Anomali Kisah Penyintas Bencana Awan Panas Guguran Gunung Semeru
📅 Sabtu, 21 Sep 2024, 19:41 WIB | Oleh: Selocahyo Basoeki Utomo SDia menerangkan, Pemkab Lumajang menyiapkan kandang komunal (kandang koloni) atau kandang kelompok untuk pembesaran maupun penggemukan) kambing milik beberapa warga, sebagai bagian dari program pemulihan ekonomi para penyintas.
"Selain beternak, warga juga mendapat bantuan modal dan pelatihan lain seperti bengkel dan menjahit. Sebagian jalan (berhasil), tapi ada juga kembali ke pekerjaan lama mereka," ujarnya.
Sayangnya, lanjut Yayuk, meskipun telah diberi fasilitas "A sampai Z" namun mayoritas warga ternyata tetap bertahan dengan profesi dan mata pencaharian mereka yang lama. Hal itu tampak dari pria dewasa yang jarang terlihat di Desa Sumber Mujur pada siang hari karena mereka harus kembali ke lahan pertanian atau lokasi penambangan pasir yang berjarak antara 8 hingga 15 kilometer dari kawasan hunian tersebut.
Dari pantauan Koran Jakarta, terbukti sejumlah rumah huntap dan huntara terlihat sepi dan tertutup rapat karena ditinggal bekerja oleh penghuninya.
Sebaiknya Anda baca juga:
Selain Gunung Semeru, Lumajang turut dikelilingi gunung berapi yang masih aktif yaitu Gunung Bromo dan Gunung Lemongan, membuat daerah ini memiliki cadangan pasir besi seluas 60.000 hektar, cadangan terbesar di seluruh Indonesia, menjadikannya sebagai titik tumpu ekonomi warga.
"Tetap yang lama, karena di sini tidak ada lapangan kerja (yang menjanjikan), di sini cuma rumah. Rata-rata mereka penambang pasir dan petani, kan di sana (tempat asal) bagus sekali, produktif sekali untuk sayuran dan tebu," ujarnya.
"Mereka mengaku kalau di sini tidak ada mata pencaharian. Setiap saya ketemu saya tanya kenapa rumahnya tidak ditempati, jawabnya: kalau di sini saya makan apa," ujar Yayuk menirukan keluhan para warga.
Sebaiknya Anda baca juga:
Dia menjelaskan, para penyintas sebagian tetap meninggali rumah mereka yang lama di dusun asalnya, meskipun ada bagian yang rusak terdampak oleh erupsi Gunung Semeru.
"Kalau atapnya rusak diperbaiki, untuk tinggal sementara saat bekerja. Karena kalau setiap hari pulang-pergi, habis banyak di transport."
Yayuk menambahkan, dari keseluruhan 1951 KK yang menghuni Desa Sumber Mujur, hnaya sekitar 600 sampai 700 keluarga yang menetap permanen.
"Yang banyak sisanya itu, mereka wira-wiri (pulang-pergi) untuk bekerja. Ada yang satu bulan sekali ke sini, satu minggu sekali, macam-macam," ungkapnya.
Dia menjelaskan, para penyintas telah menerima SK penempatan Huntap/Huntara dari pemerintah, dan desa tidak bisa mencabut hak penempatan rumah yang tidak atau jarang ditinggali karena penghuninya yang bekerja di tempat asalnya.
"Kami tidak punya kewenangan untuk memaksa mereka tidak kembali bekerja di kampung asalnya. Kalau kita mengharuskan mereka tetap di sini, kita harus menyediakan pekerjaan."
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!