Anomali Kisah Penyintas Bencana Awan Panas Guguran Gunung Semeru
📅 Sabtu, 21 Sep 2024, 19:41 WIB | Oleh: Selocahyo Basoeki Utomo SPlt. Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kabupaten Lumajang, Amni Najmi, yang ditemui terpisah, turut menguatkan alasan bahwa masalah penghasilan merupakan faktor utama yang mendorong para penghuni huntap/huntara kurang betah.
Bahkan yang lebih mengejutkan, selain jarang di rumah karena mengutamakan pekeraan yang lebih menguntungkan, Amni mengungkapkan meskipun para penyintas adalah korban dari peristiwa erupsi tersebut, namun justru banyak dari mereka yang semakin diuntungkan karena bencana APG Semeru ini.
"Satu sisi mereka menunjukkan ekspresi "melas" tapi di saat yang lain mereka mengeluhkan lahan di sekitar Huntapnya yang kecil. Tidak cukup untuk parkir, truk saya ada empat," ujar Amni menirukan warga soal armada truk pengangkut hasil tambang pasir mereka.
"Saat masih di tempat pengusian, saya melihat setiap hari mereka mendapat bantuan dari NGO (Non Governmental Organization) yang banyak berupa uang. Aliran hampir datang setiap hari dari NGO yang berbeda-beda, sampai mereka bisa membeli sepeda motor baru," ungkapnya.
Sebaiknya Anda baca juga:
Patria melanjutkan, fenomena-febomena tersebut memang terjadi, sehingga pemerintah harus mengupayakan "kehidupan tumbuh" di tempat yang baru
Sesuai tujuan laboratoruum bencana untuk belajar dari kekuarangan yang akan di gunakan untuk perbaikan dalam penanganan berikutnya. Menurutnya para penyintas terbagi dalam golongan yang bersedia pindah tapi tetap bertahan dengan profesi yang lama. Kedua golongan yang bersedia pindah dan menjalankan profesi baru di lokasi huntap.
"Mereka dapat pelatihan buka bengkel, terima jahitan dan dan lain-lain. Warga juga bantuan bibit ternak kambing untuk program kandang komunal, sebagai mata pencarhaian yang baru," tuturnya.
Sebaiknya Anda baca juga:
"Ini adalah laboratorium dengan intervensi permindahan dan intervensi pelatihan-pelatihan. Banyak macamnya ada yang berhadil ada yang tidak, dan dari sini kita paham mana yang dapat dilakukan mana yang tidak. Harapannya dalam waktu tiga tahun mereka bisa pulih dari rasa trauma dan kehidupan ekonominya," tutupnya.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!