Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

AS-Korsel-Jepang Bentuk Tim Pemantau Korut

24 Kamis, 17 Okt 2024, 02:55 WIB | Oleh:
AS-Korsel-Jepang Bentuk Tim Pemantau Korut AS-Korsel-Jepang Bentuk Tim Pemantau Korut Doc: AFP/JUNG YEON-JE
Ket. Pertemuan Trilateral l (Dari kiri) Wamenlu Jepang, Masataka Okano, Wamenlu Korsel, Kim Hong-kyun, dan Wamenlu AS, Kurt Campbell, berfoto bersama saat pertemuan trilateral di kantor Kementerian Luar Negeri Korsel di Seoul pada Rabu (16/10). Pada pertemuan trilateral ini, ke-3 wamenlu mengumumkan terbentuknya tim multinasional baru untuk memantau penegakan sanksi terhadap Korut.

SEOUL - Amerika Serikat (AS), Korea Selatan (Korsel), dan Jepang, pada Rabu (16/10) mengumumkan terbentuknya tim multinasional baru untuk memantau penegakan sanksi terhadap Korea Utara (Korut) setelah Russia dan Tiongkok menggagalkan kegiatan pemantauan di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Mekanisme tersebut, yang diberi nama Tim Pemantauan Sanksi Multilateral, telah diperkenalkan setelah Russia pada Maret lalu menolak perpanjangan tahunan panel ahli PBB yang selama 15 tahun terakhir mengawasi penerapan sanksi yang ditujukan untuk mengekang program nuklir dan misil Korut dimana Tiongkok abstain dari pemungutan suara tersebut.

Tim tersebut dimaksudkan untuk melanjutkan pekerjaan panel PBB, termasuk menerbitkan laporan rutin tentang penegakan sanksi, dan akan melibatkan partisipasi delapan negara lain termasuk Inggris, Prancis, dan Jerman, kata seorang pejabat Korsel.

Pembentukan tim diungkapkan pada konferensi pers bersama di Seoul oleh Wakil Menteri Luar Negeri AS, Kurt Campbell, Wakil Menteri Luar Negeri Korsel, Kim Hong-kyun, dan Wakil Menteri Luar Negeri Jepang, Masataka Okano, bersama duta besar dari delapan negara, menjelang pembicaraan mereka di Seoul.

"Telah banyak diskusi mengenai cara membangun sistem pemantauan efektif yang dapat menggantikan panel PBB, tetapi bahkan selama proses tersebut, kasus-kasus pelanggaran sanksi Korut terus terjadi, jadi kami berpendapat bahwa kami tidak boleh menunda lebih lama lagi dan harus segera mengisi kekosongan tersebut," kata Wamenlu Kim dalam konferensi pers.

Sementara sekutu akan terus mencari cara untuk memulihkan skema PBB, tim terbuka untuk semua negara yang bersedia membantu memastikan penerapan sanksi, imbuh Kim.

Sedangkan Wamenlu Campbell mengatakan hak veto Russia kemungkinan dipengaruhi oleh laporan panel PBB sebelumnya mengenai pengadaan ilegal peralatan militer dan amunisi dari Korut untuk perangnya di Ukraina.

"Potensi ini menjadi upaya besar dalam melacak dan meminta pertanggungjawaban atas langkah-langkah yang diambil Korut dalam berbagai tindakan provokatif adalah nyata," kata Campbell. "Jadi ini adalah langkah besar ke arah yang benar," tegas dia.

Transaksi Ilegal

Washington DC dan Seoul mengatakan Korut dan Russia telah melakukan transaksi militer ilegal. Moskwa dan Pyongyang telah membantah adanya transfer senjata, tetapi telah berjanji untuk meningkatkan hubungan militer dengan mencapai kesepakatan perjanjian pertahanan bersama pada pertemuan puncak di bulan Juni.

Inisiatif itu mungkin tidak memiliki legitimasi internasional yang diberikan kepada operasi yang didukung PBB, tetapi dapat memantau Korut secara lebih efektif, bebas dari upaya Moskwa dan Beijing untuk mengecilkan dugaan penghindaran sanksi Pyongyang di badan dunia itu, kata Ethan Hee-seok Shin, seorang analis hukum di Kelompok Kerja Keadilan Transisi yang berpusat di Seoul. ST/I-1

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Polisi Jambi Tangkap Tiga Pelaku Pembobol Pipa Pertamina
    percayalah pencurian tidak akan terjadi kalau biaya hidup ...
  • Industri Akomodasi Melaju Kencang, Efek Berganda Pariwisata Dinanti
    Membaca data penyerapan tenaga kerja hingga hampir 26 ...
  • Pasar Eropa Terbuka Lewat IEU-CEPA, Industri Tekstil Indonesia Punya Peluang Baru
    Artikel yang sangat mencerahkan. Sepakat dengan pandangan Kadin ...
  • Produksi Kapal Baru RI Melonjak 251 Persen, Menperin: Negara Maritim Jangan Kalah di Laut Sendiri
    Menanggapi lonjakan produksi kapal baru hingga 251 persen ...
  • Bidik Transformasi Industri Indonesia, Danantara Gelar Forum Teknologi dan Investasi Global
    Fokus Danantara pada industrialisasi inovasi dalam forum DTIIF ...
Advertisement
Citilink Flight Sale 231026 Homepage Mobile Atas
Advertisement
Homedec Homepage
Ekonomi
Sebanyak 60 UMKM Ramaikan F...
Nasional
Penyaluran Bantuan Air Bers...
Megapolitan
Lapak Baca Gratis Hadir unt...
pasang iklan di koran jakarta
Advertisement
BMKG Prakirakan Mayoritas Cuaca Kota Besar Indonesia Berawan dan Hujan Ringan Sabtu Ini

BMKG Prakirakan Mayoritas Cuaca Kota Besar Indonesia Berawan dan Hujan Ringan Sabtu Ini

24 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.