Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Presiden Baru Meksiko Minta Maaf atas Peristiwa Pembantaian Mahasiswa 1968

📅 Kamis, 03 Okt 2024, 10:30 WIB | Oleh: Tim Penulis
Presiden Baru Meksiko Minta Maaf atas Peristiwa Pembantaian Mahasiswa 1968 Doc: AFP/Alfredo ESTRELLA
Ket. Presiden Meksiko Claudia Sheinbaum memberikan konferensi pagi pertamanya sejak menjabat di Istana Nasional di Mexico City.

MEXICO CITY - Presiden Meksiko Claudia Sheinbaum menyampaikan permintaan maaf resmi pada hari Rabu (2/10) atas peristiwa pembantaian mahasiswa oleh tentara pada tahun 1968, dalam salah satu tindakan pertamanya setelah menjabat.

"Tanggal 2 Oktober tidak akan terlupakan!" kata Sheinbaum, mantan aktivis mahasiswa yang menyebut dirinya "putri tahun '68," pada peringatan pembantaian tersebut.

Menurut angka resmi, 30 orang tewas ketika pasukan keamanan menembaki mahasiswa yang menggelar unjuk rasa damai di distrik Tlatelolco, Mexico City, beberapa hari sebelum negara itu menjadi tuan rumah Olimpiade.

Keluarga dan aktivis mengatakan sekitar 400 orang tewas.

Pada konferensi pers pertamanya setelah dilantik sebagai presiden wanita pertama Meksiko, Sheinbaum mengatakan sebuah dekrit akan dikeluarkan yang menjelaskan pembunuhan tersebut sebagai kejahatan terhadap kemanusiaan.

Pasukan keamanan tidak akan pernah lagi digunakan "untuk menyerang atau menindas rakyat Meksiko," janjinya, beberapa jam sebelum protes yang direncanakan di Mexico City untuk menuntut keadilan bagi para korban pembantaian tersebut.

Sheinbaum lahir dari pasangan migran Yahudi Bulgaria dan Lithuania di Mexico City selama kekacauan di awal tahun 1960-an, ketika para mahasiswa dan aktivis lainnya berusaha mengakhiri cengkeraman panjang Partai Revolusioner Institusional pada kekuasaan.

Ibunya kehilangan pekerjaan sebagai profesor universitas karena mengecam pembantaian tersebut.

Beberapa jam setelah pernyataan Sheinbaum, ribuan orang mengambil bagian dalam demonstrasi tahunan tradisional untuk mengenang para mahasiswa yang gugur.

Beberapa pengunjuk rasa, yang dikenal sebagai "blok hitam" karena mengenakan pakaian berkerudung hitam, melemparkan batu dan petasan ke arah petugas polisi yang menjaga Zocalo, alun-alun utama Kota Meksiko dan rumah bagi istana presiden.

"Tidaklah cukup hanya meminta maaf. Kami menginginkan keadilan... Anda dapat meminta maaf kepada teman-teman Anda, tetapi tidak kepada kami yang telah mengorbankan hidup kami untuk mengubah negara ini," kata Oscar Menendez, 90 tahun, yang hadir pada tragedi tahun 1968.

Angel Rodriguez (76) yang juga mengambil bagian dalam gerakan mahasiswa, mengatakan permintaan maaf tersebut merupakan salah satu cara untuk memperbaiki hubungan antara masyarakat dan negara.

"Dia tidak berkewajiban untuk menyampaikan permintaan maaf itu. Seharusnya presiden sebelumnya yang meminta maaf, tepat setelah pembantaian itu," kata Rodriguez.

Sheinbaum yang seorang ilmuwan, meraih kemenangan telak dalam pemilu bulan Juni dengan janji untuk melanjutkan agenda reformasi sayap kiri pendahulunya Andres Manuel Lopez Obrador, sekutu dekatnya.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
jakartafair2026

PT KAI: Commuter Line lintas Tanjung Priok Mulai Berhenti di Stasiun JIS

PT KAI: Commuter Line lintas Tanjung Priok Mulai Berhenti di Stasiun JIS

23 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.