Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Kina, Pohon yang Mengubah Peta Dunia

📅 Jumat, 05 Jul 2024, 06:10 WIB | Oleh:

Para Yesuit menghancurkan kulit pohon berwarna kayu manis itu menjadi bubuk kental dan pahit yang mudah dicerna. Ramuan itu kemudian dikenal sebagai serbuk Yesuit dan tak lama kemudian, orang-orang di seluruh Eropa mulai menulis tentang obat ajaib yang ditemukan di hutan-hutan Dunia Baru.

Apotek Dunia

Pada tahun 1640-an, para Jesuit telah membangun rute perdagangan untuk mengangkut kulit kayu kina ke seluruh Eropa. Meskipun mendapat sambutan skeptis oleh sejumlah dokter, pada tahun 1677, kulit kayu kina pertama kali didaftarkan oleh Royal College of Physicians dalam London Pharmacopoeia sebagai obat resmi yang digunakan oleh dokter Inggris untuk mengobati pasien.

Untuk memenuhi kebutuhan terhadap kina, orang Eropa menyewa penduduk setempat untuk menemukan pohon kinayang berharga di hutan hujan. Mereka lalu mengikis kulitnya dengan parang dan membawanya ke kapal kargo di pelabuhan Peru.

Meningkatnya permintaan terhadap kina dengan cepat membuat Spanyol mendeklarasikan Andes sebagai "apotek dunia". Seperti yang dijelaskan oleh Canales, sejak itu pohon kina menjadi langka. Nilainya melonjak selama abad ke-19, ketika malaria menjadi salah satu ancaman terbesar yang dihadapi oleh pasukan Eropa yang ditempatkan di koloni-koloni di luar negeri.

Menurut Dr Rohan Deb Roy, penulis Malarial Subjects, memperoleh pasokan kina yang cukup menjadi keuntungan strategis dalam perlombaan untuk mendominasi dunia apalagi kulit kina kemudian berubah menjadi salah satu komoditas terpanas di dunia.

Kina sering dikutip oleh para sejarawan sebagai salah satu 'alat imperialisme' utama yang menggerakkan Kekaisaran Inggris. "Tentara Eropa yang terlibat dalam perang kolonial sering meninggal karena malaria," kata Deb Roy. "Obat-obatan seperti kina memungkinkan para prajurit untuk bertahan hidup di koloni-koloni tropis dan memenangkan perang," imbuh dia.

Faktanya, antara tahun 1848 dan 1861, pemerintah Inggris menghabiskan dana setara dengan 6,4 juta poundsterling setiap tahun untuk mengimpor kulit kina guna disimpan bagi pasukan kolonialnya. Akibatnya, kina sering dikutip oleh para sejarawan sebagai salah satu alat imperialisme utama yang menggerakkan Kerajaan Inggris.

Bukan hanya kulit kina yang berharga karena bijinya juga menjadi komoditas yang banyak diminati. "Pemerintah Inggris dan Belanda ingin menanam kina di koloni mereka sendiri untuk menghentikan ketergantungan mereka pada Amerika selatan," jelas Deb Roy.

Namun, memilih benih yang tepat tidaklah mudah. Masing-masing dari 23 spesies kina memiliki kandungan kina yang berbeda. Berkat penduduk setempat yang memiliki pengetahuan botani, orang Eropa dapat mengamankan spesies yang kaya akan kina untuk diekspor ke luar negeri. hay/I-1

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Industri Akomodasi Melaju Kencang, Efek Berganda Pariwisata Dinanti
    Membaca data penyerapan tenaga kerja hingga hampir 26 ...
  • Pasar Eropa Terbuka Lewat IEU-CEPA, Industri Tekstil Indonesia Punya Peluang Baru
    Artikel yang sangat mencerahkan. Sepakat dengan pandangan Kadin ...
  • Produksi Kapal Baru RI Melonjak 251 Persen, Menperin: Negara Maritim Jangan Kalah di Laut Sendiri
    Menanggapi lonjakan produksi kapal baru hingga 251 persen ...
  • Bidik Transformasi Industri Indonesia, Danantara Gelar Forum Teknologi dan Investasi Global
    Fokus Danantara pada industrialisasi inovasi dalam forum DTIIF ...
  • Produksi Dipangkas 50 Persen, Industri Keramik Terancam Lumpuh Gara-Gara Gas!
    Membaca kondisi industri keramik yang terpaksa memangkas kapasitas ...
Advertisement
Homedec Detail Sidebar
pasang iklan di koran jakarta
Megapolitan
DKI Jakarta Benahi Kabel Se...

Arema FC Mengikuti Langkah PSIM, Memecat Pelatih

45 menit yang lalu | Aloysius Widiyatmaka

Olahraga
Arema FC Mengikuti Langkah ...
Megapolitan
Rano karno Buka Jakarta Fin...

Pengamat : Salvage KMP Batumandi Patut Dicontoh

1 jam lalu | Mohammad Zaki Alatas

Nasional
Pengamat : Salvage KMP Batu...
pasang iklan di koran jakarta
Advertisement
Sabet 14 Medali Sehari, Indonesia Makin Kokoh di 9 Besar Asian Para Games 2026

Sabet 14 Medali Sehari, Indonesia Makin Kokoh di 9 Besar Asian Para Games 2026

23 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.