Mengenal Schizoanalisis, Metode Alternatif untuk Memahami Dorongan Kapitalisme dan Politik
📅 Minggu, 04 Agu 2024, 12:30 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: The Conversation/Shutterstock
Yogie Pranowo, Universitas Multimedia Nusantara
Masyarakat Indonesia saat ini tampaknya tengah lelah menghadapi berbagai "ulah" yang dilakukan negara, mulai dari bea cukai yang menahan barang yang seharusnya bebas pajak, polemik putusan Mahkamah Agung (MA) soal syarat umur kepala daerah, hingga kontroversi Tabungan Perumahan Rakyat (Tapera).
Semua itu tak lepas dari unsur politis karena terkait kekuasaan pemerintahan saat ini maupun kepentingan pemerintahan selanjutnya.
Persoalan politis ini bisa dijelaskan dengan berbagai metode, salah satunya schizoanalisis dari Gilles Deleuze, seorang filsuf Prancis dan Félix Guattari, seorang psikoanalis dan aktivis politik Prancis dalam buku Anti-Oedipus (1972).
Sebaiknya Anda baca juga:
Metode schizoanalisis melihat bagaimana keinginan manusia bukan hanya sesuatu yang pasif, tetapi bisa menjadi penggerak utama dalam menciptakan perubahan sosial.
Dalam konteks masyarakat kapitalis modern, schizoanalisis dapat digunakan untuk membongkar bagaimana kekuasaan dan kontrol bekerja, serta bagaimana keinginan manusia dapat digunakan untuk melawan dan mengubah struktur-struktur yang ada. Sementara secara politis, gerakan ini menunjukkan bagaimana keinginan manusia bisa menjadi kekuatan produktif yang menciptakan perubahan sosial yang signifikan.
Schizoanalisis untuk memahami kapitalisme
Sebaiknya Anda baca juga:
Deleuze dan Guattari berpendapat bahwa keinginan manusia memiliki potensi revolusioner yang besar. Dalam masyarakat kapitalis, keinginan sering kali dikontrol dan diarahkan untuk mendukung struktur kekuasaan yang ada. Melalui schizoanalisis, mereka mengusulkan untuk membebaskan keinginan dari kontrol ini dan mengarahkannya pada tujuan-tujuan yang lebih bebas dan kreatif.
Sebagai contoh, kapitalisme sering mengomodifikasi keinginan manusia dengan cara mengarahkannya pada konsumsi barang dan jasa. Misalnya, hasrat untuk menjadi bahagia sering kali dimanipulasi oleh industri iklan untuk membeli produk tertentu. Iklan-iklan ini menciptakan citra bahwa kebahagiaan dapat dicapai melalui pembelian produk tertentu, seperti mobil mewah, pakaian bermerek, atau gadget terbaru.
Schizoanalisis berusaha membongkar proses ini dengan menunjukkan bahwa keinginan untuk bahagia sebenarnya bisa diarahkan pada hal-hal yang lebih autentik dan tidak dimediasi oleh konsumsi barang.
Misalnya, keinginan akan kebahagiaan dapat diwujudkan melalui hubungan sosial yang lebih bermakna, kegiatan kreatif, atau keterlibatan dalam komunitas. Dengan cara ini, schizoanalisis tidak hanya mengidentifikasi manipulasi pasar terhadap keinginan individu tetapi juga menawarkan alternatif untuk mewujudkan keinginan tersebut secara lebih memuaskan.
Schizoanalisis menekankan bahwa membebaskan keinginan dari kontrol pasar bukan hanya perubahan psikologis, tetapi juga perubahan sosial dan politik yang radikal .
Artinya, schizoanalisis dapat mendorong masyarakat untuk mempertanyakan norma dan nilai yang dipaksakan oleh kapitalisme, dengan mendukung gerakan yang menolak konsumerisme berlebihan, seperti gerakan keberlanjutan, ekonomi berbasis komunitas, atau gerakan yang memprioritaskan kesejahteraan manusia dan lingkungan daripada keuntungan ekonomi.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!