Keamanan Pangan Lama Diabaikan karena Terlena Impor
📅 Kamis, 01 Agu 2024, 00:04 WIB | Oleh: Tim Redaksi"Kita telah membiarkan itu sekian lama karena terlena oleh solusi impor," kata Dwijono.
Dwijono mengatakan mulai saat ini dibutuhkan solusi inovatif, seperti optimalisasi lahan pekarangan dan perbaikan lahan marginal agar dapat dimanfaatkan untuk produksi hasil pertanian melalui konsep pertanian vertikal.
"Beberapa percobaan di beberapa daerah sudah mengarah ke pemanfaatan atap rumah untuk memproduksi bahan pangan dalam rangka memanfaatkan area untuk pangan selain pekarangan atau homeyard," jelasnya.
Selain itu, dia menekankan pentingnya pemanfaatan pupuk organik sebagai alternatif untuk memperbaiki produktivitas lahan pertanian yang menurun. Ia juga menyarankan perbaikan benih ke arah benih berkualitas (bersertifikat) dan perbaikan saluran irigasi yang lancar sebagai langkah strategis untuk meningkatkan hasil pertanian.
Sebaiknya Anda baca juga:
Sementara itu, peneliti Mubyarto Institute, Awan Santosa, mengatakan semua pihak harus sadar bahwa ancaman krisis pangan itu nyata, senyata dampak pemanasan global dan perubahan iklim yang mengancam ketersediaan pangan juga.
"Makanya perlu gerakan bersama revitalisasi kedaulatan pangan untuk memperbaiki produksi, tata niaga/distribusi, dan konsumsi pangan lokal," kata Awan.
Kesejahteraan Petani
Sebaiknya Anda baca juga:
Pada kesempatan yang berbeda, Koordinator Nasional Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan (KRKP), Said Abdullah, mengatakan masalah yang terjadi saat ini harus menjadi perhatian utama. Sebab, faktanya sektor pertanian (pangan) menjadi tiang penyangga negara selama ini.
Dia pun berharap kebijakan dan program yang inovatif akan mendorong peningkatan produksi, termasuk kesejahteraan petani agar mereka termotivasi untuk menanam.
"Perlu terobosan dan inovasi dengan orientasinya tidak hanya pada produksi, tetapi juga pada kesejahteraan petani tadi," kata Said.
Sementara itu, Kepala Pusat Pengkajian dan Penerapan Agroekologi Serikat Petani Indonesia (SPI), Muhammad Qomarunnajmi, mengakui masalah kesuburan yang menurun. Sebagai contoh, sebagian besar tanah kita kandungan bahan organiknya di bawah 5 persen. Begitu juga potential of hydrogen (pH) tanahnya cenderung asam. Potential of hydrogen (pH) merupakan salah satu faktor penting yang menunjukkan tingkat keasaman atau unsur basa suatu tanah.
Tingkat pH tanah mempengaruhi ketersediaan nutrisi bagi tanaman serta aktivitas mikroorganisme dalam tanah.
"Perlu upaya untuk meningkatkan pH tanah dan kandungan bahan organik. Ini semua harus dilakukan untuk meningkatkan produksi," tegasnya.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!