Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Budaya Membaca di Indonesia Rendah Berkaitan dengan Norma Sosial

6 Jumat, 26 Jul 2024, 14:58 WIB | Oleh: Tim Penulis
Budaya Membaca di Indonesia Rendah Berkaitan dengan Norma Sosial Budaya Membaca di Indonesia Rendah Berkaitan dengan Norma Sosial Doc: ANTARA/Maulana Surya
Ket. Sejumlah anak didampingi orangtuanya membaca buku dari Perpustakaan Dauzan pada Hari Bebas Kendaraan Bermotor di Solo, Jawa Tengah, Minggu (23/2/2020).

Anhar Dana Putra, Politeknik STIA LAN Makassar; Andika, Universitas Hasanuddin, dan Andi Riswan Mohamad, Universitas Negeri Makassar

Sejak keikutsertaannya pertama kali pada tahun 2000 dalam Program for International Student Assessment (PISA) dari Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD), organisasi inter-governmental yang bermisi untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik melalui pembangunan kebijakan, Indonesia masih betah berada di klasemen bawah. Data PISA terbaru tahun 2022 menunjukkan, Indonesia menduduki peringkat 69 dari 81 Negara yang ikut serta.

Dari segi literasi saja, skor Pisa Indonesia di tahun 2022 khusus untuk kategori kemampuan membaca berada di peringkat ke 71 dari 81 negara dengan skor 371, di bawah rata-rata skor membaca global yakni 476. Sementara itu, survei Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2020 menunjukkan hanya terdapat 13,11% orang Indonesia yang membaca buku dalam sebulan terakhir selama periode survei tersebut. Ini mengindikasikan bahwa budaya membaca di Indonesia masih lemah.

Sebenarnya, pemerintah telah berupaya membenahi persoalan ini dengan berbagai program. Sebut saja program Satu Desa Satu Perpustakaan, Gerakan Literasi Sekolah, atau Sastra Masuk Kurikulum.

Namun, upaya-upaya intervensi tersebut tampaknya tidak cukup untuk membangun budaya membaca di Indonesia. Sebab, menurut kami, ada perspektif yang tidak utuh dari cara pandang pemangku kepentingan dalam melihat budaya membaca di Indonesia. Selama ini, segala intervensi yang dilakukan masih terlalu berfokus pada pembangunan akses terhadap buku-buku bacaan. Padahal, selain akses, ada faktor lain yang juga berperan dalam menciptakan budaya baca, yaitu norma sosial.

Norma sosial dan budaya baca

Norma sosial merupakan seperangkat hal yang diterima atau dianggap normal (pantas) oleh orang-orang dalam suatu kelompok secara kolektif. Norma sosial dapat berfungsi sebagai navigator bagi seseorang untuk menentukan apakah perbuatan yang ia lakukan dapat diterima atau tidak oleh masyarakat sekaligus memprediksi bagaimana orang lain akan menanggapi perilakunya secara sosial.

Icek Ajzen, seorang psikolog sosial dan profesor emeritus di Universitas Massachusetts Amherst, Amerika Serikat (AS) dalam teorinya, Theory of Planned Behaviour (teori perilaku yang direncanakan,) menjelaskan bahwa persepsi terhadap norma sosial adalah salah satu variabel yang menentukan munculnya intensi seseorang untuk melakukan sesuatu.

Artinya, sebelum melakukan sesuatu, seseorang biasanya akan memeriksa dulu apakah lingkungan sekitarnya bisa menerima perilaku yang akan ia lakukan. Jika seseorang meyakini bahwa lingkungannya tidak akan mendukung perilakunya, maka ia akan cenderung mengurungkan niat untuk melakukan sesuatu tersebut.

Dalam konteks budaya membaca, norma sosial terhadap perilaku membaca merupakan seperangkat keyakinan kolektif yang memungkinkan masyarakat memandang perilaku membaca buku sebagai perilaku yang normal dan wajar untuk dilakukan.

Jika akses memberi seseorang kesempatan untuk membaca dengan menyediakan buku bacaan, norma sosial berperan untuk memelihara perilaku membaca buku sebagai sebuah perilaku yang dianggap normal, atau bahkan dirayakan, dalam masyarakat.

Normal sosial terkait membaca di Indonesia

Di Indonesia, norma sosial yang mendukung perilaku membaca tampaknya belum terbentuk. Berdasarkan survei perilaku membaca yang kami lakukan pada 503 orang responden pada tahun 2023 di Kota Makassar, Sulawesi Selatan, sebagian besar responden masih beranggapan bahwa lingkungan sosialnya tidak begitu mendukung perilaku membaca buku.

Saat ditanya apa yang orang lain pikirkan tentang dirinya ketika membaca buku di tempat umum? Sebagian besar responden meyakini bahwa mereka akan dicap negatif oleh masyarakat. Terdapat 30% responden (porsi terbesar) yang berpikir bahwa mereka akan dicap terlalu serius dan 23% responden (terbesar ketiga) yang berpikir bahwa mereka akan dicap sok intelek. Temuan ini menunjukkan bahwa orang Indonesia masih menganggap perilaku membaca sebagai perilaku yang dicap negatif oleh lingkungan.

Argumen tersebut diperkuat dengan data yang menunjukkan bahwa terdapat lebih dari 50% dari total responden yang beranggapan bahwa circle (lingkaran pertemanan) mereka sendiri tidak mendukung perilaku membaca.

Selain itu, keluarga yang seringkali menjadi faktor penting terbentuknya perilaku juga tidak cukup dominan mendukung perilaku membaca. Sekalipun sebagian besar (54,8%) merasa didorong oleh keluarga untuk membaca buku, 45,2% responden masih merasa perilaku membacanya tidak didukung.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Angkatan Darat AS Berlatih Menggali Kuburan Massal untuk Skenario Perang dengan Banyak Korban
    Apa mungkin AS akan melakukan invasi darat ke ...
  • Satgas Penertiban Kawasan Hutan Selidiki Perusahaan AK, Jejak Hubungan dengan Oknum Aparat Didalami
    Ditanya siapa ak itu kq malah balik bertanya? ...
  • Andrea Bocelli Bikin Jakarta Terpukau! Konser Romanza Hadirkan Malam Penuh Keajaiban
    Salut banget dengan konser Andrea Bocelli sangat mengharumkan ...
  • Kapasitas Produksi Menganggur, Industri Didesak Bangkit
    Berita yang sangat melegakan bagi kita yang bergerak ...
  • Jakarta Timur Bersiap Jadi Magnet Investasi Baru, Kawasan 370 Hektare Ini Dilirik
    Tidak akan sukses. Catat ini. Ormas sm warlok ...
pasang iklan di koran jakarta
pasang iklan di koran jakarta

Kris Dayanti Ajak Musisi Disabilitas Terus Berkarya

37 menit yang lalu | Ilham Sudrajat

Rona
Kris Dayanti Ajak Musisi Di...
Luar Negeri
Menara Eiffel Tutup karena ...

Pemerintah Segera Buka Rekrutmen CPNS 2026

55 menit yang lalu | Ilham Sudrajat

Nasional
Pemerintah Segera Buka Rekr...
pasang iklan di koran jakarta
Advertisement
Kabar Baik! Pemerintah Buka CPNS November 2026, 139 Ribu Formasi Guru Menanti

Kabar Baik! Pemerintah Buka CPNS November 2026, 139 Ribu Formasi Guru Menanti

06 Nov 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.