Apakah Lao Tzu Sang Pendiri Ajaran Taoisme?
📅 Selasa, 27 Agu 2024, 06:10 WIB | Oleh: Haryo Brono
Doc: afp/ Bertha WANG
Ketika Dinasti Tang berkuasa, Taoisme yang mengajarkan perdamaian dan keharmonisan menjadi agama resmi negara setelah sempat dilarang pada masa Dinasti Qin. Pada masa kini, ajaran ini diakui sebagai filsafat, agama, dan menjadi memasuki dalam budaya populer melalui film.
Dari legenda yang berkembang, Lao Tzu adalah seorang filsuf Tiongkok yang dianggap sebagai pendiri sistem filsafat Taoisme melalui tulisan berjudul Tao-Te-Ching. Lao Tzu yang disebut lahir pada 500 sebelum masehi (SM) paling dikenal sebagai penulis Laozi, karya yang menggambarkan pemikirannya. Karya itu kemudian diberi judul ulang Tao-Te-Ching yang diterjemahkan sebagai "Jalan Kebajikan" atau "Karya Klasik Jalan dan Kebajikan."
Laman World History menyebut nama Lao Tzu bukanlah nama pribadi, melainkan gelar kehormatan yang berarti "Orang Tua" atau "Guru Tua".
Lao Tzu merupakan gabungan dari banyak filsuf yang berbeda. Sejarawan Will Durant dalam Our Oriental Heritage (2014) menulis bahwa Lao Tzu, filsuf pra-Konfusianisme yang terbesar, lebih bijaksana daripada Teng Shih. "Ia memahami kebijaksanaan dalam keheningan dan hidup hingga usia lanjut, meskipun kita tidak yakin apakah ia hidup sampai usia tua," ungkap Durant.
Durant mengungkapkan konsensus ilmiah tentang historisitas Lao Tzu ia disebut karakter fiktif yang diciptakan untuk mewujudkan konsep orang bijak. Pada saat yang sama, menurut tradisi Tiongkok, ia adalah tokoh sejarah yang sebenarnya. Dalam Taoisme religius, ia dipahami sebagai dewa. Jika ia memang ada, ia diperkirakan hidup pada abad ke-6 SM.
Sebaiknya Anda baca juga:
Menurut legenda, Lao Tzu berusaha sekuat tenaga untuk mengajar orang-orang tentang jalan Tao, kekuatan kreatif dan mengikat yang mengalir melalui alam semesta, tetapi tidak seorang pun mau mendengarkan. Penjelasannya bahwa orang dapat hidup lebih bahagia, lebih memuaskan, dengan menyelaraskan diri mereka dengan aliran alami Tao. Alih-alih menempatkan diri mereka dalam pertentangan dengannya, tidak dihiraukan dan ia akhirnya memutuskan untuk meninggalkan kemanusiaan dan mengasingkan diri setelah menulis Tao-Te-Ching.
Taoisme bersama dengan Konfusianisme serta sistem lain yang diartikulasikan dalam Seratus Aliran Pemikiran, dilarang ketika periode Negara-negara Berperang berakhir dengan kemenangan negara Qin dan berdirinya Dinasti Qin (221-206 SM).
Antara tahun 213-210 SM, semua buku, kecuali yang tentang sejarah Qin, legalisme, dan tindakan praktis, dibakar dan para sarjana dieksekusi. Satu-satunya alasan beberapa teks bertahan adalah karena mereka disembunyikan oleh orang-orang yang memahami nilainya.
Sebaiknya Anda baca juga:
Reputasi Taoisme tumbuh kembali setelahnya untuk menginformasikan budaya Dinasti Tang yang agung (618-907 M). Sekarang, karya tersebut dianggap sebagai karya klasik sastra filosofis-religius Tiongkok dan telah memengaruhi jutaan orang di seluruh dunia.
Semua yang diketahui tentang Lao Tzu berasal dari karya klasik Records of the Grand Historian yang ditulis oleh penulis Dinasti Han, Sima Qian (hidup 145/135-86 SM). Sima, yang bekerja dari dokumen sejarah dan sastra yang lebih tua, mengklaim bahwa Lao Tzu adalah salah satu kurator di perpustakaan kerajaan di negara Chu dan dikenal sebagai seorang filsuf. Ia menganjurkan empati yang mendalam dan saling terhubung antara orang-orang sebagai sarana untuk mencapai perdamaian dan keharmonisan. Ia mengklaim bahwa empati tersebut dimungkinkan melalui pengakuan terhadap kekuatan kosmik Tao yang telah menciptakan segala sesuatu, mengikat segala sesuatu, menggerakkan segala sesuatu, dan akhirnya melepaskan segala sesuatu kembali ke keadaan semula.
Menyelaraskan diri dengan Tao, menurut Lao-Tzu, membawa seseorang ke dalam harmoni dengan alam semesta dan memperkaya kehidupan seseorang. Sebaliknya penentangan terhadap Tao hanya mendatangkan frustasi, ketidakbahagiaan, dan kemarahan yang mengakibatkan perilaku buruk.
Ia terutama tertarik untuk mengubah kelas penguasa agar mempercayainya karena negara itu, pada saat itu, berada di tengah-tengah era yang dikenal sebagai Periode Negara-negara Berperang (sekitar 481-221 SM). Pada waktu itu tujuh negara saling berperang hampir terus-menerus untuk mendapatkan supremasi dan kendali atas pemerintah Tiongkok.
Dinasti Zhou (1046-256 SM) mengalami kemunduran dan tidak dapat berbuat apa pun untuk menjaga ketertiban. Pasalnya negara-negara yang terpisah itu semuanya lebih kuat daripada pemerintah tetapi seimbang satu sama lain.
Perang terus berlanjut dan berbagai aliran filsafat Tiongkok didirikan yang mencoba menyarankan cara terbaik untuk mengakhiri kekerasan dan membangun pemerintahan moral yang akan peduli terhadap warganya.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!