Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Tabungan Masyarakat Menurun, Tren Belanja Naik, Haruskah Kita Khawatir?

📅 Jumat, 12 Jul 2024, 13:00 WIB | Oleh: Tim Penulis

Di sisi lain, konsumsi barang tersier seperti pembelian baju baru, yang biasanya meningkat selama Ramadan, tidak terjadi pada tahun ini. Masyarakat lebih memprioritaskan kebutuhan dasar.

Penurunan pembelian barang tersier mencerminkan tekanan ekonomi yang memaksa masyarakat berfokus pada kebutuhan primer. Dengan demikian, peningkatan pengeluaran untuk barang konsumsi dasar dan penurunan konsumsi barang tersier dapat dijelaskan melalui tekanan inflasi yang tinggi dan perubahan prioritas pengeluaran masyarakat kelas bawah selama Ramadan 2024.

Dalam interpretasi grafik di atas, terdapat tiga kelompok ekonomi; "kelompok bawah," "kelompok menengah," dan "kelompok atas," yang masing-masing menunjukkan perilaku berbeda dalam hal perilaku berbelanja (Spending Index/Indeks Pengeluaran/MSI) dan menabung (Saving Index/Indeks Tabungan).

MSI kelompok bawah yang naik drastis dengan Indeks Tabungan yang menurun signifikan menandakan peningkatan kepercayaan konsumen yang tidak sebanding dengan kemampuan menyimpan. Ini mungkin turut dipengaruhi oleh inflasi.

Sementara itu, kelompok menengah dan atas menunjukkan skor Indeks Pengeluaran dan Indeks Tabungan yang lebih mendatar: perilaku pembelanjaan mereka lebih terkendali dan stabil.

Menakar berdasarkan data media sosial

Analisis mendalam mengenai pola konsumsi dan tabungan ini penting untuk mengembangkan kebijakan ekonomi dan sosial yang efektif, mendukung ekonomi yang inklusif, dan memahami tantangan ekonomi yang dihadapi oleh masyarakat kelas bawah.

Terkait fenomena ini, tim peneliti dari Monash Data & Democracy Research Hub menganalisis lebih dari 157 ribu percakapan masyarakat di platform sosial media X/Twitter dan juga lebih dari 123 ribu pemberitaan di media daring selama Januari - April 2024. Kami menggunakan kata kunci adalah tabungan, menabung, THR, belanja, sandwich generation, uang sekolah, dan naik harga.

Hasilnya, kata-kata yang dominan di percakapan media sosial selama Januari hingga April 2024 adalah kata-kata terkait pengeluaran uang seperti "beli", "bayar", "duit" dan juga tujuan pembelanjaan seperti "makan" dan "beras". Namun, selama Maret - April 2024 terdapat distorsi pada percakapan karena kata kunci ini juga digunakan oleh beberapa platform e-commerce? untuk melakukan promosi seperti "promo", "bagi-bagi THR", "giveaway" dan "saldo".

Menarik untuk dicermati bahwa emotikon wajah sedih selalu muncul setiap bulan. Ini yang bisa jadi menandakan adanya kecemasan yang mendalam tentang stabilitas finansial, meskipun ada kegiatan promosi yang dirancang untuk meningkatkan pengeluaran konsumen.

Menganalisis sentimen dengan melibatkan emotikon dapat memberikan wawasan berharga tentang konteks emosional dan sentimen masyarakat terhadap situasi yang sedang dianalisis.

Haruskah kita khawatir?

Pada April 2024, Bank Indonesia meningkatkan suku bunga sebesar 25 basis poin menjadi 6,25%, sebuah langkah yang dilakukan pertama kali sejak Oktober 2023. Kenaikan ini bertujuan untuk memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah di tengah ketegangan geopolitik global dan menjaga inflasi supaya sesuai target.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Kesempatan Emas: UEA Buka 500 Lowongan untuk Pekerja Migran Indonesia

Kesempatan Emas: UEA Buka 500 Lowongan untuk Pekerja Migran Indonesia

04 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.