Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Perubahan Suhu Bumi Selama Hampir 500 Juta Tahun Terungkap

📅 Rabu, 25 Sep 2024, 06:10 WIB | Oleh:
Perubahan Suhu Bumi Selama Hampir 500 Juta Tahun Terungkap Doc: afp/ Stefani REYNOLDS

Fosil daun palem (Sabalites sp) yang ditemukan di Alaska dan kini tersimpan di Museum Sejarah Alam Nasional Smithsonian menjadi petunjuk perubahan suhu Bumi. Dari fosil ini peneliti mendapatkan petunjuk tentang suhu permukaan rata-rata selama 500 juta tahun.

Dahulu banyak tanaman, termasuk palem, tumbuh di tempat-tempat seperti Alaska yang bersuhu agak hangat yang memungkinkannya untuk tumbuh. Sekarang tentu saja suhu tersebut terlalu dingin bagi tanaman itu untuk bisa tumbuh.

Sebuah studi baru yang dipublikasikan Science pekan lalu memberi para ilmuwan gambaran tentang kapan Bumi hangat dan kapan Bumi dingin selama 485 juta tahun terakhir.

Saat ini manusia hidup di dunia yang memanas dengan cepat. Volume besar gas rumah kaca yang dihasilkan manusia mendorong iklim Bumi ke keadaan yang semakin hangat. Hal ini diperkirakan akan mengubah kondisi planet seiring dengan naiknya permukaan air laut.

Ahli geologi dan paleontologi telah meneliti catatan fosil untuk waktu yang sama guna memperoleh gambaran tentang masa depan Bumi seiring dengan perubahan iklim yang disebabkan oleh manusia. Tetapi mereka tidak memiliki pandangan yang komprehensif tentang bagaimana suhu planet telah naik dan turun seiring waktu.

Kini, dengan menggabungkan data tentang suhu prasejarah dengan model iklim, para peneliti telah menghasilkan sejarah perubahan iklim Bumi yang terus-menerus selama 485 juta tahun. Penelitian baru itu dimulai pada tahun 2018 sebagai bagian dari perencanaan pameran "Deep Time" di Museum Sejarah Alam Nasional Smithsonian.

Ahli paleontologi Smithsonian, Scott Wing, dan Brian Huber, ingin menyertakan kurva suhu dalam tampilan pameran yang akan membantu pengunjung memahami bagaimana iklim Bumi telah berubah selama 539 juta tahun terakhir. Rentang waktu yang dikenal oleh para ahli ini disebut sebagai Fanerozoikum.

Meskipun para peneliti telah mempelajari iklim prasejarah selama beberapa dekade, tidak seorang pun yang menghasilkan pandangan yang andal dan komprehensif tentang suhu permukaan Bumi selama rentang waktu lebih dari 500 juta tahun. Kesenjangan pengetahuan tersebut merupakan peluang untuk menghasilkan gambaran tentang suhu planet Bumi yang terus berubah.

Pada tahun 2018, Wing, Huber, dan rekan-rekannya, mengadakan lokakarya ilmuwan iklim untuk berbagi apa yang mereka ketahui tentang sejarah iklim Bumi. Mereka juga memaparkan bagaimana pandangan gambaran besar tersebut dapat dicapai.

"Ide untuk menciptakan kurva yang kuat dan dapat direproduksi mendapatkan momentum," kata paleoklimatolog Universitas Arizona, Emily Judd, yang bergabung dengan proyek tersebut pada tahun 2020 untuk menghasilkan catatan iklim Bumi yang mendalam menggunakan data geologi dan model iklim.

Para peneliti sebelumnya memperkirakan suhu prasejarah dengan berbagai cara yang berbeda. Beberapa ilmuwan mengamati inti es dengan gelembung udara yang terperangkap di dalamnya untuk memeriksa susunan kimiawi gelembung udara yang menyimpan petunjuk tentang seperti apa iklim kuno pada saat itu.

Isotop oksigen dalam lapisan batuan prasejarah dan fosil juga dapat dibandingkan satu sama lain untuk memperkirakan apakah Bumi lebih hangat atau lebih dingin pada waktu tertentu. Bahkan anatomi daun yang membatu dapat bertindak sebagai proksi suhu.

Daun dengan tepi halus dan ujung tetes panjang yang memungkinkan untuk air mengalir dari permukaannya misalnya, menunjukkan habitat yang hangat dan lembab, sementara tanaman dari iklim yang lebih dingin sering kali memiliki tepi yang lebih bergerigi dan tidak memiliki ujung tetes.

Foraminifera

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
gaia musik festival

Indonesia Turun Full Team Buat Kikis Kekuatan Vietnam

18 menit yang lalu | Aloysius Widiyatmaka

Olahraga
Indonesia Turun Full Team B...

Kapal Kandas karena Air Surut Dampak Kemarau Panjang

23 menit yang lalu | Aloysius Widiyatmaka

Megapolitan
Kapal Kandas karena Air Sur...
Megapolitan
Bapenda Kota Tangerang Sebu...

Pengembangan Produksi Tebu Terus Digencarkan

27 menit yang lalu | Aloysius Widiyatmaka

Daerah
Pengembangan Produksi Tebu ...

Kewajiban Warga Menunaikan Tugas Fiskal Kini Dipermudah

32 menit yang lalu | Aloysius Widiyatmaka

Megapolitan
Kewajiban Warga Menunaikan ...
Nasional
Korem 132/Tadulako Bangun 5...
Luar Negeri
Trump Isyaratkan Negosiasi ...

Piala AFF 2026: Laga Penentu Grup A, Vietnam Tak Punya Pilihan Selain Menang atas Indonesia

Piala AFF 2026: Laga Penentu Grup A, Vietnam Tak Punya Pilihan Selain Menang atas Indonesia

03 Aug 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.