Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Waspada! Predator Incar Anak-anak Lewat ‘Game Online’

📅 Sabtu, 22 Jun 2024, 12:30 WIB | Oleh: Tim Penulis
Waspada! Predator Incar Anak-anak Lewat ‘Game Online’ Doc: The Conversation/Shutterstock/Rawpixel.com
Ket. Sekelompok teman bermain ‘game’ di ponsel.

Andhika Ajie Baskoro, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN); Anissa Rizkianti, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN); Desy Nuri Fajarningtiyas, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN); Margareth Maya Parulianta Naibaho, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), dan Sari Kistiana, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN)

Keberadaan game online yang popularitasnya meningkat saat pandemi 2020 kian menjadi hal yang lumrah di masyarakat. Bahkan, industri game online memiliki pasar yang sangat luas di berbagai belahan dunia.

Data dari We Are Social, sebuah agensi media sosial dari Amerika Serikat menunjukkan bahwa Indonesia berada di peringkat ketiga (di bawah Filipina dan Thailand) sebagai negara dengan jumlah pemain game online terbanyak di dunia.

Data tersebut juga menunjukkan bahwa per Januari 2022, lebih dari 90% pengguna internet di Indonesia yang berusia 16-64 tahun merupakan pemain game online.

'Game online' dan anak-anak

Popularitas game online juga merambah pengguna usia anak-anak, khususnya di kelompok usia 6-12 tahun. Sebab, mereka mudah mengaksesnya melalui ponsel.

Seperti dua sisi koin, game online pada anak dapat berdampak positif dan negatif. Dampak positifnya, menurut UNICEF game online memicu anak untuk memiliki keterampilan penguasaan diri dan pengambilan keputusan, mengekspresikan diri, memberikan kesenangan karena telah melakukan pencapaian tertentu di dalam game, dan membangun hubungan dengan individu lain yang mereka temui dalam permainan tersebut.

Namun, di sisi lain, problem terkait kecanduan game online juga menjadi temuan di berbagai studi. Rilis tahun 2019 menyebutkan bahwa tingginya jumlah anak yang mengakses game turut mengerek angka anak yang kecanduan game online. Selain itu, studi tahun 2022 menunjukkan bahwa anak yang kecanduan game online memiliki risiko untuk terpapar konten-konten yang bernuansa kekerasan dan pornografi.

Selain risiko kecanduan, game online juga memungkinkan penggunanya bertemu dengan orang lain menggunakan game online sebagai kedok. Predator seksual, misalnya, kerap menggunakan game online sebagai medium untuk melancarkan aksi bejat mereka.

Bagi pengguna usia anak, risiko menjadi korban kekerasan seksual lebih tinggi karena game online memberikan kemudahan dan 'perlindungan' bagi pelaku kejahatan seksual melancarkan aksinya. Terlebih, korban belum mengenal konsep izin atau persetujuan (consent) sehingga lebih mudah dimanipulasi oleh pelaku yang biasanya berusia dewasa.

Kemudahan interaksi

Salah satu hal yang kerap luput dari pengawasan orang tua adalah kemudahan untuk menjalin komunikasi maupun relasi dengan siapapun melalui game online.

Kemudahan ini berisiko. Pasalnya, dengan kemampuan komunikasi dan proses berpikir yang masih berkembang, anak rentan dimanipulasi oleh orang dewasa yang ia temui di dalam game, sehingga tak jarang berujung pada kekerasan seksual.

Kasus terbaru terjadi pada seorang anak yang masih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD). Sang anak yang masih berusia 13 tahun bertemu dengan pelaku kekerasan seksual berusia 27 tahun. Pelaku dengan tipu dayanya meminta korban mengirim foto vulgarnya.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

DPR Merespons Berbagai Isu Terkini

40 menit yang lalu | Fajar Alim M

Nasional
DPR Merespons Berbagai Isu ...
Luar Negeri
Presiden Marcos Jr Desak Pa...
Luar Negeri
Thaksin Shinawatra Diberi P...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Murid Korban Kebakaran di Kemayoran Dapat 100 Paket School Kit dan Trauma Healing dari Kemendikdasmen

Murid Korban Kebakaran di Kemayoran Dapat 100 Paket School Kit dan Trauma Healing dari Kemendikdasmen

03 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.