Budaya Membaca di Indonesia Rendah Berkaitan dengan Norma Sosial
📅 Jumat, 26 Jul 2024, 14:58 WIB | Oleh: Tim PenulisArgumen tersebut diperkuat dengan data yang menunjukkan bahwa terdapat lebih dari 50% dari total responden yang beranggapan bahwa circle (lingkaran pertemanan) mereka sendiri tidak mendukung perilaku membaca.
Selain itu, keluarga yang seringkali menjadi faktor penting terbentuknya perilaku juga tidak cukup dominan mendukung perilaku membaca. Sekalipun sebagian besar (54,8%) merasa didorong oleh keluarga untuk membaca buku, 45,2% responden masih merasa perilaku membacanya tidak didukung.
Data di atas juga didukung oleh studi tahun 2021 yang menunjukkan bahwa ketika perilaku membaca dianggap sebagai kegiatan yang dihargai dan didukung oleh orang tua, orang-orang cenderung mengembangkan kebiasaan membaca yang kuat.
Dibutuhkan segera: intervensi
Sebaiknya Anda baca juga:
Temuan-temuan di atas menegaskan pentingnya intervensi dalam membangun norma sosial yang pro terhadap perilaku membaca sehingga budaya membaca di Indonesia dapat lebih terbentuk.
Beberapa upaya intervensi yang dapat dilakukan antara lain:
1. Kampanye media sosial
Sebaiknya Anda baca juga:
Menampakkan perilaku membaca sebagai aktivitas yang lekat dan dekat dengan anak muda bisa menjadi intervensi yang efektif. Inisiatif ini sudah dilakukan oleh beberapa gerakan masyarakat seperti gerakan Indonesia Book Party yang berbasis di berbagai kabupaten dan kota di Indonesia, atau gerakan Baca Di Surabaya yang berpusat di Kota Surabaya.
Inisiatif-inisiatif semacam ini punya potensi mengeliminasi persepsi-persepsi negatif yang melekat pada perilaku membaca buku dan justru membuat perilaku membaca terlihat keren. Semakin keren terlihat, semakin banyak anak muda yang ingin ikut serta. Apalagi jika gerakan ini dibarengi dengan pelibatan public figure atau influencer, maka perilaku membaca akan menjadi tren populer yang akan digemari anak-anak muda.
Riset tahun 2022 tentang dampak Influencer media sosial membuktikan bahwa influencer dipersepsikan oleh publik sebagai figur yang persuasif dan dapat dipercaya (trustworhty) sehingga memiliki kekuatan untuk memengaruhi perilaku publik.
Sebagai individu kita juga dapat berperan dalam membangun norma sosial yang mendukung perilaku membaca buku. Dengan sering-sering mengunggah foto sedang membaca buku di media sosial, perilaku membaca akan diidentifikasi sebagai perilaku yang identik dengan masyarakat kita. Sehingga, orang-orang yang belum memiliki kebiasaan membaca buku akan merasakan FoMO (Fear of Missing Out) dan akhirnya mulai membaca buku agar diterima masyarakat.
2. Program membaca bersama
Mengadakan kegiatan membaca bersama di perpustakaan desa, di sekolah, atau di ruang publik dapat menciptakan persepsi bahwa lingkungan tersebut adalah lingkungan yang mendukung budaya membaca. Salah satu kegiatan yang dapat dijadikan contoh baik adalah Baca Bareng yang sudah diterapkan di Jakarta.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!