Survei: Mayoritas Muslim Indonesia Salah Paham tentang Transisi Energi
📅 Jumat, 06 Sep 2024, 11:04 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: The Conversation/Shutterstock/MaxZolotukhin
Khalid Walid Djamaludin, University of Latvia dan Endi Aulia Garadian, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta
Pemerintah Indonesia menjadikan transisi energi terbarukan salah satu prioritas pembangunan hingga 2029. Mulai dari sektor energi hingga transportasi akan mendapatkan percepatan. Terdengar menakjubkan, tapi, apakah hal tersebut realistis?
Dalam beberapa catatan, upaya transisi energi ternyata masih menunjukkan pelbagai kendala. Selain masih banyak inkonsistensi dari pemerintah, masyarakat juga belum begitu memahami apa itu transisi energi.
Survei kami bersama tim Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta memerlihatkan bahwa hanya 20,09% muslim Indonesia tahu tentang istilah tersebut.
Sebaiknya Anda baca juga:
Sebagai negara yang bermayoritas penduduk muslim, penting bagi pemerintah untuk mendudukkan segala kebijakan yang selaras dengan alam pikir masyarakat beragama. Ini terutama kebijakan transisi energi yang membutuhkan pelibatan masyarakat. Keselarasan penting agar transisi energi Indonesia mendapatkan dukungan dan partisipasi yang massif dari masyarakat.
Salah anggapan transisi energi
Kami menyurvei 3.045 responden muslim berusia 15 tahun ke atas dari seluruh provinsi di Indonesia seputar pemahaman mereka terhadap isu lingkungan, perilaku ramah lingkungan, termasuk transisi energi. Survei ini memiliki margin kesalahan 2 - 4%, dengan tingkat kepercayaan 95%.
Sebaiknya Anda baca juga:
Melalui survei ini, kami menemukan pengetahuan masyarakat tentang transisi energi ternyata tidak menjamin pemahaman yang benar atas konsep tersebut.
Mereka yang menjawab "Ya Tahu Transisi Energi", ternyata tidak sepenuhnya memahami konsep transisi energi. Setidaknya 24,29% masyarakat memahami transisi energi sebagai perubahan energi dari bahan bakar minyak (BBM) ke listrik, diikuti dengan energi yang berpindah (18,57%), energi yang ramah lingkungan (17,64%), dan pembangkit listrik tenaga surya (11,16%).
Banyak pula muslim yang menganggap transisi energi terbarukan sebatas aspek yang paling mudah dikenali, seperti kendaraan listrik. Kelihatannya, masyarakat masih memahami transisi energi sebagai perubahan teknis yang sempit, seperti perubahan energi dari bahan bakar fosil ke listrik.
Padahal, transisi energi sebetulnya lahir dari upaya untuk mengganti bahan bakar fosil ke energi yang lebih bersih seperti sinar matahari, angin, ataupun air. Upaya ini lahir dari urgensi global mengurangi dampak perubahan iklim yang menciptakan lebih banyak fenomena alam seperti banjir, longsor, kekeringan, kebakaran hutan dan lahan, hingga pemutihan karang dan pengasaman laut.
Sayangnya, esensi itu belum tertangkap masyarakat muslim. Padahal, survei kami menemukan mayoritas responden (70,43%) mengetahui seputar perubahan iklim terjadi karena ulah manusia.
Pemahaman masyarakat muslim terkait transisi energi yang rendah turut berbanding lurus dengan minimnya pengetahuan masyarakat muslim tentang Islam berwawasan lingkungan, atau dikenal sebagai Green Islam. Gagasan ini menggabungkan prinsip Islam dan kesadaran perilaku lingkungan.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!