Enam Pola Asuh Cegah 'Stunting'
📅 Selasa, 03 Sep 2024, 01:30 WIB | Oleh: Aloysius Widiyatmaka
Doc: ANTARA/Siti Nurhaliza
JAKARTA - Para orang tua diharapkan mengadopsi enam pola asuh kesehatan terhadap anak untuk mencegah kasus stunting. "Saya berharap semua orang tua bisa memahami pola asuh kesehatan ini," kata Kepala Suku Dinas Kesehatan Jakarta Pusat, Rismasari, Senin.
Pola asuh tersebut mencakup, pertama: nutrisi yang seimbang dengan pemberian air susu ibu (ASI) eksklusif. Makanan pendamping ASI (MPASI) yang tepat, dan memberikan makanan bergizi.
Kedua, orang tua perlu rutin memantau pertumbuhan anak dengan berkunjung ke Posyandu atau Puskesmas. Lalu, konsultasi dengan tenaga kesehatan jika ada kekhawatiran tentang pertumbuhan anak.
Ketiga, memperhatikan sanitasi dan kebersihan. Perlu diperhatikan kebersihan lingkungan dan akses air bersih. Keempat, beri suplemen jika diperlukan. "Ini bisa vitamin atau mineral," ujar Risma.
Pola asuh kelima, menurut Risma, adalah meningkatkan pendidikan kesehatan untuk orang tua. Ini bisa dilakukan melalui konseling dan dukungan terkait pengetahuan pola makan yang sehat untuk anak. Cermati tanda-tanda anak stunting. Penting juga memperkaya nutrisi dalam perkembangan anak.
Sebaiknya Anda baca juga:
Kemudian, keenam memberi stimulasi perkembangan dengan interaksi positif orang tua ke anak. Menurut Risma, kasus stunting salah satunya dipengaruhi perilaku orang tua dalam mengasuh anak.
"Stunting dipengaruhi aspek perilaku terutama pola asuh salah. Ini terutama dalam memberi makan bagi bayi dan balita," tandas Risma. Maka, penting untuk memperhatikan enam pola asuh kesehatan tersebut.
Berdasarkan hasil intervensi serentak atas stunting yang dilakukan pada bulan Juli, jumlahnya 1.000 lebih untuk Jakarta Pusat. Terbanyak jumlah anak stunting ada di Kecamatan Tanah Abang (213).
Sebaiknya Anda baca juga:
Gemarikan
Sebelumnya, Jakarta Timur gencar mengampanyekan gerakan memasyarakatkan makan ikan (Gemarikan) ke para siswa sekolah dasar di SDN 07 Kramat Jati, Jakarta Timur. Gerakan yang diinisiasi Suku Dinas Ketahanan Pangan Kelautan dan Pertanian (KPKP) Jaktim itu dalam rangka mencegah stunting Jakarta Timur.
"Saya memonitor sosialisasi Gemarikan SDN 07 Kramat Jati. Tujuannya, agar ikan dengan protein dan omeganya tinggi disukai anak-anak sejak dini," kata Wali Kota Jaktim, M Anwar. Gemar ikan harus dimulai sejak dini. Sebab pembiasan sejak awal akan menjadi budaya setiap pribadi. "Ini juga penting untuk pengentasan kasus-kasus stunting Jakarta Timur," tandas Anwar.
Menurutnya, anak kalau sudah dibiasakan akan menjadi kegemaran. Mereka bisa selamanya bisa mencintai ikan. Gemarikan juga bisa memastikan ketahanan pangan. Di sisi lain, generasi muda sekarang sedang berhadapan dengan stunting. Salah satu upaya mengatasinya dengan kampanye gemarikan. Tujuannya, nanti masyarakat betul-betul mencintai ikan.
Anwar pun berpesan kepada para orang tua untuk membantu anak-anak menggemari makan ikan. "Saya mengimbau orang tua, anak-anak jangan dibiasakan makan junk food. Upayakan masak ikan diolah dengan jenis apa pun. Yang penting disukai anak-anak. Biasakan tiap hari disajikan ikan," harap Anwar.
Sementara itu, Kepala Sekolah SDN 07 Kramat Jati, Ari Setianingsih mengharapkan dengan adanya kegiatan itu para siswa dapat menggemari makan ikan. "Selain makan bergizi juga dilengkapi dengan makan ikan. Paling tidak dengan makan olahan ikan dari rumah. Ini akan kita rutinkan di sekolah SDN 07 Kramat Jati," jelas Ari.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!