Italia Menyimpan Ratusan Koleksi Etnografis Indonesia, Haruskah Kita Repatriasi?
📅 Kamis, 17 Okt 2024, 15:50 WIB | Oleh: Tim PenulisPemerintah pilah-pilih
Ketika pemerintah Belanda 'menawarkan' koleksi Museum Nusantara Delft yang ditutup pada 2013, ada 18 ribu koleksi etnografis yang berpotensi dikembalikan. Setelah dikurangi koleksi yang disimpan oleh pemerintah kota Delft (459), sekitar 500 untuk donor dan pemberi pinjaman, dan koleksi pemerintah Belanda (3194), mereka menawarkan sekitar 14.000 koleksi ke pemerintah Indonesia.
Indonesia sempat menyatakan persetujuan melalui Direktur Jenderal Kebudayaan Kacung Marijan pada 2015. Pemerintah bahkan sudah membangun gudang penyimpanan baru di dekat Taman Mini Indonesia Indah.
Namun, posisi Indonesia berubah saat Hilmar Farid menggantikan Kacung pada akhir 2015. Setelah melalui diskusi panjang dan penunjukkan tim repatriasi, Indonesia akhirnya hanya menyetujui pemulangan 1500 objek. Tim berdalih bahwa tidak semua koleksi tersebut signifikan bagi bangsa Indonesia.
Sebaiknya Anda baca juga:
Faktanya, benda-benda budaya yang ditolak Indonesia menjadi rebutan dan dibagikan ke beberapa museum di berbagai negara, mulai dari Belanda (9), Austria (1), Swedia (1), Singapura (1), Malaysia (1) dan Korea Selatan (1).
Dalam konteks penelitian saya, Korea Selatan merupakan destinasi paling menarik. Korea Selatan melalui Asia Culture Center (ACC) di Gwangju menerima 7744 objek budaya Indonesia, termasuk 187 objek etnografis Nias. Saat ini, 400 objek dari koleksi tersebut dipajang di pameran permanen bertajuk "A World Unveiled by Monsoon: Port Cities of Southeast Asia."
Selama ini, upaya repatriasi koleksi Nias lebih banyak dilakukan secara swadaya, tanpa bantuan berarti dari pemerintah. Museum Pusaka Nias, contohnya, terus melakukan upaya repatriasi koleksi Nias. Pada 2007, museum ini menerima kembali koleksi oroba buaya atau baju perang dari kulit buaya dari kolektor privat, disusul pulangnya 30 objek berupa perhiasan dan patung leluhur dari Volkenkunding Museum of Radboud University di Nijmegen, Belanda pada 2009.
Sebaiknya Anda baca juga:
Hasil wawancara dengan pihak museum juga mengonfirmasi bahwa mereka sedang menjajaki pemulangan beberapa benda budaya Nias lain dari Jerman dan Belanda dengan memanfaatkan jaringan gereja.
Masa depan koleksi etnografis Indonesia
Lalu apa yang harus kita lakukan? Apakah semua koleksi etnografis Indonesia di Italia harus kita pulangkan ke tanah air?
Dalam studi lapangan saya ke desa Bawomataluo dan Hilisimaetano, para pelaku budaya dan sejarawan lokal secara umum tidak keberatan dengan keberadaan koleksi Nias di berbagai museum di Eropa. Hanya, mereka merasa bahwa narasi pameran dan representasi koleksi Nias sudah seharusnya melibatkan masyarakat pemilik asli kebudayaan.
Faktanya, baru September 2023 kemarin, setelah saya memulai penelitian di Museum Antropologi dan Etnologi Firenze, mereka mengubah papan informasi keterangan bahwa Pulau Nias berada di Indonesia, bukan Malaysia.
Menurut Geger Riyanto, antropolog dari Universitas Indonesia, terkadang objek budaya justru lebih bermakna jika disimpan oleh masyarakat, bukan di museum. Namun, dalam kasus benda budaya Sakai, apa arti objek tersebut bagi masyarakat Sakai yang sekarang terasing dari lingkungan asli mereka? Jika patung-patung leluhur Nias dikembalikan, apa peran mereka di masyarakat yang sudah 'beragama' saat ini?
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!