Jejak-jejak Kehadiran Portugis di Thailand
📅 Senin, 10 Jun 2024, 06:10 WIB | Oleh: Haryo BronoApa yang tersisa dari Campos Portugues saat ini adalah reruntuhan Gereja San Petro dan lubang kuburan yang digali berisi kerangka pemukim Portugis yang diawetkan dan kini bisa dilihat hari ini di Taman Sejarah Ayutthaya yang berjarak 80 kilometer di utara Bangkok.
Setelah jatuhnya Ayutthaya oleh Burma, Raja Taksin (memerintah 1767-1782 M) memindahkan ibu kota sejauh 80 kilometer ke hilir ke kota garnisun Thonburi. Di sini raja tersebut mendeklarasikan Thonburi sebagai ibu kota baru.
Thonburi adalah pelabuhan bea cukai dan berlokasi strategis di tikungan Sungai Chao Phraya. Di ibu kota baru ini, Portugis diberi sebidang tanah di tepi sungai untuk memulai komunitas baru dan izin untuk membangun gereja Katolik bernama Gereja Santa Cruz atau Igreja de Santa Cruz dalam bahasa Portugis.
Warisan Budaya
Sebaiknya Anda baca juga:
Komunitas Kudeejeen di Thonburi saat ini tidak berada dalam jalur wisata yang baik. Terletak di Subdistrik Wat Kanlaya di Thonburi. Sedangkan masyarakat yang tinggal di sana saat ini sebagian besar adalah campuran umat Katolik, Muslim, dan Buddha Thailand.
Warisan budaya Portugis dapat dilihat pada fitur wajah orang Thailand yang tinggal di Kudeejeen (juga dikenal sebagai Baan Kudichin), dan berjalan menyusuri jalan-jalan dan soi (jalan kecil) sempit menuju Gereja Santa Cruz yang berwarna krem, salah satu gereja Katolik tertua di Bangkok.
Di bangunan ini akan terlihat sekilas azulejos Portugis (ubin keramik kaca tradisional) dan salib Kristen di pintu masuk dan pintu terbuka rumah-rumah jongkok di lingkungan tersebut. Gereja Santa Cruz bergaya Neoklasik Renaisans adalah jantung komunitas Kudeejeen dan cukup mengejutkan di kota yang dipenuhi kuil emas dan patung Buddha.
Sebaiknya Anda baca juga:
Gereja tersebut adalah salah satu dari sedikit sisa komunitas Portugis yang berkembang di kawasan Kudeejeen ratusan tahun lalu. Selain itu terdapat pula Museum Baan Kudichin.
Terletak di gang di Kudeejeen, museum ini berupa sebuah bangunan elegan dua lantai bergaya kolonial yang dulunya merupakan rumah sebuah keluarga Katolik. Untuk merayakan persahabatan antara Thailand dan Portugal, furnitur dan artefak bersejarah dari rumah-rumah Thailand-Portugis yang pernah ada di lingkungan tersebut hingga saat ini masih diga dan dilestarikan.
Terdapat pula sebuah kafe di lantai dasar di dalam museum di mana orang-orang dapat mencoba Sappayak Bun, roti gurih tradisional Portugis yang ditaburi asam jawa dan diisi dengan kentang, cabai, dan daging babi cincang. Masakan itu dimasak di atas tao atau pembakar arang gaya lama.
Di lantai dua terdapat pajangan yang berkaitan dengan kedatangan Portugis di Thailand dan pemukiman mereka di Ayutthaya dan Thonburi, serta peralatan kuno, peta dan ukiran, serta foto-foto sejarah. Atapnya memberikan pemandangan lingkungan Kudeejeen yang menakjubkan dengan menara Gereja Santa Cruz mendominasi lanskap.
Di Museum Baan Kudichin, akan dijumpai model plastik dari makanan dan tanaman yang diperkenalkan Portugis ke Thailand. Portugis memperkenalkan ubi jalar dari Brasil, serta singkong, pepaya, nanas, bunga matahari, kacang mete, dan cabai.
Di dinding di pintu masuk museum dan di dalam kafe, akan terlihat ayam jantan Portugis yang terkenal. Seperti banyak cerita rakyat yang diwariskan dari generasi ke generasi, legenda Ayam Jantan Barcelos (Galo de Barcelos) berubah tergantung siapa yang menceritakannya. hay/I-1
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!