Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Candi Jawi, Jejak Kemegahan Kerajaan Singasari

📅 Sabtu, 08 Jun 2024, 06:10 WIB | Oleh:
Candi Jawi, Jejak Kemegahan  Kerajaan Singasari Doc: Wikimedia

Bangunan Candi Jawi menjadi saksi bagi adanya agama sinkretisme antara Hindu dan Buddha yang dinamakan Siwa Buddha. Candi ini dibangun oleh Kertanegara, raja terakhir Singasari yang menganut agama itu.

Dalam kakawin Nagarakretagama karya Empu Prapanca pupuh 56 disebutkan bahwa Candi Jawi yang berada di Desa Candi Wates, Prigen, Pasuruan, didirikan oleh atas perintah Raja terakhir Kerajaan Singasari atau Singhasari, Kertanegara. Tujuannya untuk tempat beribadah aliran agama Siwa Buddha.

Raja Kertanegara merupakan raja terakhir Kerajaan Singasari yang memerintah antara 1268-1292 masehi. Dari kakawin tersebut dapat diketahui ia seorang penganut ajaran sinkretisme Siwa-Buddha. Ajaran ini merupakan campuran (sinkretisme) agama Hindu dan Buddha di Indonesia. Setelah Singasari runtuh, ajaran ini dilanjutkan dengan zaman Majapahit.

Ajaran Siwa Buddha juga dipaparkan dalam kakawin Sutasoma dan kakawin Arjunawijaya. Kepercayaan ini adalah pemujaan leluhur kawitan Majapahit. Pada era itu kerajaan itu kepercayaan ini menyebar di Nusantara, karena waktu itu para raja nusantara dan keluarganya menganut Siwa-Buddha.

Agama tersebut pertama kali diperkenalkan oleh kaum brahmana, biarawan dan pendeta berbagai sekte dan mazhab di India. Mereka datang ke Nusantara mengikuti rute perdagangan maritim yang telah dijalin sejak oleh kerajaan-kerajaan di tanah air.

Alasan Kertanegara membangun Candi Jawi jauh dari pusat kerajaan yang berada di Malang diduga karena di kawasan ini pengikut ajaran Siwa-Buddha sangat kuat. Rakyat di daerah itu sangat taat menjalankan ritual tersebut.

Sekalipun Kertanegara dikenal sebagai raja yang masyhur, ia juga memiliki banyak musuh di dalam negeri. Kidung Panji Wijayakrama misalnya menyebutkan terjadinya pemberontakan Kelana Bhayangkara. Negarakertagama bahkan mencatat adanya pemberontakan Cayaraja.

Ada dugaan bahwa kawasan Candi Jawi dijadikan basis oleh pendukung Kertanegara. Dugaan ini timbul dari kisah sejarah bahwa saat Dyah Wijaya, menantu Kertanegara, melarikan diri setelah Kertanegara dikudeta raja bawahannya, Jayakatwang dari Gelang-gelang (daerah Kediri). Ia sempat bersembunyi di daerah ini sebelum akhirnya mengungsi ke Madura.

Candi Jawi yang berjarak 33,5 kilometer dari pusat Kota Pasuruan saat ini berstatus sebagai cagar budaya karena memiliki arsitektur yang sangat indah. Bangunan ini awalnya hanya berupa reruntuhan. Setelah mengalami beberapa pemugaran, jadilah bentuk candi yang seperti sekarang ini.

Pemugaran pertama dilakukan pada masa Kerajaan Majapahit di bawah Ratu Tribhuwanatunggadewi. Pada 1938-1941, terdapat sebuah penelitian terhadap Candi Jawa yang dilakukan oleh Oudheidkundige Dienst atau Dinas Kepurbakalaan Hindia Belanda. Saat penelitian berlangsung, banyak bagian yang ditemukan rusak dan hilang, sehingga dilakukan pemugaran atau perbaikan kembali.

Pemugaran pertama dilakukan dari 1938-1941. Namun pemugaran ini tidak dapat dituntaskan karena banyak batu penyusun candi yang telah hilang. Pemugaran dilanjutkan pada 1975-1980. Hasilnya adalah bangunan candi yang dapat dilihat seperti saat ini.

Setelah pemugaran Candi Jawi terlihat memang utuh namun sebenarnya berkurang karena arca Batari Durga yang ada di candi ini kini disimpan di Museum Empu Tantular, Surabaya. Batari Durga adalah wujud Dewi Uma setelah dikutuk oleh Batara Guru. Batari Durga dititahkan untuk menjadi istri Batara Kala.

Arca lainnya disimpan di Museum Trowulan untuk pengamanan. Sedangkan arca Brahma, sudah tidak ditemukan lagi. Mungkin saja sudah hancur berkeping-keping atau dicuri oleh orang yang tidak bertanggung jawab.

Candi Jawi bentuk tinggi dan ramping dengan relief yang sedang rinci. Dimensinya berupa panjang 14,24 meter, lebar 9,55 meter, dan tinggi mencapai 24,5 meter. Bangunan ini menempati lahan yang cukup sempit yaitu 40 x 60 meter persegi.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Rona
Sering Melotot Belum Tentu ...
Daerah
RSUD Prambanan Ada Bau-bau ...
Daerah
Siswa Jalani Ujian Kenaikan...

Antisipasi Kemarau, Masa Tanam Dipercepat

27 menit yang lalu | Fajar Alim M

Ekonomi
Antisipasi Kemarau, Masa Ta...
Daerah
Cukup Bagus Hasil Penanaman...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Murid Korban Kebakaran di Kemayoran Dapat 100 Paket School Kit dan Trauma Healing dari Kemendikdasmen

Murid Korban Kebakaran di Kemayoran Dapat 100 Paket School Kit dan Trauma Healing dari Kemendikdasmen

03 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.