Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Mahasiswa Ingin Yunus jadi Pemimpin Sementara

📅 Rabu, 07 Agu 2024, 02:55 WIB | Oleh: Tim Penulis
Mahasiswa Ingin Yunus jadi Pemimpin Sementara Doc: AFP/Munir UZ ZAMAN
Ket. Keinginan Mahasiswa l ­Massa demonstran antipemerintah bergerak menuju kediaman resmi PM Sheikh Hasina dengan kawalan tentara di kawasan Shahbag, Dhaka, pada Senin (5/8). Setelah berhasil mengusir PM Hasina, pemimpin kelompok mahasiswa menginginkan agar peraih Nobel Muhammad Yunus menjadi pemimpin pemerintahan Bangladesh sementara.

DHAKA - Para pemimpin mahasiswa di Bangladesh pada Selasa (6/8) menuntut agar peraih Nobel Muhammad Yunus memimpin pemerintahan sementara. Seruan itu dilontarkan sehari setelah militer mengambil alih kendali pemerintahan setelah aksi demonstrasi massal memaksa penguasa lama, Perdana Menteri Sheikh Hasina, hengkang dari negara itu.

Hasina, 76 tahun, telah berkuasa sejak tahun 2009, namun ia dituduh melakukan kecurangan dalam pemilu pada Januari lalu dan kemudian menyaksikan jutaan orang turun ke jalan selama sebulan terakhir untuk menuntut dia mundur.

Ratusan orang tewas ketika pasukan keamanan berusaha meredam kerusuhan, namun aksi protes semakin meningkat dan PM Hasina akhirnya melarikan diri dengan helikopter pada Senin (5/8) setelah militer berbalik melawannya.

Pada Senin sore, Panglima Angkatan Darat, Jenderal Waker-Uz-Zaman, mengumumkan di televisi pemerintah bahwa PM Hasina telah mengundurkan diri dan militer akan membentuk pemerintahan sementara, dan mengakui bahwa sudah waktunya menghentikan kekerasan.

Presiden Bangladesh, Mohammad Shahabuddin, pada Selasa membubarkan parlemen dan pembubaran ini merupakan sebuah tuntutan utama dari para pemimpin mahasiswa dan oposisi utama Partai Nasional Bangladesh (BNP).

Waker diperkirakan akan bertemu dengan para pemimpin mahasiswa pada Selasa untuk mendengarkan tuntutan mereka agar pionir keuangan mikro Yunus, 84 tahun, memimpin pemerintahan.

Mantan PM dan ketua BNP, Khaleda Zia, juga dibebaskan dari tahanan rumah selama bertahun-tahun, kata pernyataan presiden dan partainya.

Zia, 78 tahun, yang kondisi kesehatannya kini memburuk, dipenjarakan oleh musuh bebuyutannya, Hasina, karena tuduhan korupsi pada tahun 2018.

"Kami percaya pada Dr Yunus," tulis Asif Mahmud, pemimpin utama kelompok Mahasiswa Melawan Diskriminasi (SAD) diFacebook.

Yunus belum mengomentari seruan untuk memimpin namun ia mengatakan dalam sebuah sesi wawancara dengan media di India bahwa Bangladesh telah menjadi negara yang tertekan di bawah pemerintahan Hasina. "Hari ini seluruh rakyat Bangladesh merasa terbebaskan," kata Yunus.

Balas Dendam

Pada Selasa situasi jalan-jalan di Dhaka sebagian besar tenang dengan arus lalu lintas kembali normal dan toko-toko dibuka, namun kantor-kantor pemerintah sebagian besar tutup sehari setelah kekerasan kacau yang menewaskan sedikitnya 113 orang.

Jutaan warga Bangladesh membanjiri jalan-jalan di Dhaka untuk merayakan pengumuman Waker pada Senin, meskipun massa yang bergembira juga menyerbu dan menjarah kediaman resmi Hasina. Namun ada juga laporan kekacauan dan kemarahan dimana polisi melaporkan massa melancarkan serangan balas dendam terhadap sekutu Hasina.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Luar Negeri
Hendak Terbang, Warga AS Di...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Menkeu Sebut Rupiah Rp18.000 Masih dalam Perhitungan Pemerintah

Menkeu Sebut Rupiah Rp18.000 Masih dalam Perhitungan Pemerintah

04 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.