas Otak Lebih Efisien
📅 Senin, 21 Okt 2024, 06:10 WIB | Oleh: Ilham Sudrajat
Doc: afp/ Karen MINASYAN
Sebuah studi terkini menguraikan peran dwibahasa dalam kognisi, yang menunjukkan peningkatan efisiensi komunikasi di antara daerah-daerah otak.
Neuroplastisitas adalah kemampuan otak untuk membangun koneksi di dalam dirinya sendiri, beradaptasi dengan lingkungan sekitarnya. Otak paling plastis di masa kanak-kanak, membentuk jalur baru sebagai reaksi terhadap rangsangan seperti bahasa.
Penelitian terdahulu telah menunjukkan bahwa mempelajari bahasa kedua (dwibahasa) dapat berdampak positif pada perhatian, penuaan yang sehat, dan bahkan pemulihan setelah cedera otak.
Sebuah studi terkini dari The Neuro (Montreal Neurological Institute-Hospital) dari McGill University, University of Ottawa, Kanada, dan University of Zaragoza di Spanyol menguraikan peran dwibahasa dalam kognisi yang menunjukkan peningkatan efisiensi komunikasi antara wilayah otak.
Penelitian ini sendiri didanai dengan dukungan dari Dewan Penelitian Ilmu Pengetahuan Alam dan Teknik Kanada, Yayasan Keluarga Blema dan Arnold Steinberg, Pusat Penelitian Otak, Bahasa, dan Musik melalui Fonds de Recherche du Québec, Brain Canada, program Ketua Penelitian Kanada, program NextGeneration Uni Eropa, dan Program Margarita Salas dari Kementerian Universitas Spanyol.
Sebaiknya Anda baca juga:
Penelitian sebelumnya yang diterbitkan dalam Jurnal Neurolinguistik menunjukkan bahwa bilingual menunjukkan konektivitas yang lebih tinggi antara area pemrosesan visual yang terletak di bagian belakang otak, area yang terspesialisasi dalam mendeteksi karakteristik visual objek.
Bilingualisme sendiri adalah kemampuan seseorang untuk menggunakan dua bahasa secara efektif. Sementara monolingualisme adalah kemampuan seseorang untuk menggunakan satu bahasa, sedangkan multilingualisme adalah kemampuan seseorang untuk menggunakan banyak bahasa.
Hasil penelitian dari para peneliti di Université de Montréal dan di Centre de recherche de L'Institut Universitaire de Gériatrie de Montréal menunjukkan bahwa bilingualisme memberikan dua manfaat kognitif dan keuntungan ganda seiring bertambahnya usia.
Pertama, mereka memiliki koneksi fungsional yang lebih terspesialisasi dan tersentralisasi yang menghemat sumber daya dibandingkan dengan area otak yang lebih beragam dan banyak yang digunakan oleh orang yang hanya berbicara satu bahasa untuk menyelesaikan tugas yang sama.
Kedua, orang yang berbicara dua bahasa memperoleh hasil yang sama dengan tidak menggunakan daerah frontal otak yang rentan terhadap penuaan.
Hal ini mungkin menjelaskan mengapa otak orang yang berbicara dua bahasa lebih mampu mencegah tanda-tanda demensia atau penuaan kognitif.
Berdasarkan catatan Multicultural America: A Multimedia Encyclopedia edisi tahun 2013 menyatakan bahwa lebih dari separuh populasi dunia adalah bilingual atau multilingual.
Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa orang bilingual sangat mahir menghemat daya otak tergantung pada tugas yang harus dilakukan. Bilingualisme selama bertahun-tahun mengubah cara otak menjalankan tugas yang membutuhkan konsentrasi pada satu bagian informasi tanpa terganggu oleh informasi lain. Hal itu membuat otak lebih ekonomis dan efisien dengan sumber dayanya serta merekrut lebih sedikit dan hanya area yang terspesialisasi.
Di sisi lain, para bilingual telah menjadi ahli dalam memilih informasi yang relevan dan mengabaikan informasi yang dapat mengganggu tugas karena bertahun-tahun menangani interferensi antara dua bahasa.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!