Tao Sidihoni, Pesona Danau di Atas Danau
📅 Sabtu, 06 Jul 2024, 06:10 WIB | Oleh: Haryo BronoMenurut penuturan para leluhur sekitar danau dulunya adalah hutan lebat dengan rawa-rawa di tengahnya yang saat ini telah menjadi bagian dari danau.
Ketika kemarau panjang melanda warga kampung mengalami kesulitan mendapatkan air. Warga kemudian memanfaatkan air dari danau ini untuk berbagai kebutuhan, baik untuk mencuci, memasak, bahkan hingga memandikan kerbau. Sedangkan hilangnya pepohonan disekitarnya karena banyak ditebang oleh warga untuk berbagai kebutuhan, sehingga kini menjadi padang rumput.
Kerbau yang memakan rumput dan minum dan mandi di air Tao Sidihoni adalah pemandangan yang keseharian di sini. Hewan ternak itu digembalakan oleh anak-anak Desa Sabungan Ni Huta. Keberadaan danau seolah menjadi pusat kehidupan di desa itu.
Karena pentingnya Tado Sidihoni, warga terus berusaha menjaga lingkungan alamnya agar tetap lestari. Bahkan untuk bertingkah laku saja mereka patuh dengan apa yang digariskan. Misalnya setiap kali mereka menggunakan airnya mereka akan bersyukur kepada Yang Maha Kuasa.
Sebaiknya Anda baca juga:
"Setiap hari, kami mempergunakan air danau ini, baik untuk minum, mencuci, memandikan kerbau atau kebutuhan lainnya. Tapi, setiap hari juga kami mengucap syukur kepada Mulajadi Nabolon dan permisi marsattabi terhadap para leluhur pendahulu kami setelah mengambil air dari tao ini," ujar Nai Simsim Simare-mare, warga sekitar yang tengah beraktifitas di tepi danau, dikutip dari laman tersebut.
Tao Sidihoni menjadi berkah bagi masyarakat sekitar. Sebelum ada agama masuk, masyarakat selalu mengadakan ritual doa untuk memohon pertolongan dan sebagai tanda rasa syukur. Tradisi yang sampai kini masih lestari adalah Mangarsak Lambe berupa menabuh gendang sehari semalam tanpa henti.
Dalam prakteknya, tradisi ini berarti mengucapkan syukur kepada Yang Kuasa karena sudah memberi hasil panen yang melimpah. Warga kampung yang umumnya bertani dan beternak akan serentak membawa hasil bumi dan ternak mereka sebagai persembahan.
Sebaiknya Anda baca juga:
Untuk upacara tradisi di sekitar Sidihoni, bale-bale didirikan dan tempat sesaji para leluhur, termasuk kepada penguasa-penguasa yang mereka yakini sebagai wakil Tuhan secara gaib di alam Sidihoni. Puji-pujian disampaikan kepada namboru (saudara perempuan dari ayah) mereka, Sittalahi.
Sebagai kearifan lokal untuk menjaga danau dari kerusakan mereka tetap mensakralkan Tao Sidihoni sampai hari ini. Salah satu upacara yang dilakukan di Tao Sidihoni adalah hajatan gondang dapat diartikan sebagai seperangkat alat musik, ansambel musik, sekaligus komposisi lagu. Seremoni ini terbesar terakhir kali digelar pada tahun 2006.
Sebelumnya hajatan gondang pernah dilakukan pada tahun 2004 bertepatan dengan terjadinya tsunami Aceh. Saat itu Tao Sidihoni mengering sehingga dilaksanakan ritual untuk memohon kepada Mulajadi Nabolon atau pencipta alam semesta dan para leluhur agar airnya kembali terisi.
Warga percaya ketika itu air Tao Sidihoni mengering dan keruh atau berubah warna hal ini menjadi tanda bagi penduduk di sana akan terjadi sesuatu. Sesuatu yang terjadi bisa berupa kebaikan ataupun keburukan.
Jika air Tao Sidihoni jernih, volumenya penuh dan sedikit membiru, itu merupakan pertanda baik bagi warga setempat. Mereka akan mengalami kemakmuran dengan panen yang melimpah, termasuk juga ternak-ternak yang semakin gemuk.
Perubahan warna air danau menurut Gagarin secara geologi merupakan fenomena biasa. Penyebabnya adalah karena adanya erosi-erosi kecil. Sebab endapan lempung kedap air memiliki ukuran butir yang sangat halus dan rapat, yang membuat seperti semen sehingga air tidak mampu melewatinya.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!