Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Strategi BI Mencetak Uang Bisa Memperburuk Kondisi Perekonomian

📅 Sabtu, 18 Mei 2024, 00:04 WIB | Oleh: Tim Redaksi

Kedua, defisit neraca BI semakin membengkak sehingga menurunkan efektivitas BI dalam operasi moneter jangka panjang. Ketiga, aksi BI itu akan meningkatkan uang beredar karena upaya pembelian surat utang berlebih dan menimbulkan risiko inflasi.

"Saat ini inflasi masih rendah, tapi begitu terjadi tekanan inflasi, tidak menutup kemungkinan strategi BI cetak uang memperburuk situasi," jelas Bhima.

Sementara itu, Manajer Riset Seknas Fitra, Badiul Hadi, menegaskan kebijakan yang diambil BI itu berisiko terutama pada posisi utang negara.

Oleh karena itu, BI harus berhati-hati agar kebijakan yang sudah diambil betul-betul mempertimbangkan kesehatan keuangan negara. Terlebih sebagai otoritas keuangan tertinggi dan pemegang obligasi tertinggi BI harus mendorong agar pemerintah mengurangi utang.

"Tentu ini sangat rawan pada keuangan negara, apalagi di tengah tekanan yang kuat terhadap nilai tukar rupiah dan kondisi ekonomi global," tegas Badiul.

Pada kesempatan terpisah, pengamat ekonomi dari Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY), Y Sri Susilo, mengatakan posisi BI saat ini sebagai salah satu pemegang terbesar obligasi pemerintah dalam obligasi rupiah adalah konsekuensi dari intervensi pasar dalam sebulan terakhir untuk mempertahankan value rupiah.

Meskipun sukses, namun peningkatan kepemilikan obligasi oleh bank sentral dapat memicu inflasi. Jika BI mencetak uang untuk membeli obligasi, ini bisa meningkatkan jumlah uang beredar, yang pada akhirnya bisa meningkatkan harga barang dan jasa.

"Langkah intervensi yang terlalu besar juga bisa mempengaruhi kepercayaan investor. Jika pasar melihat bahwa BI terlalu banyak campur tangan dalam pasar obligasi, ini bisa dianggap sebagai tanda bahwa ekonomi sedang tidak stabil, yang bisa membuat investor asing enggan untuk berinvestasi," kata Susilo.

Selain itu, kebergantungan pada BI untuk menstabilkan pasar obligasi dapat menciptakan masalah di masa depan. Jika kondisi ekonomi memburuk dan BI harus terus membeli obligasi, maka akan memperlemah posisi fiskal pemerintah.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Mohon Dukungan Doa! Paus Leo XIV Akan Jalani Operasi Paru-paru di Roma
    Turut mendoakan, semoga operasinya berjalan baik dan lancar ...
  • Peringkat FIFA Melesat, Timnas Indonesia Dipastikan Lolos Langsung ke Putaran Kedua Kualifikasi Piala Dunia 2030
    Masa depan timnas kita sepertinya makin cerah, sangat ...
  • Kolaborasi Industri dan Akademisi Diperkuat, Seequent Dorong Kapasitas Geosains Indonesia
    How can collaboration between industry and academic institutions ...
  • Mengapa Tak Banyak Mahasiswa Asing yang Mau Kuliah di Indonesia?
    What factors might discourage international students from pursuing ...
  • Sangat Memprihatinkan Rumah Dinas TNI untuk Judol, Pelaku Kini Ditahan
    oknum2 begini ini yg bikin citra loreng jadi ...

Harga Cabai Rawit Rp105.300/Kg, Telur Ayam Rp29.700/Kg

1.5 jam yang lalu | Bambang Wijanarko

Ekonomi
Harga Cabai Rawit Rp105.300...
Megapolitan
Hingga Awal 2027, Stok Pupu...
Ekonomi
Mentrans Tawarkan Kolaboras...
Advertisement
Presiden Prabowo Subianto dan Fadli Zon Bahas Percepatan Revitalisasi Museum dan Keraton.

Presiden Prabowo Subianto dan Fadli Zon Bahas Percepatan Revitalisasi Museum dan Keraton.

13 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.