Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

PM Bangladesh Berjanji Dukung Pengungsi Rohingya dan Industri Garmen

📅 Senin, 19 Agu 2024, 09:25 WIB | Oleh: Tim Penulis
PM Bangladesh Berjanji Dukung Pengungsi Rohingya dan Industri Garmen Doc: AFP/Indranil Mukherjee
Ket. Peraih Nobel dan penasihat utama pemerintahan sementara Bangladesh, Muhammad Yunus, bertemu dengan keluarga orang-orang yang hilang selama masa jabatan Perdana Menteri terguling Sheikh Hasina, di Dhaka pada 13 Agustus 2024.

DHAKA - Perdana Menteri Sementara Bangladesh, Muhammad Yunus, mengatakan dalam pidato kebijakan utama pertamanya pada hari Minggu (18/8), pemerintahnya akan mempertahankan dukungan bagi lebih dari satu juta pengungsi Rohingya di negara tersebut. Industri garmen yang terganggu oleh kerusuhan juga menjadi prioritas.

Yunus (84) kembali dari Eropa bulan ini setelah revolusi yang dipimpin mahasiswa mengambil alih tugas monumental dalam mengarahkan reformasi demokrasi di negara yang terkoyak oleh kemerosotan kelembagaan.

Pendahulunya,Sheikh Hasina (76) tiba-tiba meninggalkan negara itu dengan helikopter beberapa hari sebelumnya setelah 15 tahun berkuasa dengan tangan besi.

Menetapkan prioritasnya di hadapan para diplomat dan perwakilan PBB, Yunus berjanji akan melanjutkan dua tantangan kebijakan terbesar dari pemerintahan sementaranya.

"Pemerintah kami akan terus mendukung lebih dari satu juta orang Rohingya yang berlindung di Bangladesh," kata Yunus.

"Kita memerlukan upaya berkelanjutan dari komunitas internasional untuk operasi kemanusiaan Rohingya dan pemulangan mereka ke Tanah Air mereka, Myanmar, dengan rasa aman, bermartabat, dan memiliki hak penuh," imbuhnya.

Bangladesh merupakan rumah bagi sekitar satu juta pengungsi Rohingya.

Kebanyakan dari mereka melarikan diri dari negara tetangga Myanmar pada tahun 2017 setelah tindakan keras militer yang sekarang menjadi subjek penyelidikan genosida oleh pengadilan PBB.

Kerusuhan dan protes massa selama berminggu-minggu yang menggulingkan Hasina juga mengakibatkan gangguan yang meluas pada industri tekstil yang menjadi tumpuan negara itu, karena para pemasok mengalihkan pesanan ke luar negeri.

"Kami tidak akan mentoleransi segala upaya yang mengganggu rantai pasokan pakaian global, di mana kami merupakan pemain kunci," kata Yunus.

Sebanyak 3.500 pabrik garmen di Bangladesh menyumbang sekitar 85 persen dari ekspor tahunannya yang bernilai 55 miliar dollar AS.

Yunus memenangkan Hadiah Nobel Perdamaian pada tahun 2006 atas karya perintisnya di bidang keuangan mikro, yang dianggap berhasil membantu jutaan warga Bangladesh keluar dari kemiskinan yang parah.

Ia menjabat sebagai "penasihat utama" untuk pemerintahan sementara - yang semuanya warga sipil kecuali dua jenderal yang sudah pensiun - dan mengatakan ia ingin menyelenggarakan pemilu "dalam beberapa bulan".

Sebelum penggulingannya, pemerintahan Hasina dituduh melakukan pelanggaran hak asasi manusia yang meluas, termasuk penahanan massal dan pembunuhan di luar hukum terhadap lawan-lawan politiknya.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Daerah
Bus Transjateng Akan Tambah...

Wakil Menteri Imipas Silmy Karim Ditahan KPK

27 menit yang lalu | Lili Lestari

Nasional
Wakil Menteri Imipas Silmy ...
Olahraga
Janice Tjen Mulus ke Peremp...
Ekonomi
Berpotensi Melemah Lanjutan...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Wakil Menteri Imipas Silmy Karim Ditahan KPK

Wakil Menteri Imipas Silmy Karim Ditahan KPK

04 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.