Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Kerajaan Ryukyu yang Dianeksasi Jepang

📅 Rabu, 03 Jul 2024, 06:25 WIB | Oleh:
Kerajaan Ryukyu yang Dianeksasi  Jepang Doc: afp/ TOSHIFUMI KITAMURA

Pulau Okinawa merupakan pulau terbesar di Kepulauan Okinawa. Nama pulau ini sekaligus menjadi nama prefektur dengan Naha sebagai ibu kotanya. Dengan luas 1.201,03 kilometer persegi dan dan jaraknya sekitar 640 kilometer sebelah selatan pulau-pulau utama Jepang pulau ini dekat dengan Pulau Taiwan di barat daya dan daratan Asia di sebelah barat.

Hubungan Okinawa dengan benua Asia dilakukan melalui daratan pada zaman kuno. Hal ini berdasarkan teori yang didukung oleh catatan fosil hewan dan tumbuhan. Penemuan fosil tulang manusia dari manusia gua Yamashita yang berasal dari sekitar 32.000 tahun yang lalu telah mengkonfirmasi bahwa manusia telah hidup di Okinawa selama ribuan tahun.

Sisa-sisa manusia purba, manusia Minatogawa, yang ditemukan di daerah Minatogawa di Desa Gushikami, yang sekarang menjadi Kota Yaese, telah terbukti berusia setidaknya 17.000 tahun. Meskipun rincian tentang manusia paling awal ini belum terungkap, mereka diyakini telah tiba di Okinawa dari daratan Tiongkok dengan menyeberangi jembatan darat kuno.

Selain itu, sisa-sisa manusia dan artefak yang ditemukan di berbagai tempat di Okinawa juga menunjukkan bahwa orang Okinawa mulai berhubungan dengan negara-negara tetangga sejak abad ke-12 atau ke-13.

Pada tahun 1429, Kerajaan Ryukyu didirikan oleh Sho Hashi, pendiri Dinasti Sho Pertama di Okinawa, dengan menyatukan tiga kerajaan dominan Nanzan, Chuzan, dan Hokuzan, melalui penaklukan. Dinasti Sho pertama hanya bertahan selama tujuh generasi, dengan Kanamaru kemudian mengambil alih takhta dan memulai Dinasti Sho Kedua.

Periode sejarah Okinawa ini dikenal sebagai era keemasan perdagangan, di mana Kerajaan Ryukyu aktif berdagang dengan Tiongkok, Jepang, dan negara-negara Asia lainnya. Kerajaan ini berkembang pesat sebagai kerajaan maritim, dan bahkan diakui oleh negara-negara Eropa.

Budaya unik Ryukyu sebagian besar disebabkan oleh beragamnya barang dan budaya asing yang dibawa melalui perdagangan selama Dinasti Sho Kedua. Namun, pada awal abad ke-17, Kerajaan Ryukyu dimasukkan ke dalam sistem feodal Jepang di bawah keshogunan, dan kemudian dianeksasi oleh Jepang dengan lahirnya pemerintahan Meiji. Hal ini menandai berakhirnya sejarah Kerajaan Ryukyu selama 500 tahun dan berdirinya Prefektur Okinawa.

Kisah tentang kunjungan kapten Angkatan Laut Inggris, Basil Hall, ke Ryukyu, dan pengalamannya berinteraksi dengan penduduk setempat pada awal abad ke-19 telah diterbitkan dan terjual lebih dari satu juta eksemplar. Dalam bukunya, Kapten Hall menggambarkan Ryukyu sebagai utopia. "Orang-orang di Ryukyu sangat beradab. Mereka sama sekali tidak tamak dan tampak sangat puas dengan kehidupan mereka," tulis Hall. hay/I-1

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Nasional
Atap bangunan sekolah SDN d...
Ekonomi
Nilai tukar rupiah terendah...

Operasi uji emisi kendaraan di Tangerang

33 menit yang lalu | Wahyu AP

Megapolitan
Operasi uji emisi kendaraan...
Megapolitan
Pemkot Jakut Vaksinasi Ribu...
Ekonomi
Industri sepatu rumahan kua...

Pelaksanaan program penghapusan bentor

38 menit yang lalu | Wahyu AP

Nasional
Pelaksanaan program penghap...
Megapolitan
Pemprov DKI gelar program o...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Rupiah Tembus Rp18.000 per Dollar Pagi Ini, Dibayangi Tekanan Global dan Domestik

Rupiah Tembus Rp18.000 per Dollar Pagi Ini, Dibayangi Tekanan Global dan Domestik

04 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.