Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Menanti Data Inflasi

📅 Selasa, 01 Okt 2024, 07:52 WIB | Oleh:
Menanti Data Inflasi Doc: ISTIMEWA

JAKARTA - Nilai tukar rupiah terhadap dollar AS berpotensi melanjutkan pelemahannya, hari ini (1/10). Selain sentimen eksternal, terutama perkembangan ekonomi Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok, investor akan menantikan data inflasi nasional pada September lalu.

Seperti diketahui, data manufaktur dan jasa Tiongkok cenderung lebih rendah daripada ekspektasi sehingga mendorong sentimen jual aset berisiko atau risk-off bagi beberapa negara Asia. Di sisi lain, data manufaktur Amerika Serikat (AS) berpotensi melemah akan mendorong pelemahan dollar AS.

Sementara dari dalam negeri, investor menantikan rilis data inflasi nasional pada September 2024 oleh Badan Pusat Statistik (BPS). Apabila data BPS melampaui ekspektasi pasar yang menperkirakan deflasi, maka hal itu bisa memperlemah rupiah.

Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede memproyeksikan kurs rupiah terhadap dollar AS dalam perdagangan di pasar uang antarbank, Selasa (1/10), bergerak di kisaran 15.075-15.175 rupiah per dollar AS.

Seperti diketahui, nilai tukar rupiah terhadap dollar AS pada perdagangan, Senin (30/9), ditutup melemah 15 poin atau 0,10 persen dari sehari sebelumnya menjadi 15.140 rupiah per dollar AS. Pelemahan terjadi setelah rilis inflasi Indeks Harga Belanja Personal atau Personal Consumption Expenditure (PCE) Amerika Serikat (AS) yang lebih rendah dari ekspektasi.

"Indeks PCE secara bulanan di bulan Agustus turun ke 0,1 persen 'month on month' (mom) dari 0,2 persen mom, sesuai dengan ekspektasi. Namun, Indeks Harga PCE tahunan menurun ke 2,2 persen year on year (yoy), lebih rendah dari ekspektasi 2,3 persen yoy," kata Josua.

Selain itu, Core PCE Price bulanan turun ke 0,1 persen mom dari 0,2 persen mom, dan tercatat lebih rendah dari ekspektasi 0,2 persen mom.

Menurut Josua, data tersebut menegaskan perkembangan disinflasi di AS, meningkatkan peluang pemangkasan suku bunga acuan yang agresif dari bank sentral AS atau The Fed pada 2024.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
injourney
Advertisement
astra2

Kerugian Besar Bangsa, Rumah Adat Sade Terbakar

1.5 jam yang lalu | Aloysius Widiyatmaka

Daerah
Kerugian Besar Bangsa, Ruma...
Daerah
NTT Terus Diguncang Gempa S...

Piala Super Jerman Jatuh ke Tangan Muenchen

2 jam lalu | Aloysius Widiyatmaka

Olahraga
Piala Super Jerman Jatuh ke...
Daerah
Program-program Unggulan Go...
Kemenekraf dan BI Perkuat Kolaborasi Pacu Pelaku Ekraf Naik Kelas

Kemenekraf dan BI Perkuat Kolaborasi Pacu Pelaku Ekraf Naik Kelas

22 Aug 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.