Cara Mengatasi Depresi dengan Keseimbangan Hidup ala Stoikisme, Apa Itu?
📅 Minggu, 24 Mar 2024, 11:45 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: The Conversation/Shutterstock/Luc Emergo
Yogie Pranowo, Universitas Multimedia Nusantara
Laju perubahan yang terus meningkat memaksa kita untuk semakin sadar akan realitas dunia yang dibanjiri oleh ketidakpastian dan kompleksitas akan berbagai perubahan.
Contohnya di industri digital. Televisi, yang sebelumnya "nyaman" dengan dominasinya dalam menyediakan konten hiburan, kini mulai tertinggal oleh popularitas platform digital seperti YouTube, Netflix, dan sebagainya. Contoh lainnya adalah industri ritel, dengan toko fisik yang semakin tergusur bisnis online.
Belum lagi fenomena aktivitas di media sosial yang tanpa disadari terus menuntut penggunanya untuk selalu tampil sempurna dalam sebuah citra diri yang purna. Kondisi-kondisi semacam ini dapat menciptakan tekanan psikologis yang akut dan terstruktur yang membuat kita menjadi pribadi yang mudah cemas, mudah iri, insecure atas diri kita sendiri, hingga kita kerap merasa rendah diri-ini tak jarang berujung depresi.
Segala macam ketidakpastikan yang kita hadapi di era sekarang ini seringkali mengakibatkan krisis identitas, yaitu sebuah kondisi psikologis ketika seseorang merasa kehilangan arah, bingung, bahkan tidak mengenal diri mereka yang sebenarnya.
Sebaiknya Anda baca juga:
Sebagai seorang akademisi dan pembaca filsafat, yang kebetulan juga seorang pejuang kesehatan mental, saya sampai pada satu kesimpulan reflektif bahwa salah satu alternatif untuk mengatasi depresi, krisis identitas, dan berbagai persoalan kemanusiaan lainnya adalah dengan menerapkan prinsip keseimbangan hidup ala stoikisme (stoicism) alias melalui refleksi diri.
Stoikisme adalah salah satu aliran filsafat yang banyak mengajarkan mengenai kendali diri. Dengan memahami prinsip ini, kita dapat mengubah perspektif tentang hidup dan menjadi lebih mampu menghadapi tantangan dengan sikap yang lebih bijaksana dan tenang.
Apa itu stoikisme?
Sebaiknya Anda baca juga:
Stoikisme berasal dari bahasa Yunani "stoikos" atau stoa. Istilah ini merujuk pada Stoa Poikile, sebuah "sekolah filsafat" di Athena, Yunani, tempat Zeno, filsuf terkemuka dari Citium memberikan pengaruh besar bagi peradaban sekitar tahun 301 SM.
Pada masa itu, Zeno melakukan pengajaran dengan cara yang agak tak biasa, yaitu dengan duduk berbicara di teras pendopo yang terletak agak jauh dari keramaian pasar. Pendekatan pengajaran dan cara dia mendirikan akademinya ini yang kemudian memberikan nama pada aliran filsafat ini, yaitu stoikisme.
Penggunaan istilah "stoik" lebih merujuk pada bundaran tiang penopang yang mendukung teras tempat Zeno mengadakan diskusi dan pengajaran.
Secara umum, sejarah stoikisme dapat dibagi menjadi tiga periode. Pertama, ada Stoa awal yang mencakup tokoh-tokoh seperti Zeno (334-262 SM), Chrisipus (280-206 SM), dan Cleanthes (331-232 SM). Kedua, ada Stoa perantara yang dikembangkan oleh Panaetius dari Rhodes (185-110 SM) dan Posidonius dari Apamae (135-51 SM). Pamungkasnya, terdapat Stoa akhir atau yang juga dikenal sebagai Stoikisme Romawi yang dipengaruhi oleh pemikiran Lucius Annaeus Seneca (1-65 M), Epictetus (55-135 M), dan Marcus Aurelius (121-180 M).
Buku Ataraxia: Bahagia Menurut Stoikisme karya A. Setyo Wibowo mengungkapkan bagaimana dalam kehidupan sehari-hari, banyak orang cenderung lebih fokus pada aspek-aspek yang berada di luar jangkauan atau kendali mereka.
Padahal, kunci untuk mencapai kebahagiaan, kekuatan diri, dan kebijaksanaan sebenarnya terletak pada kemampuan kita untuk memusatkan perhatian pada hal-hal yang berada di dalam kendali kita, bukannya terjebak dalam kecemasan terhadap hal-hal yang tidak dapat kita kendalikan.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!