Budaya Membaca di Indonesia Rendah Berkaitan dengan Norma Sosial
📅 Jumat, 26 Jul 2024, 14:58 WIB | Oleh: Tim PenulisKegiatan membaca bersama di ruang publik semacam ini, jika digalakkan secara masif di berbagai daerah, akan memiliki daya yang kuat untuk mendorong masyarakat menjadi tertarik untuk membaca buku, melakukannya secara terus-menerus, hingga pada akhirnya membangun kebiasaan membaca buku dengan sendirinya.
Tentu saja ada banyak upaya atau intervensi lain yang bisa dilakukan untuk membangun norma sosial. Namun, upaya-upaya tersebut tidak akan mendapat perhatian jika kita gagal memandang masalah rendahnya budaya membaca di Indonesia dengan perspektif yang benar dan utuh.
Sudah saatnya pemerintah dan masyarakat memperluas cara pandang dengan mempertimbangkan faktor-faktor lain selain akses, termasuk norma sosial yang tidak kalah penting dalam upaya pembangunan budaya membaca di Indonesia.
Artikel ini juga mendapatkan saran dan masukan dari Melania Utami Nirwan, Hanita Putra Djaya, Febrianty Hasanah, Nur Inayah Musa, Nurmisuari Salihu, dan Sri Ayu Pratiwi dari Tim Riset Perilaku Membaca Kota Makassar (LONTAR) dan The Book Club Makassar. Tim penulis mengucapkan terima kasih atas kontribusi pemikiran yang diberikan.![]()
Sebaiknya Anda baca juga:
Anhar Dana Putra, Associate professor, Politeknik STIA LAN Makassar; Andika, Lecturer in Geophysics, Universitas Hasanuddin, dan Andi Riswan Mohamad, Lecturer in Linguistics and Literary Studies, Universitas Negeri Makassar
Artikel ini terbit pertama kali di The Conversation. Baca artikel sumber.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!