Jelajahi Suasana Desa dengan Bersepeda
📅 Sabtu, 29 Jun 2024, 06:10 WIB | Oleh: Haryo BronoSejak itu pariwisata mulai bergerak dan usaha pelan-pelan berhenti apalagi dengan adanya peraturan desa yang melarang penambangan di sawah setelah perdebatan dengan para pengusaha. Ekonomi warga juga turut menggeliat seiring dengan terus bergeraknya sektor wisata di sana.
Bukan hanya mereka yang terlibat langsung dengan wisatawan saja yang mendapatkan tetesan keuntungan. Warga yang membuka warung yang menyediakan produk yang dibutuhkan wisatawan turut menikmatinya.
Tidak adanya truk tambang yang mengangkut galian C lewat karena dipaksa berhenti oleh peraturan desa membuat jalan bebas debu. Mereka yang dulunya pesimis, kini mulai berpartisipasi dalam kegiatan pariwisata.
Kearifan Lokal
Sebaiknya Anda baca juga:
Bukan hanya menawarkan hamparan sawah dan bekas tambang, potensi wisata lain yaitu budaya, kuliner, atraksi wisata, dan hingga kearifan lokal warganya disajikan. Pelancong bukan semata diajak bersepeda keliling desa dan menikmati kuliner, namun mereka pun diajak mengikuti kelas memasak, kelas terapi kebugaran, hingga berkebun tanaman herbal.
Kemampuan menyulap desa tambang menjadi Desa Wisata Hijau membuatnya dianugerahi mendapatkan penghargaan dari Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi sebagai Desa Wisata terbaik dalam ajang Desa Wisata Award 2017. Terpilihnya Desa Bilebante karena dinilai telah mampu menjalankan roda perekonomian melalui status sebagai Desa Wisata.
Bagi pengunjung yang ingin menginap, Desa Wisata Hijau Bilebante sudah tersedia fasilitas homestay. Selain itu, terdapat fasilitas lainnya seperti bumi perkemahan, kolam renang, Pasar Pancingan, jalur sepeda, serta sentra pelatihan UMKM pengolahan rumput laut.
Sebaiknya Anda baca juga:
"Homestay yang kami siapkan adalah rumah warga yang kami sulap menjadi penginapan yang nyaman. Udara yang sejuk dengan keramah tamahan warga desa siap makin membuat liburan berkesan," tulis laman bilebante.com.
Homestay milik warga Bilebante dipatok pada harga 300.000 rupiah per malam. Dengan tarif yang relatif terjangkau tersebut sudah mendapatkan fasilitas AC, LED TV, lemari, spring bed, menu sarapan, nasi goreng, roti bakar, teh, kopi, dan minuman sereh.
Ada pula destinasi lainnya yaitu Pasar Pancingan. Ketika berada di Pasar Pancingan, wisatawan diajak menikmati kuliner tradisional Lombok yaitu surabi rumput laut. Mereka juga diajak menikmati makanan seperti yang biasa disantap masyarakat suku Sasak, suku asli di pulau ini yang diolah secara tradisional.
Berangkat dari pengolahan bahan alam lokal secara tradisional oleh masyarakat setempat, produk UMKM Desa Bilebante mulai dikenal dan dilirik oleh para wisatawan. Hal ini dapat dilihat dari meningkatnya kunjungan wisatawan bukan untuk sekedar berkunjung namun bahkan belajar dari masyarakat setempat.
Saat ini wisatawan juga bisa menyewa kendaraan all terrain vehicle (ATV) dengan kapasitas dua orang. Fasilitas ini tentu saja memberi kemudahan bagi mereka yang ingin mengeksplorasi Desa Bilebante tanpa perlu mengayuh sepeda. hay/I-1
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!