Waspada! Predator Incar Anak-anak Lewat ‘Game Online’
📅 Sabtu, 22 Jun 2024, 12:30 WIB | Oleh: Tim PenulisTentu hal ini merupakan kekerasan seksual karena korban belum mengenal arti dari consent untuk mengirimkan foto pribadinya. Sang anak juga berada di bawah pengaruh kuasa pelaku berusia dewasa. Aksi semacam ini tergolong sebagai perilaku pedofilia.
Perlindungan anonimitas
Game online sebagai "ruang digital" memudahkan pedofil dan predator seksual lainnya untuk beraksi. Sebab, ruang digital ini memungkinkan pelaku untuk tetap berstatus "anonim", sehingga membuat pelaku lebih leluasa menjalankan aksi bejatnya.
Game online juga memungkinkan pedofil untuk berkomunikasi, berteman, berkencan dengan anak anak, termasuk menemukan, menyimpan dan mendistribusikan pornografi anak.
Sebaiknya Anda baca juga:
Bahaya rayuan gombal pedofil
Risiko lain yang harus diwaspadai dari game online adalah child grooming. Child grooming adalah pendekatan tanpa kekerasan oleh seseorang untuk memperoleh apa yang diinginkan, di antaranya akses terhadap seks dan juga kendali atas anak. Child grooming biasanya dilakukan para pedofil untuk membangun kedekatan, kepercayaan, dan hubungan emosional dengan anak (korban) untuk memudahkan pelaku kekerasan seksual mendekati korbannya.
Salah satu upaya child grooming yang biasa dilakukan pedofil adalah sweet talk. Mereka merayu korban, berpura-pura menjadi teman, bahkan menjadikan pacar dengan tujuan memanipulasi agar bersedia melakukan aktivitas seksual.
Sebaiknya Anda baca juga:
Selain grooming, anak-anak yang bermain game online bisa mendapatkan tekanan dari para pedofil agar melakukan hal yang mereka inginkan. Tekanan ini bisa dilakukan mulai dari menyuap korban, misalnya dengan membelikan 'senjata atau properti' dalam game, memberikan sejumlah uang, sampai meneror korban agar melakukan sesuatu yang diinginkan pelaku-memaksa korban untuk mengirim foto atau video yang mengarah pada pornografi. Mereka pun dapat mengancam untuk memberitahu orang lain atau menyebarkan foto/video tersebut jika korban tidak menuruti.
Ini terjadi, contohnya, dalam kasus kekerasan seksual menggunakan perantara game online Free fire. Dalam kasus ini, pelaku mendekati korban dengan iming-iming diamond-alat tukar premium dalam game tersebut untuk membeli karakter, senjata, maupun mendapatkan item game eksklusif.
Bagaimana melindungi anak dari pedofil di 'game online'?
Kejahatan seksual sangat mungkin berdampak psikologis secara jangka panjang bagi anak-anak. Karena itu, kita membutuhkan solusi untuk mencegah agar mereka tidak lagi menjadi sasaran kaum pedofil di ranah digital. Salah satu langkah yang dapat diambil adalah dengan menanamkan literasi digital pada anak.
Center for Digital Society, sebuah pusat kajian di Universitas Gadjah Mada yang berfokus pada isu masyarakat digital, mendefinisikan literasi digital sebagai bentuk kemampuan atau keterampilan seseorang dalam menggunakan dan memanfaatkan media digital, seperti media sosial, situs web, video online, aplikasi seluler hingga game online. Melalui literasi digital, anak tidak hanya mampu mengoperasikan peralatan teknologi digital, tetapi juga memanfaatkannya dengan cermat dan tepat. Hal ini mencakup kemampuan bersikap kritis dan menjaga privasi mereka di dunia digital dalam kehidupan sehari-hari di rumah.
Kita perlu mengajarkan anak-anak tentang pentingnya keamanan data pribadi saat mengakses aplikasi atau game online. Mereka juga perlu memahami etika di dunia digital. Sebab dalam setiap aktivitas di dunia maya, mereka dapat terhubung dengan orang lain melintasi batas budaya maupun wilayah geografis. Artinya, anak-anak perlu diajarkan bagaimana berinteraksi dengan orang lain yang mereka kenal di dunia maya.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!