Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Keamanan Pangan Lama Diabaikan karena Terlena Impor

📅 Kamis, 01 Agu 2024, 00:04 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Keamanan Pangan Lama Diabaikan karena Terlena Impor Doc: ANTARA/Basri Marzuki
Ket. Mengancam Ketahanan Pangan I Petani mencabut bibit padi dari persemaian untuk persiapan tanam di Desa Baluase, Sigi, Sulawesi Tengah, beberapa waktu lalu. Produktivitas pertanian yang terus menyusut menjadi ancaman serius bagi ketahanan pangan nasional.

» Penurunan kualitas tanah menyebabkan produktivitas beras relatif stagnan dalam 10-15 tahun terakhir.

» Perlu terobosan dan inovasi dengan orientasinya tidak hanya pada produksi, tetapi juga pada kesejahteraan petani.

JAKARTA - Indonesia dipastikan akan menghadapi tantangan keamanan pangan, baik saat ini maupun di masa mendatang, karena populasi penduduk yang terus bertambah, sedangkan produktivitas pertanian terus menurun.

Direktur Utama Perum Bulog, Bayu Krisnamurthi, dalam sebuah diskusi di Jakarta, Rabu (31/7), mengatakan dengan proyeksi peningkatan penduduk sebesar 50 juta jiwa dalam dua dekade mendatang maka ketersediaan pangan di Indonesia semakin terancam. Kondisi tersebut tidak terlepas dari menurunnya kualitas tanah dan berkurangnya jumlah petani, yang berakibat pada penurunan produksi serta kenaikan harga pangan.

Meskipun Indonesia telah mencapai kemajuan signifikan dalam produktivitas beras beberapa dekade terakhir, namun pertumbuhan itu jelasnya relatif stagnan dalam 10-15 tahun terakhir.

Degradasi tanah, terutama disebabkan oleh eksploitasi berlebihan, telah menjadi perhatian utama, khususnya di wilayah Jawa. Menurut data Bulog, ancaman krisis pangan kian terasa, khususnya dari sisi penurunan produksi tanaman pangan.

Sebagai contoh, produksi beras nasional dari Januari-April 2024 menurun 17,74 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu, dari 22,55 juta ton menjadi 18,55 juta ton. Karena itu, Bayu menyatakan perlu ada intervensi untuk mengatasi tantangan-tantangan tersebut, salah satunya melalui pemanfaatan teknologi.

Data menunjukkan bahwa penerapan bioteknologi dalam pertanian telah berhasil meningkatkan pendapatan petani secara signifikan. Sebagai contoh, pada 1996 hingga 2018, bioteknologi mampu meningkatkan nilai produksi pertanian sampai 225 miliar dollar AS.

"Tapi kuncinya, teknologi itu harus bisa diterapkan dan digunakan oleh para petani. Karena pada akhirnya yang memproduksi pangan adalah para petani," jelas Bayu.

Biotechnology and Seed Manager CropLife Indonesia, Agustine Christela, menambahkan bahwa penerapan benih bioteknologi memungkinkan petani untuk meminimalisir potensi kehilangan hasil. Benih bioteknologi dirancang untuk memiliki sifat unggul. Artinya, ketika ditanam, tanaman yang dihasilkan bisa lebih resisten terhadap hama, gulma, penyakit, ataupun kondisi lingkungan ekstrem.

Menurut Agustine, dengan pemanfaatan benih bioteknologi, potensi kehilangan hasil pertanian bisa ditekan hingga 10 persen, yang berarti ada peningkatan produksi panen yang signifikan bagi petani di lahan terbatas.

Berbanding Terbalik

Guru Besar Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM), Dwijono Hadi Darwanto, yang diminta pendapatnya mengatakan bahwa laju pertambahan penduduk yang berbanding terbalik dengan produktivitas pertanian yang terus menyusut memang menjadi ancaman serius bagi ketahanan pangan nasional.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Luar Negeri
Bantu Rumah Tangga, Jepang ...
Luar Negeri
Resmi Masuk DK PBB, Kirgist...
Luar Negeri
PBB Mendesak Transpransi Je...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Menkeu Sebut Rupiah Rp18.000 Masih dalam Perhitungan Pemerintah

Menkeu Sebut Rupiah Rp18.000 Masih dalam Perhitungan Pemerintah

04 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.