Peretasan PDN Bukti Negara Gagal Jaga Keamanan Nasional
📅 Selasa, 02 Jul 2024, 00:04 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Doc: antara
» Kesalahan pemerintah sehingga PDN diretas karena menggunakan perangkat keamanan data yang usang.
» Peretasan menunjukkan political will pemerintah yang rendah untuk mencegah dan melindungi berbagai data penting.
JAKARTA - Peretasan data milik Pusat Data Nasional (PDN) Indonesia sangat disayangkan karena hal itu menunjukkan kegagalan aparat negara menjaga data-data yang tentu sangat berkaitan dengan keamanan nasional.
Serangan ke PDN itu boleh dikatakan sangat miris karena nyaris tidak ada serangan serupa yang menimpa negara lain. Di negara lain yang diserang oleh hacker adalah perusahaan swasta karena tingkat keamanan siber atau cyber security-nya belum ketat.
Sebaiknya Anda baca juga:
Kejadian sekarang itu merupakan hal yang luar biasa karena dengan diretas maka data akan hilang. Hal itu juga menunjukkan kurang seriusnya pemerintah pada keamanan data, padahal data menyangkut upaya menjaga negara.
Co-Founder Summaverse.com dan ahli AI serta peretas etis, Anggoro, sangat menyayangkan kejadian lumpuhnya PDN karena serangam ransomware.
"Jangan jaga negara dengan kualitas software setingkat satuan pengamanan," kata Anggoro.
Sebaiknya Anda baca juga:
Dalam menjaga keamanan data negara, harus memiliki standar baku yaitu selalu memiliki back up data. Kalau sampai tidak ada, itu sangat aneh dan mengherankan sehingga perlu dipertanyakan.
"Ini membingungkan melihat kondisi Indonesia seperti ini, tidak ada cyber security sama sekali. Tidak ada Disaster Recovery Center (DRC) yang seharusnya ada. Data center itu harus ada cyber security. Di negara lain yang sudah mengarah ke menggunakan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), sudah bisa meng-hack semua komputer dengan firewall berlapis-lapis pun bisa tembus," kata Anggoro.
Salah satu kesalahan pemerintah sehingga PDN diretas adalah karena menggunakan perangkat keamanan data dengan sistem yang usang dan rentan. "Kelemahannya sudah umum diketahui publik, tapi kok masih dipakai untuk data negara. Nah, ini menyangkut soal inkompetensi dan kelalaian yang luar biasa," katanya.
Window defender sendiri yang selama ini digunakan sudah seperti kabel kawat yang kelemahannya secara umum sudah diketahui. Masalah ini sudah delapan tahun dan belum selesai. Artinya, masalahnya sudah berlangsung selama delapan tahun, tapi tetap didiamkan.
"Sebenarnya bukan salah perangkatnya, tapi tergantung pemakainya, mau di-upgrade sistemnya atau tidak. Intinya, kelemahan ini sudah berlangsung lama, tapi kok masih dipakai oleh negara. Aneh. Ini masalahnya," tutur Anggoro.

Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!