Bersua Pesut Mahakam yang Langka Desa Pela
📅 Sabtu, 05 Okt 2024, 06:10 WIB | Oleh: Haryo Brono
Doc: Desa Wisata Pela
Hewan mamalia pesut Mahakam yang terancam punah saat ini masih bisa dijumpai di Desa Wisata Pela. Berada tepi aliran sungai yang berawa, warga desa yang umumnya nelayan memiliki kesadaran untuk menjaga sang satwa dari kepunahan.
Keunikan Sungai Mahakam dibandingkan dengan sungai-sungai besar lain di Kalimantan adalah sungai ini dihuni oleh hewan pesut. Pesut Mahakam (Orcaella brevirostris) demikian disebut, adalah sejenis hewan mamalia yang sering disebut lumba-lumba air tawar yang kini berstatus terancam punah.
Pesut Mahakam mempunyai kepala berbentuk bulat dengan kedua matanya kecil yang mungkin merupakan adaptasi terhadap air yang berlumpur. Tubuh pesut berwarna abu-abu sampai wulung tua, lebih pucat di bagian bawah serta tidak memiliki pola khas.
Sirip punggungnya kecil dan membundar di belakang pertengahan punggung. Dahinya tinggi dan berbentuk bundar, tidak ada moncong seperti lumba-lumba lain. Evolusi selama ribuan tahun membuat sirip dadanya lebar membundar.
Hewan ini hidup dengan berkelompok dalam kawanan kecil. Walaupun pandangannya tidak begitu tajam dan kenyataan bahwa pesut hidup dalam air yang mengandung lumpur, tetapi pesut ini merupakan 'pakar' dalam mendeteksi dan menghindari rintangan-rintangan.
Sebaiknya Anda baca juga:
Seperti halnya lumba-lumba, kemungkinan hewan mamalia ini menggunakan sonar berupa gelombang ultrasonik untuk mendeteksi tempat dalam melakukan pergerakan dengan deteksi suara frekuensi tinggi (ultrasonik). Melalui sistem ini, Pesut Mahakam bisa menerka benda-benda, mencari makan, dan berkomunikasi.
Pesut ini dinamakan Pesut Mahakam karena hanya bisa ditemukan di perairan Sungai Mahakam, tetapi peneliti barat lebih mengenal hewan ini dengan nama Irrwaakbarddy dolphin. Hal ini karena hewan ini juga ditemukan di Sungai Irrawaddy di Myanmar, dan Sungai Mekong yang mengalir dari Yunnan di Tiongkok, Myanmar, Thailand, Laos, Kamboja, dan Vietnam.
Menurut data tahun 2018, Pesut Mahakam memiliki populasi global sebanyak 6.000 ekor. Di perairan sungai-sungai di Kalimantan khususnya Mahakam, hewan ini diperkirakan tinggal 80 ekor saja hingga menempati urutan tertinggi dari daftar satwa Indonesia yang terancam punah. Yang menggembirakan, populasi hewan ini justru mengalami peningkatan di Kamboja.
Sebaiknya Anda baca juga:
Tidak seperti mamalia air lain yakni lumba-lumba dan paus yang hidup di laut, Pesut Mahakam hidup di sungai-sungai daerah tropis. Di Indonesia, hewan ini bisa ditemukan di banyak muara-muara sungai di Kalimantan, tetapi sekarang pesut ini telah menjadi satwa langka.
Salah satu cara melihat Pesut Mahakam saat ini adalah di aliran Sungai Pela, anak Sungai Mahakam, tepatnya di Kecamatan Kota Bangun, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. Di sini habitat hewan pemangsa ikan dan udang air tawar ini dapat dijumpai pula di perairan Danau Jempang, Danau Semayang, dan Danau Melintang.
Di Sungai Pela, pesut-pesut ini bisa kita lihat sedang mencari makan dengan cara bergerombol dengan warna abu-abunya terlihat timbul tenggelam di tengah perairan yang berwarna coklat dan kadang sedikit bening. Pemandangan langka inilah yang menjadi daya tarik wisatawan untuk datang.
Di ujung timur Danau Semayang, lokasi aliran airnya menyempit mengalir ke Sungai Pela di Desa Wisata Pela berada. Di sebelah utara berbatasan dengan Desa Muhuran, sebelah selatan Desa Sangkuliman, sebelah barat dengan Desa Semayang, dan sebelah timur dengan Desa Liang Ulu.
Hampir 95 persen masyarakat di desa ini berprofesi sebagai nelayan air tawar. Aktivitas masyarakat yang didominasi oleh penangkapan ikan, sangat bergantung pada keberadaan Sungai Pela, anak Sungai Mahakam, dan Danau Semayang. Data Badan Badan Pusat Statistik Kabupaten Kutai Kartanegara tahun 2022 menyebutkan bahwa masyarakat Desa Pela terbagi atas 6 RT dengan jumlah 172 kepala keluarga terdiri dari 577 jiwa.
Kini desa nelayan itu telah menjelma menjadi desa wisata. Hal ini diperkuat dengan Keputusan Bupati Kutai Kartanegara Nomor 250/SK-BUP/HK/2019 tentang lokasi desa wisata. Dalam diktum keputusannya disebutkan bahwa Desa Pela ditetapkan sebagai desa wisata dengan berbasis wisata sungai dan danau dengan ekosistem mamalia langka Pesut Mahakam atau lumba-lumba air tawar.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!