Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Seminar Forum Bumi Paparkan Sejumlah Ancaman terhadap Keanekaragaman Hayati

📅 Jumat, 16 Agu 2024, 11:59 WIB | Oleh:
Seminar Forum Bumi Paparkan Sejumlah Ancaman terhadap Keanekaragaman Hayati Doc: Istimewa
Ket. Diskusi dengan tema "Apa yang Terjadi Bila Keanekaragaman Hayati Kita Punah?", salah satu serial seminar Forum Bumi yang diadakan di Jakarta, Kamis (8/8).

JAKARTA - Bekerja sama dengan Kehati, National Geographic Indonesia menggelar serial seminar Forum Bumi. Gelaran ini bertujuan untuk menciptakan sebuah wadah yang meningkatkan pengetahuan dan keterampilan para jurnalis serta komunitas aktivis lingkungan.

Pada edisi pertamanya, Forum Bumi melangsungkan seminar yang bertajuk "Apa yang Terjadi Bila Keanekaragaman Hayati Kita Punah?" Seminar ini berlangsung di House of Izara, Jakarta pada hari Kamis (8/8).

Acara yang dipandu oleh Mahandis Yoanata, Managing Editor National Geographic Indonesia, menampilkan tiga narasumber. Mereka adalah Samedi, Direktur Program Kehati, Annas Radin Syarif, Deputi Sekjen AMAN untuk Ekonomi dan Dukungan Komunitas, serta Prof. Dr. Augy Syahailatua, Peneliti Ahli Utama di bidang Oseanografi Biologi dari Pusat Riset Oseanografi Badan Riset dan Inovasi Nasional.

Samedi, dalam pemaparannya, menyoroti perubahan Undang-Undang Nomor 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya. Menurutnya, perubahan yang belum diresmikan tersebut masih memiliki beberapa kekurangan.

Beberapa di antaranya adalah tidak mengatur konservasi di level genetik, perlindungan di level spesies tidak mengalami perubahan dari peraturan sebelumnya. Ia merasa hal itu masih terasa sebagai peraturan yang bersifat sentralistik.

Meski demikian, Samedi menilai ada beberapa hal positif yang terlihat dari perubahan peraturan tersebut. Salah perubahan peraturan adalah adanya satunya adanya sanksi atau hukuman yang diperkuat.

"Sayangnya, saya melihat yang diperkuat hanya sanksi dan hukuman, itu pun hanya untuk spesies yang dilindungi," ujar pria yang kerap disapa Pak Sam tersebut.

Padahal, menurut Samedi, satwa-satwa yang tidak dilindungi pun rentan mengalami kepunahan. Maka dari itu, dengan tidak adanya sanksi terkait perlindungan mereka, maka bukan tidak mungkin mereka juga akan punah.

Sebaiknya Anda baca juga:

Sementara itu, Augy memaparkan tentang bagaimana pemahaman masyarakat tentang laut, yang justru menjadi area terluas dari Indonesia, sudah dijelaskan secara salah sejak masih bersekolah. Augy mengambil contoh bagaimana anak-anak hanya diajarkan bahwa laut Indonesia luas.

"Padahal, faktanya laut di Indonesia tidak hanya luas, tapi juga dalam. Sebagai orang Indonesia, seharusnya kita tahu bahwa 70-80 persen lautan kita adalah zona laut dalam, yaitu dengan kedalaman di atas 200 meter," ungkap Augy.

Hal ini penting untuk diketahui karena kondisi tersebut memberi beragam manfaat bagi Indonesia. Salah satunya, tentu saja, adalah berupa keanekaragaman hayati. Augy juga memaparkan tentang ancaman perubahan iklim terhadap keanekaragaman hayati di Indonesia, khususnya di wilayah laut. Hasil penelitian yang memprediksi bahwa pada tahun 2100, jumlah terumbu karang di Indonesia akan berkurang sebanyak 22,15 persen.

Dalam kesempatan yang sama, Annas menyoroti tentang keterlibatan masyarakat adat dalam menjaga keanekaragaman hayati. Meski secara global mereka diakui sebagai penjaga Bumi, peran mereka dalam wilayah konservasi masih sangat kurang.

Padahal, menurut Annas, 36 persen tutupan wilayah hutan di dunia itu ada di wilayah adat. "Jadi masyarakat adat, ya, bagian dari konservasi," tegas Annas.

Apalagi, bagi Annas, masyarakat adat memiliki alasan yang kuat untuk menjadi penjaga utama dari wilayah konservasi. Mulai dari adanya kewajiban adat untuk melindungi wilayah konservasi, adanya fungsi-fungsi ruang adat yang membuat mereka sadar untuk tidak merusak area tertentu, serta adanya sistem pengetahuan dalam bentuk kearifan lokal yang memandu mereka mengelola wilayah secara berkelanjutan.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Daerah
Taman Safari Prigen Perkena...
Ekonomi
Rupiah Tembus Rp18.000 per ...
Megapolitan
PIN SPMB Belum Masuk? Ini P...
Nasional
Huntara di Langkahan roboh ...
Nasional
Atap bangunan sekolah SDN d...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Rupiah Tembus Rp18.000 per Dollar Pagi Ini, Dibayangi Tekanan Global dan Domestik

Rupiah Tembus Rp18.000 per Dollar Pagi Ini, Dibayangi Tekanan Global dan Domestik

04 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.