Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Upaya Tak Mudah Portugis Menguasai Afrika Timur

📅 Jumat, 17 Mei 2024, 06:10 WIB | Oleh:

Ketika semakin banyak koloni didirikan di India, Pantai Swahili berulang kali diserang dari pangkalan-pangkalan ini. Sebagai balasannya pada 1505, Kota Kilwa dihancurkan menjadi reruntuhan oleh meriam Portugis, diambil alih dan dibentengi kembali.

Benteng-benteng dibangun di sepanjang pantai Afrika Timur, terutama di Sofala pada 1505, Pulau Mozambik pada 1507, dan Shama pada 1526. Pada 1536, Pelabuhan Massawa di Kerajaan Abyssinia direbut.

Penguasa Abyssinia tidak terlalu kecewa dengan kekalahan tersebut karena mereka memperoleh senjata api dari orang-orang Eropa. Alat ini terbukti berguna dalam pertempurannya sendiri dengan pasukan saingan di wilayah tersebut.

Portugis sangat senang karena Abyssinia merupakan kerajaan Kristen dan sekutu melawan Afrika timur yang tampaknya didominasi Islam. Segalanya berjalan baik pada awalnya ketika, pada tahun 1543, Portugis membantu orang Etiopia mengalahkan tentara Ahmad ibn Ibrahim al-Ghazi (1506-1543), pemimpin Kesultanan Adal di utara.

Kelemahan yang lebih serius dalam kebijakan luar negeri Portugal di kawasan ini adalah kurangnya minat untuk membangun perjanjian perdagangan yang saling menguntungkan dengan kota-kota Swahili atau kerajaan-kerajaan di pedalaman Afrika.

Portugis hanya menggunakan pelabuhan-pelabuhan yang dikuasai Portugis pada dasarnya hanyalah sekedar tempat pengumpulan komoditas karena orang Portugis hanya ingin mengambil segala sesuatu yang bernilai dengan biaya sesedikit mungkin.

Seiring dengan bertambahnya kehadiran Portugis, mereka mengambil sikap yang lebih agresif terhadap pedagang saingannya. Kapal-kapal asing dirusak dan barang dagangan disita. Akibat dari kebijakan yang rakus ini adalah para pedagang berpindah ke utara dan pesisir Swahili yang ramai mengalami kemunduran yang parah.

Ketika para pedagang menjauh, Portugis kemudian melakukan hal terbaik berikutnya yaitu mencari barang di sumbernya. Untuk mencapai tujuan ini, pada 1530 mereka menaruh perhatian lebih besar pada Kerajaan Mutapa di ujung selatan (Zimbabwe utara modern dan Zambia selatan).

Masyarakat Shona di Mutapa yang berbahasa Bantu mewarisi jaringan perdagangan di wilayah tersebut dari pendahulunya, Zimbabwe Ray,a yang berjaya sekitar tahun 1100 hingga 1550. Barang-barang dari Mutapa seperti emas dan gading, diperdagangkan dengan Sofala, sebuah pos terdepan yang dikendalikan oleh Kota Kilwa di Swahili paling selatan. hay/I-1

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
gaia musik festival

Rona
Perubahan Cuaca Benarkah Da...
Megapolitan
Pembangunan SDM dan Pengemb...

Pantai Harus Tampak Indah, tak Boleh Kumuh

1 jam lalu | Aloysius Widiyatmaka

Daerah
Pantai Harus Tampak Indah, ...
Olahraga
Dua Petenis Terus Bersaing ...

Indonesia Turun Full Team Buat Kikis Kekuatan Vietnam

1.5 jam yang lalu | Aloysius Widiyatmaka

Olahraga
Indonesia Turun Full Team B...

Kapal Kandas karena Air Surut Dampak Kemarau Panjang

1.5 jam yang lalu | Aloysius Widiyatmaka

Megapolitan
Kapal Kandas karena Air Sur...

Piala AFF 2026: Laga Penentu Grup A, Vietnam Tak Punya Pilihan Selain Menang atas Indonesia

Piala AFF 2026: Laga Penentu Grup A, Vietnam Tak Punya Pilihan Selain Menang atas Indonesia

03 Aug 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.