Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Hanya Ada Waktu 7 Tahun untuk Capai Pembangunan Berkelanjutan Terkait Air

📅 Rabu, 22 Mei 2024, 01:17 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Hanya Ada Waktu 7 Tahun untuk Capai Pembangunan Berkelanjutan Terkait Air Doc: ANTARA/NOVRIAN ARBI
Ket. POLUSI AIR HARUS SEGERA DISELESAIKAN - Sejumlah aktivis menaiki perahu untuk melihat kualitas air dari Sungai Citarum di Kabupaten Bandung, Jawa Barat, yang sebelumnya sangat tercemar. Polusi air menjadi tantangan mendesak yang harus diselesaikan guna mencapai target Sustainable Development Goals, SDGs, terutama air.

Negara-negara maju penyumbang emisi besar dan memiliki dampak iklim signifikan.

JAKARTA - Data Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menunjukkan bahwa dunia hanya punya waktu tujuh tahun untuk mengejar Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals, SDGs), terutama yang berkaitan dengan air.

Polusi air dan perubahan iklim sendiri menjadi tantangan mendesak yang harus diselesaikan guna mencapai target SDGs. Saat ini, sekitar empat juta orang hidup di wilayah krisis air dan satu dari empat kota menghadapi kerawanan air.

Sebab itu, diperlukan langkah signifikan untuk memastikan keamanan air bagi semua orang di dunia. Salah satunya melalui sejumlah kerja sama dan kebijakan, termasuk investasi dan pembiayaan yang besar. Infrastruktur air saja diperkirakan membutuhkan dana sebesar 6,7 triliun dollar AS pada 2030.

Menteri Keuangan (Menkeu), Sri Mulyani Indrawati, dalam sesi panel World Water Forum ke-10 tahun 2024 di Bali, mengatakan air adalah aspek penting dalam kehidupan masyarakat sehingga pemerintah mengalokasikan sekitar 3,4 persen belanja dari APBN.

Secara global, pada 2009, dunia hanya mengalokasikan 8,7 miliar dollar AS dalam bentuk bantuan pembiayaan untuk pembangunan air dan sanitasi. Jumlah tersebut tergolong kecil dibanding kebutuhan investasi tahunan di bidang air dan sanitasi yang jauh lebih besar.

Negara-negara berkembang tercatat menghabiskan sekitar 0,5 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) untuk air setiap tahunnya, dan hanya 70 persen dari anggaran tersebut yang dibelanjakan. "Jadi uangnya sudah kecil, penyerapan dan eksekusinya pun semakin kecil," katanya.

Oleh sebab itu, diperlukan peraturan yang jelas dan tepat dalam skema pembiayaan campuran atau blended finance guna menarik lebih banyak investasi di sektor air dan sanitasi.

Pakar konservasi tanah dan air dari Universitas Brawijaya, Didik Suprayogo, mengatakan untuk memastikan keamanan ketersediaan air, perlu upaya untuk mengatasi masalah lingkungan di kawasan hulu dengan melibatkan peran serta masyarakat.

"Pembenahan atau konservasi air ini bisa dilakukan dengan reboisasi, menyediakan daerah resapan, penataan kawasan pemukiman, dan lainnya. Langkah-langkah konservasi lingkungan seperti reboisasi lebih bermanfaat dan efektif mencegah bencana banjir," kata Didik.

Pemerintah juga bisa mendorong Pemda di hulu untuk menertibkan kawasan yang seharusnya jadi resapan. Hal itu akan jauh murah dan jelas bermanfaat bagi keberlanjutan lingkungan.

"Secara keilmuan akan lebih efisien dibanding pembenahan di hilir seperti membangun tanggul. Selain itu, dengan menjaga dan meningkatkan kandungan air tanah, dan debit sungai, akan meningkatkan daya desak air laut yang masuk ke sungai sehingga tidak sampai harus membuat tanggul," ujar Didik.

Negara Maju

Peneliti Lingkungan Hidup dari Sustainability Learning Center (SLC), Hafidz Arfandi, menegaskan perlunya upaya serius mengatasi masalah air ini dan yang paling bertanggung jawab adalah negara-negara maju.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Produksi Tembus 3 Juta Unit, Midea Perkuat Industri Elektronika Nasional
    Langkah ekspansif Midea dalam memperluas fasilitas manufaktur Residential ...
  • Industri Plastik RI Mulai Oleng! Produk China Banjir, Pabrik Mulai Kurangi Jam Kerja
    Artikel ini menyoroti akar masalah secara berimbang, di ...
  • ExxonMobil Dorong Efisiensi Operasional Tambang Melalui Teknologi Pelumasan
    Ulasan ini sangat membuka wawasan mengenai pentingnya pergeseran ...
  • Direksi OpenAI Peringatkan Industri Belum Siap Cegah Kehilangan Kendali Atas Kecerdasan Buatan
    Meskipun narasi tentang agen AI yang lepas kendali ...
  • Jamin Mutu MBG, Kemenperin Kawal Penerapan SNI Wajib Food Tray
    Langkah proaktif Kementerian Perindustrian dalam mewajibkan SNI untuk ...
Advertisement
IndoBuildTech Expo Detail Sidebar
Daerah
Surabaya Siapkan Sensor Pem...
Ekonomi
BNI Private Dinobatkan seba...
Advertisement
11 Event Jakarta September 2026 Wajib Masuk List, Ada Festival Dessert hingga Konser Musik

11 Event Jakarta September 2026 Wajib Masuk List, Ada Festival Dessert hingga Konser Musik

11 Sep 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.