Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Seberapa Burukkah Makanan Ultra-proses? Ini Penjelasan Para Ilmuwan

📅 Minggu, 12 Mei 2024, 11:32 WIB | Oleh: Tim Penulis
Seberapa Burukkah Makanan Ultra-proses? Ini Penjelasan Para Ilmuwan Doc: CNA/The New York Times/Casey Zhang
Ket. Daging asap, mi instan kering, irisan keju, hot dog, dan roti hot dog ditumpuk menjadi satu.

Pada pertengahan tahun 1990-an, Carlos Monteiro, seorang ahli epidemiologi nutrisi di Brazil, menyadari sesuatu yang mengkhawatirkan: Angka obesitas di kalangan anak-anak di negaranya meningkat pesat.

Untuk memahami alasannya, ia dan rekan-rekannya di Universitas Sao Paulo meneliti data pola pembelian makanan rumah tangga Brazil untuk melihat apakah pola tersebut telah berubah dalam beberapa tahun terakhir. Para peneliti menemukan bahwa masyarakat membeli lebih sedikit gula, garam, minyak goreng dan bahan pokok seperti beras dan kacang-kacangan, serta lebih banyak membeli makanan olahan seperti soda, sosis, mi instan, roti kemasan, dan kue kering.

Untuk mendeskripsikan kategori makanan kedua tersebut, kata Dr Monteiro, tim memperkenalkan istilah baru ke dalam literatur ilmiah- makanan ultra-proses, atau ultraprocessed foods (UPF ) - dan mendefinisikannya. Mereka kemudian menghubungkan UPF dengan penambahan berat badan pada anak-anak dan orang dewasa di Brasil.

Sejak itu, para ilmuwan telah menemukan hubungan antara UPF dan berbagai kondisi kesehatan, termasuk penyakit jantung, diabetes tipe 2, obesitas, penyakit gastrointestinal dan depresi, serta kematian dini.

Hal ini memprihatinkan, kata para ahli, karena makanan ultraproses telah menjadi bagian utama dari pola makan masyarakat di seluruh dunia. Misalnya, makanan ini menyumbang 67 persen kalori yang dikonsumsi oleh anak-anak dan remaja di Amerika Serikat.

Namun masih banyak pertanyaan yang tersisa. Apa sebenarnya makanan ultra-proses itu? Dan seberapa kuat bukti bahwa makanan itu berbahaya?

Apa Itu Makanan Ultraproses?

Untuk mempelajari makanan berdasarkan cara pengolahannya, Dr Monteiro dan rekan-rekannya mengembangkan sistem klasifikasi makanan yang disebut Nova, yang diambil dari kata "baru" dalam bahasa Portugis dan Latin. Sejak itu telah diadopsi oleh para peneliti di seluruh dunia.

Sistem Nova mengurutkan makanan ke dalam empat kategori:

1. Makanan yang tidak diolah atau diproses secara minimal, seperti buah-buahan dan sayuran segar atau beku, kacang-kacangan, lentil, daging, unggas, ikan, telur, susu, yoghurt tawar, nasi, pasta, tepung jagung, tepung, kopi, teh, serta bumbu dan rempah-rempah.

2. Olahan bahan kuliner, seperti minyak goreng, mentega, gula pasir, madu, cuka dan garam.

3. Pangan olahan yang dibuat dengan menggabungkan pangan Kategori 1 dengan bahan Kategori 2 dan mengawetkan atau memodifikasinya dengan cara yang relatif sederhana seperti pengalengan, pembotolan, fermentasi, dan pemanggangan. Kelompok ini mencakup roti yang baru dipanggang, sebagian besar keju dan sayuran kaleng, kacang-kacangan dan ikan. Makanan ini mungkin mengandung bahan pengawet yang memperpanjang umur simpan.

4. Makanan ultraproses yang dibuat menggunakan metode industri dan bahan-bahan yang biasanya tidak ditemukan di toko bahan makanan-seperti sirup jagung fruktosa tinggi, minyak terhidrogenasi, dan protein pekat seperti isolat kedelai. Sering kali mengandung bahan tambahan seperti perasa, pewarna atau pengemulsi untuk membuatnya tampak lebih menarik dan enak.

Pikirkan soda dan minuman energi, keripik, permen, yogurt rasa, margarin, nugget ayam, hot dog, sosis, daging untuk makan siang, makaroni dan keju kotak, susu formula dan sebagian besar roti kemasan, susu nabati, pengganti daging, dan sereal sarapan.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Industri Akomodasi Melaju Kencang, Efek Berganda Pariwisata Dinanti
    Membaca data penyerapan tenaga kerja hingga hampir 26 ...
  • Pasar Eropa Terbuka Lewat IEU-CEPA, Industri Tekstil Indonesia Punya Peluang Baru
    Artikel yang sangat mencerahkan. Sepakat dengan pandangan Kadin ...
  • Produksi Kapal Baru RI Melonjak 251 Persen, Menperin: Negara Maritim Jangan Kalah di Laut Sendiri
    Menanggapi lonjakan produksi kapal baru hingga 251 persen ...
  • Bidik Transformasi Industri Indonesia, Danantara Gelar Forum Teknologi dan Investasi Global
    Fokus Danantara pada industrialisasi inovasi dalam forum DTIIF ...
  • Produksi Dipangkas 50 Persen, Industri Keramik Terancam Lumpuh Gara-Gara Gas!
    Membaca kondisi industri keramik yang terpaksa memangkas kapasitas ...
Advertisement
Homedec Detail Sidebar
pasang iklan di koran jakarta
pasang iklan di koran jakarta
Advertisement
Sabet 14 Medali Sehari, Indonesia Makin Kokoh di 9 Besar Asian Para Games 2026

Sabet 14 Medali Sehari, Indonesia Makin Kokoh di 9 Besar Asian Para Games 2026

23 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.