Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Museum Benteng Vredeburg, Bergerak Mengikuti Zaman

📅 Sabtu, 11 Mei 2024, 06:10 WIB | Oleh:
Museum Benteng Vredeburg,  Bergerak Mengikuti Zaman Doc: MUSEUM BENTENG VREDEBURG YOGYAKARTA

Revitalisasi dengan pendekatan revolusioner yang sedang berlangsung akan menampilkan wajah baru Museum Benteng Vredeburg tanpa meninggalkan aspek kelestarian. Hasilnya untuk menarik generasi muda berkunjung, mengetahui peristiwa sejarah yang terjadi di Yogyakarta.

Saat menyusuri Jalan Malioboro akan menemukan simpang empat yang menjadi Titik Nol Kilometer Yogyakarta. Berada di tengah perempatan, titik ini di antara Jalan Margo Mulyo dari sisi utara, Jalan Panembahan Senopati dari sisi timur, Jalan Pangurakan dari sisi selatan, dan Jalan KH Ahmad Dahlan sisi sisi barat.

Titik Nol Kilometer Yogyakarta sudah ada pada masa Hamengkubuwana I, setelah disepakatinya Perjanjian Giyanti pada 13 Februari 1755. Raden Mas Sujana setelah dewasa bergelar Pangeran Mangkubumi mulai membangun keraton Yogyakarta di wilayah hutan Pabringan pada tahun yang sama.

Kawasan ini menjadi bagian dari sumbu imajiner Yogyakarta yang menghubungkan antara Gunung Merapi dengan Keraton Yogyakarta. Di lokasi ini berdiri beberapa bangunan peninggalan kolonial yang sekaligus menjadi tetenger atau penanda Kota Yogyakarta.

Di timur laut Titik Nol Kilometer Yogyakarta berdiri dengan kokoh Benteng Vredeburg dengan nama Jawa Loji Gede yang berada di sebelah tenggara Bank Indonesia dan Societeit Militaire, dan Kantor Pos. Di barat daya terdapat Kantor BNI 1946. Di barat laut Gedung Agung dengan nama Jawa Logi Kebon dan Gereja Ngejaman (GPIB Margamulya) yang dikenal dengan nama Loji Kebon.

Dari beberapa bangunan tersebut, Benteng Vredeburg merupakan yang tertua. Proses pembangunan dimulai dari 1760 berupa bentang sederhana berbentuk bujur sangkar. Selanjutnya pada 1765 dibuat lebih permanen agar lebih menjamin keamanan atas persetujuan sultan dengan nama Rustenburg yang artinya "Benteng Peristirahatan".

Gempa dahsyat di Yogyakarta pada 1867 merobohkan beberapa bangunan besar seperti Gedung Residen, Tugu Pal Putih, termasuk Benteng Rustenburg. Bersama bangunan yang lain, benteng ini dibangun kembali dengan nama Vredeburg yang berarti Benteng Perdamaian. Nama ini diambil karena antara Kesultanan Yogyakarta dengan pihak Belanda yang tidak saling menyerang ketika itu.

Sebenarnya pembangunan Benteng Vredeburg oleh Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) bertujuan untuk mengontrol kesultanan meski hal ini tidak diungkapkan secara nyata. Sebelumnya di Surakarta pada zaman Mataram Islam, VOC juga membangun Benteng Vastenburg untuk tujuannya yang sama.

Setelah sekian lama, keadaan bentang itu cukup memprihatinkan. Bangunannya banyak yang rusak sehingga perlu diperbaiki agar tidak semakin parah. Pada 9 Agustus 1980 diadakan penandatanganan piagam perjanjian tentang pemanfaatan bangunan bekas Benteng Vredeburg oleh Sri Sultan HB IX dan Mendikbud Dr Daoed Joesoef.

Pertimbangannya, bangunan bekas Benteng Vredeburg tersebut merupakan bangunan bersejarah yang sangat besar artinya. Maka pada 1981, bangunan bekas Benteng Vredeburg ditetapkan sebagai benda cagar budaya berdasarkan Ketetapan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI Nomor 0224/U/1981 pada 15 Juli 1981.

Melalui Surat Keputusan Mendikbud RI Nomor 0475/O/1992 tanggal 23 November 1992 secara resmi di Benteng Vredeburg yang memiliki luas 46.574 meter persegi yang menjadi Museum Khusus Perjuangan Nasional dengan nama Museum Benteng Yogyakarta, dilakukan pemugaran.

Masih dengan nama tersebut, kini bangunan cagar budaya ini dikelola oleh Indonesian Heritage Agency (IHA) di bawah Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) kembali kembali direvitalisasi. Dengan biaya 50 miliar rupiah, proses revitalisasi rencananya akan selesai dan diresmikan pada 16 Mei 2024 ini.

Revitalisasi dilakukan dengan tidak meninggalkan aspek kelestarian. Bangunan benteng dan gedung di dalamnya dicat agar terlihat lebih apik. Langit-langitnya diganti dengan beberapa bahan dari kayu dengan kisi-kisi yang menarik. Pencahayaannya ditingkatkan untuk menunjang visibilitas dan adanya penyejuk udara untuk menunjang kenyamanan.

Penanggung Jawab Unit Museum Benteng Vredeburg, M Rosyid Ridlo, mengatakan bahwa revitalisasi tidak merubah bangunan benteng dan gedung-gedung di dalamnya. "Bangunan bentang secara fasad masih sama tidak ada yang berubah," kata dia pada 27 April lalu.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
jakartafair2026

Ekonomi
Sentimen The Fed Masih Domi...
Olahraga
Naomi Siap Hadapi Elise Mer...
Ternyata Gara-Gara Ini, Taufik Hidayat Pelaku Penyekapan Perempuan hingga Buta di Bandung Berhasil Diciduk

Ternyata Gara-Gara Ini, Taufik Hidayat Pelaku Penyekapan Perempuan hingga Buta di Bandung Berhasil Diciduk

24 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.