Anomali Kisah Penyintas Bencana Awan Panas Guguran Gunung Semeru
📅 Sabtu, 21 Sep 2024, 19:41 WIB | Oleh: Selocahyo Basoeki Utomo SNgatumi, salah satu penyintas yang ditemui membenarkan pernyataan tersebut. Perempuan berusia 43 tahun yang kini berprofesi sebagai penjahit menunjukkan dua huntap/huntara milik tetangganya yang tampak tertutup dan tidak dihuni.
"Mereka kembali ke desa asalnya untuk berdagang di warung," ujarnya.
Secara terpisah, Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Lumajang, Patria Dwi Hastiadi, mengakui bahwa fenomena penyintas yang jarang menempati huntap/huntara mereka merupakan tantangan tersendiri dalam menjadikan kawasam Desa Sumber Mujur sebagai Laboratorium Bencana.
Menurut Patria, upaya relokasi penyintas bencana awan panas guguran (APG) Gunung Semeru tersebut menjadi pembelajaran yang luar biasa, karena menurutnya hingga saat ini belum ada daerah lain yang merelokasi warganya hingga berjumlah sekitar hampir 2.000 KK.
Sebaiknya Anda baca juga:
"Tidak semudah yang dibayangkan
Awalnya mendapat penolakan yang luar biasa. Setiap malam harus kami door to door sosialisasi ke pengungsian," ungkapnya.
"Akhirnya win-win solution, kesepakatan dengan seluruh warga bahwa tempat tinggal yang lama dan lahan pertanian yang lama tidak diambil alih. Sehingga sekarang banyak warga yang baru kembali ke rumah malam hari (untuk bekerja di tempat asal mereka)," terangnya.
Patria menjelaskan upaya relokasi bukanlah hanya memindahkan manusia dari satu tempat ke tempat yang lain, karena mevncakup juga memindahkan budaya dan sumber mata pencaharian warga.
Sebaiknya Anda baca juga:
Salah satu tantangan yang dihadapi adalah warga tidak ingin kehilangan besaran nilai dari hasil profesi mereka sebelumnya, yang mayoritas merupakan penambang pasir.
"Di tempat yang lama mereka terlibat dalam penambangan pasir. Penghasilan kuli pasir sehari bisa 300-500 ribu, sehingga mengajka mereka pindah tidak semudah seperti dibayangkan," tuturnya.
Dia menjelaskan, kampung asal para pemyintas rata-rata berjarak antara 8 sampai 15 kilometer dari puncak Gunung Semeru juga menjadi alasan mereka enggan pindah, mengingat jarak Desa Sumber Mujur yang relatif lebih dekat.
"Meteka harus kita pahamkan bahwa kawasan rawan bencana bukan karena semata jaraknya tapi karena ada historis. menjadi jalur material aliran lahar."
Untuk itu, lanjut Patria, laboratorium bencana digunakan untuk belajar dari kekurangan yang ditemukan dan akan digunakan untuk perbaikan dalam upaya penanganan penyintas berikutnya.
Bencana membawa berkah
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!