Ketahui Pengelolaan Nyeri pada Pengidap Kanker
📅 Senin, 23 Sep 2024, 20:34 WIB | Oleh: Haryo Brono
Doc: istimewa
JAKARTA - Nyeri merupakan keluhan yang paling banyak dialami pasien. Nyeri dapat mengganggu fisiologis dan psikologis, bahkan penurunan kualitas hidup. Manajemen nyeri yang tepat sangat dibutuhkan oleh pasien, tak hanya untuk meredakan rasa nyeri tetapi juga untuk meningkatkan kualitas kehidupannya.
"Nyeriadalah bentuk ketidaknyamanan, baik sensori maupun emosional, yang berhubungan denganrisiko atau adanya kerusakan jaringan tubuh," ujar Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif Pain Clinic RS Pondok Indah - Pondok Indah dr. I Gusti Ngurah Akwila Dwiyundha, Sp. An-TI., melalui keterangan tertulis Senin (23/9).
Klasifikasi nyeri berdasarkan lama waktunya dibagi dua yakni nyeri akut dan nyeri kronis. Nyeri akut merupakan nyeri yang timbul secara mendadak dan cepat menghilang, sedangkan nyeri kronis merupakannyeri yang timbul secara perlahan-lahan, biasanya berlangsung dalam waktu cukup lama.
Ia mengungkapkan nyeri juga dapat terjadi pada orang yang mengidap penyakit kanker. Lebih dari 50 persen pengidap kanker stadium awal hingga stadium menengah mengalami nyeri selama perjalanan penyakit kanker mereka. Sedangkan 90 pengidap kanker mengalami nyeri selama perjalanan penyakitnya.
"Nyeri pada pengidap kanker dapat berasal dari sel kanker, efek samping pengobatan, dan kondisi medis lainnya yang tidak terkait langsung dengan kanker," kata dr. Akwila.
Sebaiknya Anda baca juga:
Ia menerangkan, sel-sel abnormal tumbuh dan merusak jaringan di sekitarnya. Sel ganas yang terus membesar juga dapat menyebabkan tekanan pada saraf, tulang, atau organ sehingga menimbulkan rasa nyeri. Kanker yang sudah menyebar ke organ lain seperti tulang, juga dapat menimbulkan rasa nyeri luar biasa.
Nyeri dapat muncul akibat efek samping pengobatan kanker seperti kemoterapi, radiasi, pembedahan, dan konsumsi obat-obatan. Meski dapat membunuh sel kanker, terapi kanker juga dapat menimbulkan efek samping berupa munculnya nyeri kanker. Kondisi ini terjadi karena adanya gangguan pada saraf di sekitar lokasi tumbuhnya sel kanker.
Nyeri yang dirasakan pengidap kanker berbeda-beda, tergantung pada berbagai faktor seperti lokasi kanker dan penyebab kankernya. Selain itu, pada pengidap kanker, lokasi nyeri bisa jadi berbeda dengan sumber nyerinya.
Sebaiknya Anda baca juga:
"Misalnya, pada kasus kanker payudara yang menyebar ke tulang. Kondisi ini dapat menyebabkan nyeri tulang meskipun sel keganasan aslinya berada di payudara," jelas dr. Akwila.
Tingkat keparahan nyeri yang dialami pun dapat berbeda antara satu orang dengan yang lainnya, ada yang merasakan nyeri ringan, sedang, maupun nyeri yang sangat hebat. Jika nyeri akibat kanker sangat parah, penderitanya dapat mengalami kecemasan maupun depresi.
Oleh karena itu, manajemen nyeri kanker yang tepat sangat dibutuhkan. Di samping itu memahami dan mengidentifikasi sumber nyeri yang tepat, penting dalam perawatan dan manajemen nyeri.
"Meski banyak metode yang dapat digunakan untuk mengatasi nyeri kanker, dokter spesialis anestesiologi dan terapi intensif akan memberikan penanganan sesuai dengan kondisi pasien. Terkadang dokter bisa saja melakukan manajemen nyeri kanker dengan menggabungkan beberapa metode sekaligus," kata dr. Akwila
Perawatan dan Manajemen
Manajemen nyeri adalah sekumpulan prosedur medis yang dilakukan untuk meredakan atau menghilangkan rasa nyeri pada pasien, meningkatkan fungsi bagian tubuh yang nyeri, dan meningkatkan kualitas hidup pasien. Manajemen nyeri akan diberikan ketika pasien sudah merasakan nyeri yang signifikan atau berkepanjangan. Pendekatan komprehensif dan diagnostik yang akurat diperlukan untuk mengidentifikasi dan menangani sumber nyeri dengan efektif.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!