Kina, Pohon yang Mengubah Peta Dunia
📅 Jumat, 05 Jul 2024, 06:10 WIB | Oleh: Haryo Brono
Doc: AFP/Roberto CORTIJO
Di pertemuan lembah Andes dan Amazon di Peru barat daya merupakan awal dikenalnya kina oleh masyarakat Barat. Obat ini lalu digunakan oleh negara-negara kolonial untuk bertahan dari serangan malaria di negeri jajahan.
Taman Nasional Manú yang hijau menghampar di tempat pertemuan lembah Andes dan Amazon di Peru barat daya adalah salah satu sudut planet dengan keanekaragaman hayati tertinggi. Cagar alam seluas 1,5 juta hektare yang rimbun dan terdaftar di UNESCO, diselimuti kabut dan ditutup oleh tanaman merambat yang tak beraturan yang sebagian besar dari tumbuhan itu belum tersentuh manusia.
Namun, jika menerobos hutan hujan yang lebat, menyeberangi sungai yang deras, dan menghindari jaguar dan puma, maka mungkin akan dijumpai salah satu dari sedikit spesimen pohon Cinchona officinalis atau kina yang terancam punah.
Bagi orang awam, pohon tipis setinggi 15 meter itu mungkin menyatu dengan labirin yang lebat. Namun, tanaman berbunga yang berasal dari kaki bukit Andes ini telah menginspirasi banyak mitos dan membentuk sejarah manusia selama berabad-abad.
"Ini mungkin bukan pohon yang terkenal," kata Nataly Canales, yang dibesarkan di wilayah Amazon Peru di Madre de Dios, kepada BBC. "Namun, senyawa yang diekstrak dari tanaman ini telah menyelamatkan jutaan nyawa dalam sejarah manusia," imbuh dia.
Sebaiknya Anda baca juga:
Saat ini, Canales adalah seorang ahli biologi di Museum Sejarah Alam Denmark yang menelusuri sejarah genetik kina. Seperti yang dijelaskannya, kulit pohon langka inilah yang memberi dunia kina, obat antimalaria pertama di dunia.
Selama berabad-abad, malaria, penyakit yang disebabkan oleh parasit yang ditularkan nyamuk, telah menjangkiti orang-orang di seluruh dunia. Penyakit ini pernah menghancurkan Kekaisaran Romawi setelah menewaskan sekitar 150 hingga 300 juta orang pada abad ke-20.
Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), hampir setengah dari populasi dunia masih tinggal di daerah tempat penyakit ini ditularkan. Pengobatan abad pertengahan untuk menyembuhkan mal aria yang artinya udara buruk dalam bahasa Italia, mencerminkan kepercayaan yang salah.
Sebaiknya Anda baca juga:
Masyarakat Roma percaya penyakit ini ditularkan melalui udara dan berkisar dari pertumpahan darah hingga amputasi anggota tubuh hingga melubangi tengkorak. Namun pada abad ke-17, obat pertama yang diketahui untuk penyakit ini diduga ditemukan di Pegunungan Andes itu.
Menurut legenda, kina ditemukan sebagai obat malaria pada tahun 1631 ketika Countess of Cinchona, seorang perempuan bangsawan Spanyol yang menikah dengan raja muda Peru, jatuh sakit. Ia mengalami demam tinggi dan menggigil parah sebuah gejala klasik dari malaria.
Karena sangat ingin menyembuhkannya, raja muda itu memberikan istrinya ramuan yang dibuat oleh para Yesuit yang terbuat dari kulit pohon Andes dan dicampur dengan sirup cengkeh dan daun mawar serta tanaman kering lainnya.
Sang putri segera pulih dan tanaman ajaib yang menyembuhkannya diberi nama "kinona" untuk menghormatinya. Kini, tanaman itu menjadi pohon nasional Peru dan Ekuador. Orang-orang di seluruh Eropa mulai menulis tentang obat malaria 'ajaib' yang ditemukan di hutan-hutan Dunia Baru, sebutan untuk benua Amerika.
Kebanyakan sejarawan kini membantah kisah ini, tetapi seperti banyak legenda lainnya, sebagian yang lain ada benarnya. Kina, senyawa alkaloid yang ditemukan di kulit pohon kina, memang dapat membunuh parasit penyebab malaria. Namun, zat itu tidak ditemukan oleh para pendeta Yesuit Spanyol.
"Kina sudah dikenal oleh suku Quechua, Cañari, dan Chimú yang mendiami wilayah Peru, Bolivia, dan Ekuador modern sebelum kedatangan bangsa Spanyol," papar Canales. "Merekalah yang memperkenalkan kulit pohon itu kepada para Yesuit Spanyol," imbuh dia.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!