Petani Lada di Kamboja Merana akibat Gelombang Panas yang Menyengat
📅 Sabtu, 18 Mei 2024, 02:25 WIB | Oleh: Tim Penulis"Kami sudah bersiap. Kami tahu tentang perubahan iklim , kami sudah menyimpan air, kami membangun atap untuk melindungi lada kami dari cuaca panas, tapi semua itu tidak cukup," ucap dia.
Lada Kampot diketahui mendapat pengakuan global selama pendudukan kolonial Prancis di Kamboja ketika diekspor secara luas, namun industri ini hampir musnah selama era Khmer Merah. Dalam beberapa tahun terakhir, bumbu ini bangkit kembali dan menghiasi menu restoran terkemuka di seluruh dunia.
Lada Kampot tersedia dalam varietas hijau, hitam, merah, dan putih. Warnanya berubah seiring dengan kematangan bijinya.
Lay mengatakan konsumen tidak mengetahui kesulitan yang dihadapi petani lada Kampot, namun mereka akan segera melihat dampaknya. "Yang pasti, pada tahun 2024 dan 2025, kami tidak akan memiliki banyak lada untuk mereka makan," kata dia. AFP/I-1
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!