Petani Lada di Kamboja Merana akibat Gelombang Panas yang Menyengat
📅 Sabtu, 18 Mei 2024, 02:25 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: AFP/TANG CHHIN Sothy
Seorang petani Kamboja bernama Chhim Laem menggeleng-gelengkan kepalanya saat ia berjalan di antara barisan panjang semak-semak yang daun-daun menjadi coklat, mati dan kering karena panas terik, apalagi kekeringan itu telah menghancurkan tanaman lada Kampot yang terkenal miliknya.
Dikenal karena rasanya yang kuat, lada Kampot amat dicari oleh koki ternama di seluruh dunia dan dijual dengan harga hingga 200 dollar AS per kilonya.
Dipelihara selama beberapa generasi di dua provinsi di barat daya Kamboja, industri lada selamat dari genosida Khmer Merah dan ketidakstabilan selama beberapa dekade, namun kini menghadapi ancaman cuaca ekstrem yang dipicu oleh perubahan iklim.
"Tahun ini panas sekali, tidak ada hujan, dan kami tidak punya air untuk menyiram tanaman lada," kata Laem kepadaAFP. "Jadi mereka semua mati," imbuh dia.
Dalam beberapa pekan terakhir, Asia selatan dan tenggara dilanda panas terik akibat suhu yang mencapai rekor tertinggi hingga pemerintah terpaksa harus menutup sekolah-sekolah. Panas terik juga mengakibatkan banyak orang meninggal karena sengatan panas dan para petani berdoa agar segera turun hujan.
Sebaiknya Anda baca juga:
Para ilmuwan memperingatkan bahwa perubahan iklim yang disebabkan oleh ulah manusia akan menghasilkan gelombang panas yang lebih sering, lebih lama, dan lebih hebat. Di beberapa bagian Kamboja, suhu mencapai 43 derajat Celsius pada akhir April lalu setelah kekeringan selama enam bulan yang menyebabkan petani berada pada titik puncak kesulitan.
Laem, 55 tahun, menjelaskan seluruh tanaman lada miliknya yang berjumlah 264 pohon, musnah karena kekurangan air dan cuaca panas. Padahal produksi lada Kampot telah meningkat dalam beberapa tahun terakhir, didorong oleh langkah Uni Eropa yang melabeli rempah-rempah tersebut dengan "perlindungan indikasi geografis" pada 2016 yang berarti bahwa hanya lada yang ditanam di wilayah tertentu yang dapat disebut Kampot.
Tahun Terburuk
Sebaiknya Anda baca juga:
Wilayah Kampot memproduksi sekitar 120 ton merica pada tahun lalu, namun para petani mengatakan panas berlebih dan hujan menjadikan 2024 sebagai tahun terburuk yang pernah mereka alami.
Laem memperoleh penghasilan sekitar 1.000 dollar AS dari pertaniannya tahun lalu, namun mengatakan bahwa sekarang ini pendapatannya akan merosot tajam. "Saya sangat sedih, tapi saya tidak tahu harus berbuat apa," kata dia.
Sementara itu Nguon Lay, seorang petani lada generasi keempat, mengaku bahwa tahun lalu ia bisa memanen sembilan ton dari lahan pertaniannya yang seluas lima hektare. Namun petani berusia 71 tahun itu memperkirakan bahwa tahun ini ia tidak akan memanen apapun. "Tahun ini kita menghadapi kendala terbesar," kata dia.
Di awal musim, Lay mengatakan bahwa hujan deras telah menghancurkan bunga-bunga tanaman lada miliknya dan saat ini akibat kemarau panjang telah membuat banyak tanaman ladanya yang mati.
"Jadi ini tahun terburuk. Kami tidak tahu harus berbuat apa. Kami melihat ada masalah, tapi kami tidak bisa menyelesaikannya," kata Lay.
Seperti petani lainnya, Lay mengaku mengetahui permasalahannya berasal dari cuaca dan lingkungan. Beberapa kolam yang digunakan untuk menyiram tanamannya telah mengering dan para pekerjanya hanya bisa menyiram tanaman setiap lima hari sekali.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!